
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jack melihat Liora yang terus saja menangis, bahkan 1 bungkus tisu milik Jack sudah dihabiskan oleh gadis itu.
"Menurut yang kau lihat bagaimana? Mana ada orang baik-baik saja menangis?" Marah Liora pada Jack.
Liora yang kehabisan tisu, menarik lengan kemeja yang dipakai oleh pria itu, untuk menghapus air matanya beserta dengan cairan yang keluar dari hidungnya.
"Nona kau jorok sekali, lihatlah kemejaku penuh dengan ingusmu!" Kesal Jack.
"Kau itu cerewet sekali, sudah jalan saja! Tidak perlu pedulikan aku," ketus Liora.
"Mana ada gadis yang mau sama pria seperti dia, seperti ini saja sudah ngomel," gerutu Liora melirik Jason.
"Aku mendengarnya Nona," ucap Jack.
Liora hanya mengedikkan bahu acuh. Menatap keluar jendela dan melihat jalanan yang tampak sepi.
Jack melirik Liora, "Andai saja aku yang kamu cintai, aku pasti akan membahagiakanmu semampuku, tapi sayangnya rasa cinta yang kamu miliki justru untuk orang lain yang tidak bisa membalas perasaanmu," ucapnya dalam hati kemudian kembali fokus pada jalanan.
*
*
"Kamu belum tidur?" Tanya Jason melihat istrinya duduk di sofa sambil menonton film.
"Kamu sudah pulang?" Lily bangun dan menghampiri suaminya, langsung memeluknya.
"Aku tidak bisa tidur, makanya aku nunggu kamu," ucap Lily memeluk Jason semakin erat.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar dulu!" Kata Jason mematikan televisi dan mengajak istrinya naik ke atas menuju ke kamarnya.
"Aku mau ganti baju dulu," pamit Jason kepada Lily.
Tapi Lily justru menggeleng, membuat Jason mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?" Tanya Jason menatap istrinya yang sedang memandanginya.
"Tidak usah, kita langsung tidur saja," kata Lily menarik tangan suaminya menuju tempat tidur.
"Tapi sayang, tidak nyaman berpakaian seperti ini," protes Jason yang masih menggunakan pakaian kerja.
"Ya sudah, kamu kan bisa lepas," jawab Lily enteng.
__ADS_1
Jason menghembuskan nafas berat, dan pasrah akhirnya.
"Baiklah Ayo!" Jason ikut merebahkan diri begitu Lily berbaring.
"Siniin tangan kamu!"
Jason hanya menuruti kemauan istrinya, rupanya Lily menjadikan tangannya sebagai bantal dan kemudian melingkarkan tangannya di perut Jason.
"Sayang!" Panggil Lily
"Hmm," Jason hanya menjawab dengan gumaman
"Kok cuma hmm, jawab dong!" Kesal Lily karena suaminya hanya bergumam
"Iya kenapa sayang?"
"Bagaimana tadi?" Tanya Lily.
"Seperti kejutan ulang tahun biasa," jawab Jason memainkan poni istrinya.
Jika orang lain yang melakukannya, Lily pasti sudah mengamuk.
"Dia baik-baik saja, jadi kamu jangan khawatir," Jason menghentikan kegiatannya tadi saat mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Kamu bohong," jawab Lily yang tahu jika saat ini suaminya pasti berbohong terlihat dari gelagat pria itu.
Jason menghela nafas lagi, "Iya dia tidak baik-baik saja, dia sepertinya masih belum terima dengan pernikahan kita, dia masih tidak rela jika perasaanku terhadapnya berbeda, aku juga sudah tegaskan sama dia, bahwa aku cinta sama kamu, bukan dia lagi," kata Jason yang tahu bahwa sebenarnya Liora memang tidak baik-baik saja, tapi Jason harus tegas pada Liora, jika tidak takutnya Liora justru akan semakin berharap padanya.
"Pasti sakit sekali rasanya," gumam Lily
Jason menautkan kedua alisnya.
"Maksud kamu?"
"Aku tahu, bagaimana rasanya menjadi Liora, sakit jika ternyata orang yang kita cintai ternyata mencintai orang lain, tapi sayang, kamu sudah menjadi milikku, katakan aku egois, tapi jika Liora ingin merebut kamu dariku, aku tidak akan rela, aku akan lawan Liora bagaimanapun caranya untuk tetap bisa mempertahankanmu," ucap Lily yakin.
"Dan kamu harus percaya, bahwa aku akan tetap bersamamu, tidak peduli dengan cara apapun dia hendak merebutku, karena hanya kamu yang memang aku cintai," sahut Jason membalas pelukan istrinya tidak kalah erat.
"Sekarang kita tidur, ini juga sudah malam," kata Jason mengganti lampu utama dengan lampu tidur, menarik istrinya agar semakin dekat dan memeluknya erat bersama menuju ke alam mimpi.
__ADS_1
*
*
Hubungi, tidak, hubungi, tidak, hubungi" Al sedari tadi terus saja menghitung dengan memetik kelopak mawar yang di pegangnya.
Setelah tadi mengobrol dengan adiknya, Al memutuskan untuk kembali apartemen, hanya ingin sendiri sekedar untuk menenangkan diri, ya walaupun sebenarnya jika di rumah pun bisa.
Setelah cukup lama menimbang, Al akhirnya menghubungi nomor yang sedari tadi terus dilihatinya.
Satu kali, dua kali, ketiga, keempat dan kelima baru panggilan itu dijawab.
"Halo," jawab seseorang begitu panggilan terhubung.
"Halo, ini siapa?" Ucap gadis itu bertanya pasalnya, nomor yang menghubunginya adalah nomor baru, sebenarnya enggan menjawab tapi karena orang itu terus menelpon, membuat gadis itu memutuskan untuk menjawab karena takutnya itu hal penting.
"Halo Ale, Ale, Kakak pusing, Kakak juga sepertinya demam, kamu bisa kesini tidak?" Ucap Al dengan suara yang lemah.
"Kak Al?" Tanya gadis itu memastikan.
"Iya Ale, apa kau tidak mengenali suara kakak? Uhuk...uhuk…"
"Kak? Kak Al sakit?" Tanya gadis itu yang kini terlihat cemas saat orang di seberang telepon terus-terusan batuk.
"Kak Al? Kak Al?" Gadis itu dibuat panik saat tidak mendengar lagi suara dari seberang telepon.
Gadis itu buru-buru mengambil kunci motor dan dompetnya dan keluar kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Lia kamu mau kemana?" Tanya Vega yang melihat putrinya bahkan sampai berlari-lari.
"Lia mau keluar sebentar Bu," jawab gadis itu yang tak lain adalah Dahlia.
"Sayang tapi ini sudah hampir tengah malam, kamu mau keluar kemana?" Tanya Vega yang khawatir jika putrinya itu keluar malam sendirian.
"Tidak apa-apa Bu, Lia akan baik-baik saja, Lia akan jaga diri baik-baik," ujar Dahlia mencium punggung tangan ibunya dan segera pergi tanpa meninggalkan ibunya yang akan kembali berbicara.
Sambil berjalan menuju motornya, Dahlia mencoba menghubungi Lily, tapi sayangnya ponsel Lily tidak aktif. Dahlia ingat percakapannya dengan Lily kemarin, saat bilang Kak Al memilih tinggal sendiri di apartemen. Dahlia mengingat-ingat alamat apartemen Al yang sudah diberitahu Lily. Untung saja tidak perlu waktu lama, Dahlia segera mengingatnya. Dan dengan cepat, Dahlia mengendarai motornya menuju apartemen tempat tinggal Al.
"Iya benar ini," Dahlia kemudian masuk menuju lift dan memencet lantai berapa Al tinggal.
Begitu pintu lift terbuka, Dahlia dengan buru-buru keluar dan berlari mencari nomor kamar Al. Dahlia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada pria yang dicintainya itu. Setelah menemukan nomor kamar Al, Dahlia memencet bel berkali-kali, berharap Al bisa membukakan pintu untuknya.
__ADS_1