
"Kamu?" Kata Lily menunjuk pria yang duduk tepat di depannya
Sementara pria itu hanya mengernyitkan dahi menatap heran pada wanita di depannya. Karena pria itu merasa tidak pernah mengenal wanita itu.
"Siapa ya?" Ucap orang itu menanggapi Lily.
Setelah pesanannya dibuatkan Jason mengedarkan pandangannya mencari sang istri dan Jason berjalan cepat saat istrinya menunjuk seorang pria yang sudah duduk di depan istrinya. Buru-buru Jason melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka.
"Ada apa sayang?" Tanya Jason meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.
Lily menarik Jason dan meminta suaminya berbalik badan.
"Dasar aneh," ucap pria itu mengambil nampan yang tadi dibawanya dan berjalan pergi meninggalkan wanita yang menurutnya aneh. Memutuskan untuk mencari tempat duduk lain yang sekiranya jauh dari tempat wanita itu.
"Dia kan orangnya?" Tanya Lily kepada sang suami menunjuk pria yang kini berjalan pergi.
"Maksudnya?"
"Itu sayang, dia kan orangnya? Kekasih Kak Liora?" Kata Lily menunjuk seorang pria yang kini sudah duduk di posisi yang cukup jauh darinya.
"Mana?"
"Itu yang tadi duduk di depanku, aku akan menghampirinya," kata Lily kemudian bangun dan hendak menghampiri pria itu, tapi Jason segera menahannya.
"Tidak perlu sayang, biarkan saja," ucap Jason berusaha mencegahnya.
"Tapi…"
"Sudah, lebih baik kita makan," kata Jason menyuruh istrinya untuk kembali duduk.
"Baiklah," pasrah Lily yang hanya bisa menuruti perintah suaminya, tapi tidak dengan pandangannya yang terus tertuju pada seorang pria yang duduk dengan posisi membelakanginya.
"Mau nambah?" Tanya Jason begitu melihat piring istrinya yang tiba-tiba saja sudah kosong.
Lily mengangguk antusias, "Iya aku mau nambah, ini enak banget sayang," ucap Lily dan Jason pun hanya tersenyum.
"Ya sudah aku pesan lagi ya," Jason pun berdiri tapi tangan Lily kini berada di atas tangan Jason hingga membuat suaminya itu menoleh.
"Hmm tidak jadi deh," kata Lily tiba-tiba.
__ADS_1
Jason mengernyitkan dahinya bingung, padahal tadi istrinya begitu sangat ingin menambah makanannya tetapi mendadak tidak mau.
"Aku takut nanti jadi gendut," ucap Lily dengan suara teramat pelan.
Jason mengusap rambut Lily, dan berkata, "Tidak apa-apa sayang, lagian kamu makan untuk berdua dengan anak kita, walaupun nanti gendut kurasa tidak masalah, karena aku mencintaimu, memang karena itu kamu, mau gendut mau kurus, aku tetap cinta sama kamu," kata Jason yang langsung membuat senyum terbit di sudut bibir Lily.
"Ya sudah aku pesan lagi ya," Jason segera bangun dan meninggalkan Lily, setelah istrinya itu mengangguk setuju.
Sambil menunggu suaminya yang memesan makanan lagi, Lily pun menatap pria yang masih berada di sana. Lily berjalan menghampiri pria itu sambil mengingat-ingat siapa nama pria itu, Lily menjentikan kedua jarinya begitu mengingat nama pria itu.
Lily berjalan pelan, lebih tepatnya mengendap-endap takut pria itu akan kabur lagi. Begitu dirinya sudah di belakang pria itu. Dengan keras Lily menepuk bahunya hingga…
Byur
Uhuk
Uhuk
Pria itu menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya hingga terbatuk-batuk, untungnya gelas yang dipegang pria itu tidak terlepas dari tangannya.
"Maaf-maaf," buru-buru Lily mengambil minuman yang tadi diletakkan pria itu, di atas meja, dan menyerahkannya kepada pria itu.
Lily mengambil tisu dan memberikan pada pria itu, saat dia sudah berhenti batuk. Pria itu menatap tajam Lily dan mengambil tisu yang Lily berikan dengan kasar.
"Apa sih yang sebenarnya kau mau? Aku sedang tidak mood untuk melayanimu," ucapnya datar.
"Maaf, maaf aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud, aku tidak tau jika kau sedang minum," ucap Lily merasa bersalah, menangkupkan kedua tangannya meminta maaf pada pria itu.
Ronald melirik Lily tajam, bangun dari duduknya dan hendak berlalu pergi.
"Ronald kau Ronald kan?" Panggil Lily dengan suara yang cukup keras membuat pria yang dipanggil Ronald itu langsung berhenti melangkah.
Pria itu berbalik dan kembali menghampiri Lily, "Kau siapa? Kenapa kau tahu namaku? Atau jangan-jangan kau penguntit?" Ronald menatap Lily dengan pandangan menyelidik.
"Bukan, bukan kau salah paham, aku…"
"Kau minta uang berapa?"
Lily langsung mengambil gelas dimana ada sisa minuman Ronald tadi dan langsung menyiramkannya ke wajah Ronald. Wajah Ronald yang sudah kering kini harus kembali basah karena ulah Lily.
__ADS_1
"Dasar pria sombong, mau-maunya Kak Liora sama pria sepertimu," ucap Lily kemudian pergi melewati Ronald begitu saja.
Ronald yang akan meluapkan amarahnya saat tiba-tiba wajahnya disiram begitu saja, mengurungkannya saat mendengar nama gadis yang membuat pikirannya kacau.
"Tunggu, apa maksudmu? Liora? Maksudmu Eliora? Kau mengenalnya?" Kata Ronald menahan tangan Lily.
"Cepat jawab!" Pinta Ronald yang tidak sabar menunggu jawaban Lily.
Lily menepis tangan Ronald, mengangkat dagu, dan berkacak pinggang.
"Tentu saja aku mengenalnya," jawabnya dengan gayanya yang angkuh.
"Kau siapanya dia? Apa kau sangat mengenalnya?" Tanya Ronald yang sepertinya penasaran tentang Liora.
"Kamu mau bayar berapa?" Tanya Lily kemudian.
"Kau berniat membohongiku? Atau jangan-jangan kau ada niat untuk memerasku, dan kebetulan nama yang kau sebut tadi aku juga mengenalnya?"
"Apa? Jadi sekarang kau menuduhku? Tunggu!" Kata Lily mengambil ponselnya dia teringat pada foto yang mereka ambil saat pernikahan ayah dan ibunya.
Lily membuka galeri di ponselnya, mencari foto dirinya dan Liora kemudian menunjukkannya pada Ronald.
"Lihat nih! Sekarang kau masih bilang aku berbohong?"
"Sudah cukup!" Lily buru-buru merebut ponselnya yang ada di tangan Ronald dan kembali memasukkan ke dalam tas kemudian melangkah meninggalkan Ronald.
"Berapapun yang kamu mau akan aku bayar, asal kamu memberitahuku semua tentang Liora," ucap Ronald.
Lily tersenyum dalam langkahnya, kemudian berbalik.
"Kemarikan ponselmu," Lily menengadahkan tangannya, meminta ponsel Ronald, dan Ronald pun hanya bisa menurutinya.
Diambil ponsel yang dikantonginya, dan diberikannya kepada Lily.
Lily memencet-mencet angka di layar ponsel pria itu, kemudian segera memberikannya kembali pada Ronald dan Lily segera berjalan cepat menuju tempat duduknya tadi, apalagi saat Lily sudah melihat suaminya selesai dengan makanan pesannya.
Ronald hanya mengernyitkan dahi bingung pada Lily yang tiba-tiba pergi dan ponsel yang sudah kembali ada di tangannya. Ronald kira Lily akan meminta ponselnya dan akan mengatakan tentang Liora padanya. Tapi dia justru pergi meninggalkannya.
Ronald akan menghampiri Lily, tapi berhenti saat dia melihat ada seorang pria yang duduk di depan gadis itu. Tapi tiba-tiba Ronald melihat Lily mengisyaratkan padanya dengan menempelkan ibu jari dan jari kelingkingnya di telinga, yang tak lain adalah menyuruh pria itu untuk menghubunginya.
__ADS_1