
Lily langsung menutup album foto karena melihat suaminya yang terus tertawa melihat foto-fotonya selagi kecil. Lily menunjukkan album foto pada suaminya saat suaminya itu bilang ingin melihat dirinya sewaktu masih kecil. Sebenarnya Lily juga baru tahu tentang album foto yang diberikan kakaknya sebelum pergi. Lily kira dulu ibunya benar-benar tidak menyayanginya, dan berpikir dia tidak memiliki sesuatu yang bisa dikenang sewaktu dirinya kecil. Tapi Lily salah besar, karena ternyata Vega selalu diam-diam mengabadikan momen-momen penting dirinya.
Tak hanya itu, dia dengar dari kakaknya Lia, jika setiap malam dirinya tidur, Ibunya Vega selalu datang ke kamarnya hanya untuk mengecup kening dan membenarkan selimutnya. Bahkan Lily tahu jika ibunya menangis semalaman setelah mengusirnya saat itu.
Kenyataan yang membuat Lily menangis dan tersenyum bersamaan. Kenapa dirinya tahu disaat Ibunya sudah pergi? Kenapa kakaknya tidak memberitahu sejak dulu? Dan Dahlia bilang jika dirinya juga belum lama tahu hal itu. Saat akan memberitahu Lily, justru ibunya melarang. Dan membiarkan Lily menganggapnya seperti dulu, tidak pernah menyayanginya.
"Kenapa ditutup? Aku masih ingin melihatnya," kata Jason kesal karena bukan hanya menutupnya, Lily juga merebut album foto darinya.
"Sudah ah, habisnya kamu tertawa seperti itu terus." Lily melipat kedua tangannya di depan dada
Jason bangun kedua tangannya berada di bahu Lily kanan dan kirinya dan meminta istrinya untuk duduk.
"Habisnya kamu menggemaskan makanya aku terus tertawa."
"Bohong," Lily mengerucutkan bibirnya, menelisik ke dalam mata suaminya.
"Serius sayang, tidak percaya banget sih istriku ini," Jason mencubit pipi Lily yang terlihat semakin chubby.
"Sayang sakit tau."
"Hehe maaf," Jason kemudian mencium kedua pipi Lily yang tadi di cubitnya.
"Sudah yuk tidur! Aku ngantuk," Lily kini memeluk suaminya bergelayut manja.
"Ayo!"
Jason dan Lily pun membaringkan tubuh mereka saling berhadapan dan memeluk satu sama lain, Lily memejamkan mata, dan tak lama wanita itu pun terlelap. Jason tersenyum melihat wajah Lily, ikut memejamkan mata, dan menyusul istrinya ke alam mimpi.
*
*
Liora mengambil ponsel dan menghubungi kekasihnya. Tak lama panggilan darinya pun dijawab dan bisa Liora dengan nada panik seseorang dari seberang telepon.
"Baby kamu kenapa? Kenapa menangis?"
"Ronald aku…"
"Kamu dimana? Aku kesana sekarang! Halo baby, kamu kirim alamatnya sekarang aku akan segera kesana."
__ADS_1
Ronald mengakhiri panggilan Liora kemudian berjalan cepat keluar dari ruangannya menuju ke mobilnya.
Ronald menempelkan ponsel di telinga, setelah mencari nama yang akan di hubunginya.
"Halo kamu dimana sekarang?" Tanya Ronald karena kekasihnya belum juga mengirimkan pesan padanya, membuat dia benar-benar khawatir.
"Baiklah aku kesana sekarang. Jangan dimatikan!" Peringat Ronald takut jika terjadi apa-apa dengan Liora saat mendengar tangisan gadis itu.
Setelah itu, Ronald pun melajukan mobilnya ke alamat yang Liora katakan dan tak lama, dirinya sudah sampai di tempat.
Ronald kemudian turun dari mobilnya saat melihat mobil Liora. Pria itu, menengok ke kanan kiri kemudian berlari menyebrangi jalan. Ronald mengetuk kaca dan kemudian dirinya dengan cepat membuka pintu mobil.
"Kamu kenapa baby?" Ronald langsung menarik tubuh Liora ke dalam pelukannya, begitu dirinya sudah masuk ke dalam mobil.
Liora tidak menjawab pertanyaan Ronald justru semakin terisak di pelukan pria itu.
Ronald menepuk-nepuk punggung Liora berharap agar gadis itu tenang.
"Sekarang katakan kenapa?" Tanya Ronald begitu melihat Liora yang kini sudah terlihat tenang.
Liora kemudian menceritakan semuanya, tidak terlewat sedikitpun. Dan Ronald menjadi pendengar yang baik. Dirinya kemudian menghela nafas kasar. Yang di takutkannya benar-benar terjadi, ujung-ujungnya Liora lah yang berkorban bahkan tidak memikirkan apapun saat mengambil keputusan pergi dari rumahnya. Padahal yang Ronald tahu Liora adalah gadis yang begitu dimanjakan keluarganya, Ronald takut jika Liora keluar dari rumahnya, gadis itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
"Baby, kita tukeran tempat, biar aku yang menyetir," ucap Ronald
Liora hanya menurut, dirinya turun dan berpindah tempat duduk, membiarkan kekasihnya itu menyetir mobilnya.
Liora masuk, kemudian memasang seatbelt, setelah itu Ronald mulai melajukan mobilnya.
Keduanya sama-sama diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hingga kemudian Liora menoleh menatap Ronald tak percaya, saat melihat jalan yang dilaluinya.
"Ronald kenapa kita melewati jalan ini?" Tanya Liora memandang Ronald menunggu penjelasan pria itu.
"Aku akan mengantar kamu pulang."
"Tidak Ronald, aku sudah pergi dan aku tidak mau kembali," kata Liora tetep kekeh dengan pendiriannya.
Dan Ronald baru tahu jika Liora begitu keras kepala.
__ADS_1
"Ronald hentikan!" Liora mencoba merebut setir kemudi dari Ronald.
"El lepaskan!" Teriak Ronald karena mobil yang mereka kemudikan kini oleng.
"Tidak, sampai kau menghentikannya," teriak Liora yang sebenarnya sudah gemetaran bahkan keringat dingin sudah membasahi wajah gadis itu.
Ronald berusaha menepikan mobil hingga terdengar bunyi rem yang memekakan telinga.
Citt
Mobil berhenti dan hampir saja menabrak pembatas jalan.
Ronald kemudian menoleh ke samping dan menatap tajam Liora yang kini sedang mengatur nafasnya karena terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
Ronald hendak memarahi gadis itu, tapi urung saat melihat tiba-tiba saja Liora menangis.
"Kamu tidak tahu, kamu tidak tahu Ronald," ucapnya di tengah isak tangisnya.
Membuat Ronald hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Aku bilang aku tidak mau pulang, setidaknya untuk saat ini, kenapa kamu tidak mau mendengarkan saja dan mengerti?" Liora kini menatap Ronald dengan air mata yang kini sudah bercampur keringat membasahi wajahnya.
"Aku hanya tidak ingin kamu melawan orang tuamu, bagaimana jika mereka sedih?"
"Ini bukan masalah sedih atau tidak, tapi ini tentang perasaanku, aku hanya ingin semua keluargaku mengerti sedikit saja perasaanku. Dan kamu tidak tahu apa-apa soal itu."
Liora mengambil ponselnya di dalam tasnya kemudian menghubungi seseorang.
"Kamu jemput aku sekarang! Aku akan mengirim lokasinya." Kata Liora setelah itu dirinya pun segera mengakhiri teleponnya.
"El aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu, sekarang kamu turun!" Ucap Liora yang kini justru malah marah pada Ronald.
"Turun Ronald!"
Ronald pun akhirnya memilih turun, dan Liora segera mengunci mobilnya tidak ingin Ronald kembali masuk, dia kini menunggu seseorang yang tadi di hubunginya.
Liora menatap Ronald, tapi segera mengalihkan tatapannya. Dia memang mencintai Ronald, hingga memutuskan bersamanya. Tapi ternyata itu saja tak cukup, jika mereka belum saling mengenal satu sama lain. Dia tidak memahami pemikiran Ronald begitupun sebaliknya. Mereka memang saling menceritakan tentang diri masing-masing, apa yang disukai apa yang tidak disukai tapi tidak dengan kehidupan pribadi mereka, hingga akhirnya membuat keduanya saling salah paham karena tidak bisa mengerti antara satu yang lainnya
__ADS_1