Please Love Me

Please Love Me
Bab 228


__ADS_3

Liora menghubungi Ronald tapi tidak kunjung dijawab oleh pria itu hingga panggilan berakhir, seketika membuat Liora kesal.


"Dia sendiri yang bilang, jika sudah sampai aku harus menghubunginya, tapi dia juga yang tidak juga menjawab panggilanku," gerutu Liora pada ponsel yang tidak bersalah.


Hingga tak lama kini ponsel Liora berdering, bukan panggilan biasa melainkan video. Liora mengulum senyum, mengangkat ponselnya hendak menjawab panggilan itu, tapi tidak jadi dan meletakkan ponselnya kembali. Dia ingin Ronald merasakan apa yang tadi dirasakannya. Panggilan pertama tidak menjawab, kedua juga tidak dan barulah ketiga kalinya Liora menjawab panggilan itu tapi dirinya mengatur agar yang Ronald lihat kamera belakang bukan wajahnya.


Begitu terhubung, Liora tersenyum melihat Ronald yang sepertinya baru selesai mandi, terlihat jika rambut pria itu masih basah.


"Masa kamu nyuruh aku buat lihat dinding sih baby," kata Ronald.


Liora hanya tersenyum, padahal jelas Ronald tidak akan bisa melihat senyumannya.


"Ayolah baby, aku ingin melihatmu, baru tadi berpisah rasanya aku sudah merindukanmu."


"Dasar pria buaya, bisa saja kalau merayu," ucap Liora dan Ronald hanya terkekeh di seberang telepon.


"Walau buaya tapi kamu cinta kan?" Ucapnya tersenyum.


"Tidak, kata siapa?" 


"Tinggal mengaku saja, apa susahnya sih by?" Ucap Ronald yang berpura-pura merajuk.


"Iya, iya."


"Iya apa?"


"Yah itu!"


"Itu?"


"Ronald aku sedang tidak ingin bercanda," Liora menatap kesal Ronald.


"Aku juga sedang tidak bercanda by! Oh ya tadi bagaimana? Mami dan Papimu tidak bertanya-tanya yang tidak-tidak kan? Rasanya aku ingin datang dan meminta restu mereka secepatnya, aku ingin kita terang-terangan menjalani hubungan ini," kata Ronald lirih.

__ADS_1


"Sabar ya, sementara kita sembunyikan dulu, nanti kalau waktunya tepat, kita baru sampaikan. Lagian kamu tahu jika Kak Max tidak begitu menyukaimu, jadi please tunggu!" Jawab Liora yang berusaha menenangkan kekasih barunya itu.


Mereka pun kini mengganti topik pembicaraan mereka, saling menceritakan tentang diri masing-masing. Bahkan kini Liora sudah merubah posisinya bersandar pada headboard dengan kedua kaki yang ditekuk, dan menaruh bantal di atasnya mengamati Ronald yang lebih banyak bercerita dibanding dirinya.


*


*


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis menatap ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, sambil terus menerus meneteskan air matanya. Dengan cepat gadis itu menghapusnya takut jika sang ibu melihatnya. Tangannya satunya menggenggam erat tangan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya seorang diri tanpa sosok seorang pendamping. Di ulurkan tangan yang tadi digunakan untuk menghapus air matanya ke wajah pucat wanita yang berbaring itu. Hingga dia terkejut karena wanita itu kini justru terbangun.


Wanita itu tampak tersenyum, satu tangan yang bebas meraih wajah cantik putrinya.


"Ibu bilang jangan menangis," kata wanita itu lemah dan sukses membuat kini air mata yang sedari tadi menumpuk di pelupuk mata gadis itu kembali turun dan kali ini lebih deras dari sebelumnya.


"Ibu," ucapnya lirih mencium tangan yang digenggamnya dengan penuh sayang. 


"Apa kamu sudah memberitahu adikmu jika kita akan pulang?" Tanya wanita itu.


Gadis itu hanya mengangguk, lidahnya terasa keluh tidak bisa mengatakan apapun.


Perkataan gadis itu langsung terpotong ucapan sang ibu.


"Ibu hanya ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak ibu, kamu dan Lily, ibu ingin berada di dekat kalian sebelum ibu benar-benar pergi meninggalkan kalian. Ibu juga tidak ingin hari-hari ibu terbuang sia-sia hanya berbaring di tempat ini." Kata wanita itu yang kini menatap ke arah langit-langit rumah sakit, dan tiba-tiba air mata keluar dari sudut mata wanita itu.


Dahlia pun menghela nafas panjang, kemudian mengeratkan genggamannya, menghapus air mata sang ibu, menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga, hingga tidak menutupi wajah pucatnya.


"Iya, apapun yang Ibu mau, pasti Dahlia lakukan," ucap gadis itu dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Dia harus kuat, agar ibunya juga kuat.


"Kamu tidak mengatakan pada Lily yang sebenarnya kan?" Tanya wanita itu menunggu jawaban Dahlia.


Dahlia menggeleng, "Tidak, Ibu tenang saja, aku hanya bilang ke Lily kalau Ibu sangat merindukannya. Ibu tahu, sekarang perut Lily sudah membesar, dan Ibu harus sembuh, agar melihat cucu ibu lahir ke dunia." Ucap Dahlia dan mengamini dalam hati.


Mendengar kata cucu, wanita itu mengangguk semangat, dirinya berharap bisa bertahan sampai cucunya lahir, wanita itu juga berharap agar putri pertamanya, segera menemukan pendamping hidup yang menyayanginya, agar dia bisa tenang sebelum pergi meninggalkan keduanya.

__ADS_1


*


*


"Sudah belum sayang?" Jason membuka pintu kamarnya, melihat sang istrinya sudah siap atau belum.


"Sebentar lagi," jawab Lily yang kini tengah mengambil tasnya.


"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu di mobil ya," ucap sang suami yang kemudian melangkah menjauh setelah mendapat persetujuan Lily.


Lily yang sudah selesai pun buru-buru keluar dari kamarnya. Mengunci pintu dan berjalan keluar berpamitan pada pelayan jika dirinya akan pergi dan segera menghampiri mobil Jason yang kini sudah terparkir rapi di halaman tepatnya di depan pintu utama.


Lily membuka pintu dan buru-buru masuk lalu memasang seatbeltnya. Lily menoleh ke arah Jason yang sudah duduk di dalam kursi kemudi.


"Sudah sayang kita jalan sekarang," pinta Lily pada pria itu. 


Jason hanya menurut dan menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit dan setelahnya mereka akan pergi ke rumah lama istrinya. Semalam istrinya merengek ingin kesana, sekalian beberes  karena ibu dan kakaknya akan kembali.


Awalnya Jason tidak setuju dengan permintaan istrinya. Tapi setelah mendengar rengekan istrinya yang  sudah  seperti  anak  kecil, membuat dirinya tidak tega dan akhirnya menyetujuinya, asalkan Lily tidak kelelahan. Tapi tetap saja, Jason tidak tenang membiarkan istrinya sendiri, hingga dia pun meminta seseorang untuk menemaninya, dan istrinya itu sama sekali tidak tahu, jika dirinya melakukan itu, Lily hanya tahu jika Jason sudah mengijinkannya. Jadi mereka akan ke rumah sakit dulu dan setelah itu barulah Jason akan mengantarkan sang istri ke rumah lamanya.


Tak lama mobil yang Jason kendarai kini telah sampai di pelataran rumah sakit. Jason segera memarkirkan mobilnya. Kemudian turun dan berlari kecil untuk membukakan pintu istrinya. 


"Hati-hati," ucap Jason menaruh telapak tangannya di atas kepala Lily agar wanitanya itu tidak terbentur. 


Lily tersenyum kemudian turun perlahan.


"Ya sudah ayo!" Kata Jason menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam. 


Lily mengangguk dan keduanya pun kini berjalan menuju ke dokter kandungan tempat biasanya Lily memeriksa.


Jason meminta istrinya duduk, sambil menunggu namanya dipanggil.


"Sebentar ya sayang," ucap Jason yang kemudian meninggalkan istrinya untuk menelpon seseorang.

__ADS_1


Saat Jason selesai telepon, dia pun segera kembali dan bersamaan nama sang istri yang kini dipanggil, Jason pun menghampiri istrinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan dokter.


__ADS_2