
"Jangan bersedih lagi oke! Bersedih boleh tapi tidak boleh terlalu berlarut-larut, selain tidak baik untuk kesehatan, dengan terus bersedih tidak akan membuat masalah yang kita hadapi selesai begitu saja," nasihat itu tiba-tiba Al berikan pada gadis di sampingnya.
"Lily menoleh, menatap wajah pria yang sekali lagi menolongnya, "Terima kasih Kak, setelah ini aku tidak akan mencoba untuk tidak bersedih lagi," itu lah kata yang sudah Lily tekadkan, mencoba tidak ada salahnya, jika kemudian hari kembali sedih bukankah itu hal yang wajar, karena kadang kita memang tidak bisa mengendalikan perasaan yang bahkan kita sendiri rasakan bukan?
"Nah gitu dong, Lily yang aku kenal adalah gadis ceria yang penuh semangat, tidak seperti sekarang yang selalu cengeng," kata Al yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Lily.
"Kak Al jangan meledekku seperti itu," kata Lily cemberut.
"Jangan cemberut gitu, nanti lama-lama aku cium loh," ucap Al dan Lily dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Al langsung menyemburkan tawanya, merasa lucu dengan ekspresi Lily barusan.
"Aku hanya bercanda," katanya kemudian kembali fokus pada kemudi.
"Hmm Kak, hmm itu…" Lily akan bertanya tapi ragu.
"Katakan saja ada apa? Apa kita baru kenal, sampai kamu tergagap gitu mengatakannya," kata Al yang lagi-lagi meledek Lily.
"Apa Kak Al yakin, kalau Ayah Kak Al akan mengijinkan aku tinggal di rumah kalian?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari gadis di sebelahnya.
Al tersenyum, jadi Lily dari tadi ragu karena akan mempertanyakan hal ini.
"Ya aku yakin Ayah gak keberatan, mungkin saja paginya sudah ada penghulu dan kita akan langsung dinikahkan, bukankah itu bagus," kata Al dengan wajah datarnya, hingga Lily tidak bisa membedakan apa Al serius mengatakan ini atau tidak, Lily menelisik wajah pria tampan di sebelahnya, sekali lagi untuk mencoba membaca wajah Al atas apa yang baru saja pria itu katakan.
"Hahaha," Al kembali tertawa, melihat wajah Bingung Lily yang terus menatapnya.
"Kak Al," kata Lily kesal dan akan kembali mencubit Al dan dengan cepat satu tangan pria itu, menangkap tangan Lily.
"Maaf, aku hanya bercanda, wajahmu lucu jika sedang bingung," jawab Al tanpa merasa bersalah saat mengatakan itu.
Lily hanya mencebikkan bibirnya kesal, karena terus dikerjai oleh Al.
Tak lama mereka pun sampai di halaman rumah Al. Keduanya pun turun dari mobil bersamaan.
__ADS_1
Lily menatap rumah itu dan menghela nafas berulang kali sebelum melanjutkan langkahnya memasuki rumah itu.
Al menangkap keraguan itu di diri gadis yang sekarang ada di hadapannya.
"Kemarikan!" Kata Al meminta tas Lily yang berisi baju-bajunya.
"Aku bisa membawanya sendiri Kak," kata Lily menolak halus Al yang ingin membawakan barang-barangnya.
"Tidak apa," Al langsung saja mengambil tas yang Lily bawa dengan sedikit memaksa karena gadis itu masih saja merasa enggan.
"Ayo!" Setelah itu Al menggandeng tangan Lily mengajaknya untuk masuk ke rumah tempat tinggalnya.
Pintu dibukakan oleh pelayan, saat tahu Al lah yang datang.
"Bi, tolong tunjukkan kamar tamu, dan antarkan kekasihku ke kamar itu," kata Al tidak lupa dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Baik Tuan, mari Nona!" Kata pelayan itu hendak menunjukkan kamar tamu pada Lily.
Lily menoleh dan menatap ke arah Al saat dia mulai melangkah pelayan yang tadi di perintahkan Al untuk mengantarkan dirinya, dan Al hanya tersenyum dan mengangguk meyakinkan Lily bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Terima kasih Bi," kata Lily sopan, pelayan pun membalas senyuman pada Lily kemudian menunduk dan meninggalkan kamar baru Lily, tidak lupa menutup pintu kamar, membiarkan Lily beres-beres dan beristirahat.
Lily menatap kamar itu, menurut Lily kamar ini terlalu luas untuk sebuah kamar tamu, lebih mirip dengan kamar yang memang sengaja disediakan untuk seorang gadis.
Kamar bernuansa pink, dengan perabotan serta gorden semuanya pink, ada jendela besar di sana, dan begitu di buka ada balkon yang di langsung menghadap ke taman, begitu memanjakan mata, ketika bangun tidur.
Banyak juga boneka di sana, dari yang ukuran kecil sampai ukuran besar, entahlah Lily harus senang atau apa, tapi Lily merasa jika kamar ini.. entahlah Lily tidak bisa menjelaskannya lewat kata-kata.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Lily yang sedang mengamati dalam-dalam kamar itu.
__ADS_1
"Lily ini aku! Boleh aku masuk?" Ternyata itu suara Al dan Lily pun berjalan mendekati pintu untuk membuka pintu itu.
"Kak Al," kata Lily yang entah akan mengatakan apa, dirinya benar-benar bingung.
"Kenapa hmm? Bagaimana suka dengan kamarnya?" Tanya Al meminta pendapat gadis yang saat ini berdiri kaku di depannya.
"Hey kenapa malah melamun?" Tanya Al menaik turunkan telapak tangannya tepat di depan wajah Lily.
"Hmm suka Kak, sangat suka," kata Lily begitu tersadar dari lamunannya.
"Baguslah jika kau suka, jadi kau pasti akan betah disini, ya sudah aku tidak akan mengganggu waktumu lagi untuk beberes, kalau begitu aku tinggal dulu, kalau ada apa-apa hubungi pelayan, kalau tidak kau bisa datang kamarku ada tepat di sebelah kamar ini," kata Al yang kemudian melangkah ke arah pintu hendak meninggalkan Lily.
"Hmm Kak Al tunggu!" Lily menahan tangan Al, mencegah laki-laki itu yang hendak pergi meninggalkannya.
"Hmm Kak, apa tidak apa-apa?" Tanya Lily dengan wajah yang menunduk.
Al mengernyitkan dahi bingung, dan tersenyum saat tahu apa maksud yang Lily katakan.
"Tidak apa-apa, jadi jangan khawatir oke," kata Al menenangkan Lily.
"Maksudku, tidak apa-apa aku tidur di kamar ini? Karena yang aku lihat ini bukan seperti kamar tamu," kata Lily mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Memang kamar ini bukan kamar tamu," jawab Al santai.
"Maksud Kak Al? Terus?"
"Kamar ini milik adikku, dan kau boleh menempati kamar ini," ucap Al mengacak rambut Lily gemas.
"Tunggu Kak Al, Kak Al punya adik?" Tanya Lily yang tiba-tiba merasa penasaran saat Al mengatakan tentang adiknya.
"Iya, ya sudah kamu istirahat gih!" Al kembali hendak melangkah tapi lagi-lagi Lily menahannya.
"Tapi Kak Al, apa Ayah Kak Al akan setuju, jika aku tidur di kamar adik Kak Al?" Tanya Lily yang tiba-tiba takut, Ayah dari pria yang saat ini tangannya dia pegang ini tidak setuju dengan keputusan Al yang membiarkannya tidur di kamar ini.
__ADS_1
"Ayah akan setuju, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi oke," ucap Al yang kemudian benar-benar meninggalkan Lily yang kini sibuk dengan pikirannya.