
"Sayang aku berangkat dulu," pamit Jason pada Lily yang mengantarnya ke bandara bersama Al.
"Iya, jaga kesehatan disana! Dan cepat pulang," kata Lily yang sebenarnya berat jika harus ditinggalkan Jason, apalagi kali ini perjalanan bisnis Jason bukan ke luar kota lagi, tapi keluar negeri.
"Iya sayang, aku akan menyelesaikan pekerjaan secepatnya biar bisa cepat pulang juga, aku juga tidak mau terlalu lama meninggalkanmu," kata Jason mengelus lembut wajah istrinya.
"Baiklah, oh ya mana sekretarismu kenapa belum kelihatan, bukankah jadwal keberangkatan sebentar lagi?" Tanya Lily mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak merasa sedih lagi.
Al hanya duduk diam sibuk dengan pikirannya sendiri, membiarkan pasangan suami istri itu.
"Entahlah," jawab Jason hingga tiba-tiba, seorang gadis menghampiri mereka.
"Liora?" Ucap Jason dan Lily bersamaan.
"Kenapa? Aku tidak terlambat bukan?" Tanya Liora yang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kenapa kau yang ada disini?" Tanya Jason menatap Liora. Sementara Lily memperhatikan interaksi keduanya.
Lily mundur, tapi dengan cepat Jason menahan untuk tetap di tempatnya.
"Mulai hari ini aku akan menjadi sekretaris Kak Jason, dan Kak Vano juga sudah menyetujuinya.
"Tapi kau…"
"Aku bisa, apa Kak Jason meremehkan kemampuanku?"
"Bukan seperti itu, tapi…"
"Kita masuk sekarang, sudah ada panggilan," kata Liora lagi memotong ucapan Jason.
"Sayang aku berangkat dulu," pamit Jason dan Jason segera mencium bibir istrinya sekilas, benar-benar hanya sekilas.
Lily hanya bisa menatap kepergian suaminya dan seorang gadis yang pernah ada dihatinya.
"Kenapa? Bukankah gadis itu, putri Paman William?" Tanya Al yang berjalan menghampiri adiknya yang diam mematung.
"Iya, Kak aku mau ke tempat Ibu," ucap Lily kemudian, begitu tidak melihat lagi suaminya dan Liora.
"Baiklah, Kakak akan mengantarmu, setelah itu Kakak akan langsung meninggalkanmu, Kakak akan ke kampus, nanti kalau kau sudah selesai kamu telepon supir saja untuk menjemputmu," kata Al kepada adiknya.
Dan Lily hanya mengangguk lemah.
Keduanya keluar menuju mobil Al dan setelah masuk Al pun mulai menjalankan mobilnya ke tempat Vega.
__ADS_1
Di dalam perjalanan Al terus melirik ke arah adiknya yang hanya diam saja sambil menatap keluar jendela.
"Kenapa?" Tanya Al memecah keheningan, melihat Lily yang seperti itu membuat Al merasa aneh, Lily tidak seperti Lily yang biasanya.
Lily hanya menggelengkan menjawab pertanyaan Al, kemudian dia kembali dengan lamunannya.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di gang tempat Dahlia dan Ibunya tinggal. Lily pun kemudian turun. Al melajukan kembali mobilnya setelah melihat adiknya masuk ke dalam rumah Vega.
"Kenapa?" Tanya Dahlia melihat adiknya yang tampak lesu, tidak bersemangat sama sekali.
"Tidak apa-apa," jawab Lily yang kemudian duduk di kursi ruang tamu.
Dahlia perhatikan ada yang beda dengan adiknya, tapi Dahlia tidak mau memaksa Lily bercerita jika memang adiknya itu belum mau menceritakannya.
"Jason sudah berangkat?" Tanya Dahlia yang kini sudah duduk di samping Lily.
"Sudah," jawab Lily singkat.
Dan jawaban Lily, membuat Dahlia yakin jika terjadi sesuatu dengan adiknya.
"Ibu dimana?" Tanya Lily mencoba mengalihkan pembicaraan, agar kakaknya tidak bertanya lagi tentang suaminya yang justru membuat Lily akan semakin kepikiran.
"Di dapur, Ibu sedang memasak makanan kesukaanmu, saat tahu kamu akan datang, Ibu begitu antusias, pagi-pagi sekali dia keluar berbelanja," beritahu Dahlia.
"Benarkah? Tanya Lily dengan pandangan berbinar.
"Baiklah, aku ke dapur dulu," pamit Lily kemudian menuju ke dapur, di sana, dilihatnya sang ibu memakai apronnya, sedang berkutat dengan peralatan dapur.
Lily diam memperhatikan, tanpa sadar air matanya jatuh, andai saja, pemandangan itu terjadi sejak dulu pasti…, Lily segera menghapus air matanya.
"Kenapa aku harus berandai-andai, bukankah sekarang sudah kurasakan," gumamnya kemudian menarik sudut bibirnya ke atas dan menghampiri Vega memeluknya dari belakang.
"Ibu, Ibu sedang memasak apa?" Tanya Lily sambil melihat apa yang Vega masak.
"Ini Ibu masak makanan kesukaanmu, kamu baru datang," kata Vega mematikan kompor dan kini berbalik menatap putri yang sudah dibesarkannya.
"Hmm iya baru saja, terus kata Kak Lia, Ibu di dapur ya sudah, aku langsung saja kesini.
"Hmm ada yang bisa aku bantu Bu?"
"Tidak usa, ini sudah selesai kok, kamu duduk saja, kalau tidak panggilkan kakakmu, kita makan sama-sama, kamu belum makan kan?" Tanya Vega menatap putrinya.
"Hmm belum, tadi hanya menemani suami Lily saja," jawab Lily yang memang tadi pagi tidak bernafsu makan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku panggil Kak lia dulu," ucap Lily yang kemudian mengecup pipi ibunya.
Vega memegang pipi yang dicium Lily, ada rasa hangat yang masuk ke dalam hatinya, dia menyesal telah mengabaikan Lily selama ini.
.
.
"Untuk hari ini apa masih ada jadwal lain?" Tanya Jason pada Liora.
"Ada Kak, satu jam lagi kita akan bertemu dengan Pak Bastian," jawab Liora yang kini benar-benar menggantikan sekretaris barunya.
Jason mengangguk, tiba-tiba dirinya menutup mulutnya dengan tangan dan berlari ke kamar mandi di ruangannya. Sepertinya Jason ingin muntah.
"Kak, Kak Jason baik-baik saja?" Liora yang khawatir mengikuti Jason dan membantu pria itu.
Jason mengibaskan tangannya, mengusir Liora, hingga terpaksa Liora pun keluar, hanya bisa menunggu Jason di depan pintu kamar mandi.
"Kak, kapak kenapa?" Tanya Liora terus mengetuk pintu berulang kali saat mendengar Jason yang sedang muntah di dalam kamar mandi.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Jason dengan wajah pucatnya.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Liora lagi. Menyentuh wajah Jason mengecek suhu badan pria itu, "Tidak panas," gumamnya.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" Tambahnya.
"Kepala saya pusing," ujar Jason yang berpegangan pada dinding.
"Kak biar saya bantu," kata Liora kemudian membantu Jason dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Liora!" Panggil Jason lemah.
"Iya Kak."
"Kamu atur ulang jadwal pertemuan kita hari ini," perintah Jason dan Liora pun mengerti.
"Baik Kak, kalau begitu aku keluar dulu," pamit Liora kemudian meninggalkan ruangan Jason.
Liora sesekali menatap ke belakang, dimana Jason menunduk sambil mengurut pelan kepalanya sendiri, hingga dirinya memutuskan untuk menelpon seseorang.
Sementara itu, Jason merebahkan dirinya di sofa. Satu tangan dijadikan bantalan dan tangan lainnya digunakan untuk menutupi matanya.
Jason membuka matanya saat mendengar suara orang berbicara, terlihat Liora dan seorang dokter sudah ada disana. Jason bangun, pusingnya sudah tidak seperti tadi.
__ADS_1
"Kak kau sudah bangun?" Tanya Liora begitu melihat Jason yang mencoba untuk duduk.
"Kak, biarkan dokter memeriksamu," ujar Liora tanpa persetujuan Jason, mempersilahkan dokter yang tadi dipanggilnya agar segera memeriksa kondisi pria itu.