Please Love Me

Please Love Me
Bab 172


__ADS_3

"Jadi Dahlia apa kamu mau menjadi kekasihku?"


"Tidak," jawab Dahlia.


"Baiklah," jawab Al membuat Dahlia menatapnya.


"Apa Kak Al menyerah?" Tanya Dahlia menatap Al kecewa.


"Tidak, aku hanya tahu jawabanmu dan menurutku kamu memang akan menolaknya, tapi asal kau tahu, aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan terus mengungkapkannya sampai kau benar-benar menerimaku, ini giliranku yang berjuang untuk mendapatkan cinta darimu," kata Al menatap ke dalam mata Dahlia. 


"Jadi Dahlia, apa kamu mau memberi aku kesempatan untuk berjuang?" 


"Baiklah, jadi jangan kecewakan aku," kata Dahlia tersenyum.


"Aku akan berusaha," kata Al yang ikut tersenyum.


*


*


"Kak, mungkin ini yang terbaik, Kakak jangan putus asa ya," kata Lily menggenggam tangan Al, berniat menenangkan pria itu.


Tiba-tiba Jason melepaskan genggam tangan Lily pada kakaknya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa aku sibuk buat makanan untuk kamu dan anak kita, kamu malah asyik genggaman tangan sama dia," kata Jason menunjuk Al dengan dagunya.


"Sudah tidak perlu drama, mana masakanmu, aku lapar," kata Al yang malas melihat drama sepasang suami istri itu.


"Iya sayang sudah matang belum masakannya, anak kita sudah lapar," ucap Lily menatap suaminya.


"Iya sebentar lagi ya sayang," Jason kemudian jongkok di samping istrinya, mengelus perut istrinya yang masih rata. 


"Sabar ya sayang, kamu sudah tidak sabar ya ingin makan masakan Ayah?" Ucapnya dan mencium perut istrinya kemudian bangun dan melanjutkan acara memasaknya.


Al yang melihat itu hanya memutar bola  matanya malas.


"Kenapa iri? Kalau iri mending nikah biar tahu rasanya," cibir Jason melihat Al tadi.


"Sudah sana masak saja! Belum kelar juga ngapain sih kesini-sini," jawab Al kesal.


Sementara Lily tidak peduli dengan apa yang dilakukan dua pria yang disayanginya itu.


.

__ADS_1


.


"Liora bangun sayang!"


"Bentar lagi Mi," Liora menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Sayang bangun dong ini sudah siang loh, itu Nak Ronald juga ada di bawah, katanya kalian sudah ada janji mau jalan-jalan," kata Tiffa.


"Apa Mi? Siapa yang ada di  bawah?" Liora langsung bangun dari tidurnya saat mendengar maminya menyebut nama seseorang yang sama sekali tidak diharapkan.


"Nak  Ronald, dia ada di bawah, dari setengah jam lalu malah, sebenarnya Mami mau bangunin kamu sejak tadi, tapi Nak Ronald melarang Mami, dia bilang biar kamu istirahat saja, karena kamu  pasti lelah habis menempuh perjalanan jauh, tapi karena Nak Ronald sudah menunggu terlalu lama, makanya Mami bangunin kamu," kata Tiffa menjelaskan.


"Ngapain sih dia kemari, dan tunggu, kenapa dia tahu aku habis menempuh perjalanan jauh, jangan-jangan…"


"Sayang kok malah melamun, sudah ditungguin loh!" Ucap Tiffa membuyarkan lamunan Liora. 


Liora mengerucutkan bibirnya


"Kok malah manyun-manyun gitu, bukannya cepat mandi, siap-siap terus berdandan yang cantik."


"Hmm iya, sekarang dia dimana?" 


"Nak Ronald sedang main sama Alno di ruang keluarga, ya udah Mami tinggal ya, ingat dandan yang cantik," goda Tiffa pada putrinya kemudian mengedipkan sebelah matanya.


"Itu Bibi El!" Kata Tiffa menunjuk pada  Liora yang baru saja menuruni anak tangga.


Spontan Ronald dan Alno menoleh karena posisi mereka membelakangi tangga.


Ronald tersenyum saat melihat Liora dengan wajah cemberutnya. Pria itu berdiri, meninggalkan Alno yang kembali sibuk mewarnai gambar yang tadi dibuat Ronald.


"Sayang senyum dong, masa mau jalan-jalan sama kekasihnya mukanya malah ditekuk gitu, ntar Nak Ronald kabur bagaimana?"


"Tidaklah Bi, seperti apapun muka El, aku pasti suka," jawab Ronald melirik Liora yang menatapnya tajam.


"Ya udah Ayo!" Liora berjalan lebih dulu meninggalkan Ronald.


"Bibi saya pergi dulu," Ronald kemudian mencium punggung tangan Tiffa, dan mengacak rambut Alno, hingga anak kecil itu mendongak menatapnya.


"Paman pergi dulu, nanti kapan-kapan kita main lagi ya," pamitnya pada Alno dan Alno hanya memberi anggukan.


Setelah itu, Ronald pun berjalan cepat menyusul Liora yang sudah lebih dulu keluar.


"Cepat banget sih El jalannya, sudah tidak sabar?" Ucapnya dengan suara yang keras.

__ADS_1


Liora langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik, menatap Ronald dengan tatapan yang seolah-olah ingin menelan pria itu hidup-hidup.


"Untuk apa kamu kemari? Dan apa tadi bilang, jalan-jalan, sejak kapan kita ada janji jalan-jalan?" Liora mengungkapkan kekesalannya yang sejak tadi dia pendam karena tidak ingin meluapkannya di depan maminya.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, dan lagi aku juga sudah minta izin pada ibumu, terus apalagi yang akan kau tunggu?"


"Iya kamu memang minta izin, tapi kamu berbohong, kita sama sekali tidak ada janji bertemu, dan apa tadi? Kamu bilang pada Mami kita sudah janjian. Terus darimana kamu tentangku, kamu tidak menguntitku kan?"


"Aku minta maaf, jadi bisakah kita pergi sekarang?" 


"Aku tidak mau pergi," kata Liora yang kemudian berjalan masuk, tapi dirinya kemudian berbalik lagi dan segera masuk ke dalam mobil Ronald, membuat Ronald yang sedari tadi hanya terdiam bingung sendiri.


"Loh, kalian kenapa belum berangkat?" Tanya Tiffa berada di depan pintu.


Ronald mencerna apa yang terjadi, "Oh, iya Bi ini mau jalan kok," ucapnya kemudian, sekarang kebingungannya terjawab sudah.


Ronald segera masuk ke mobil, dan melihat wajah Liora yang tengah kesal.


"Masih cemberut aja, tidak dengar tadi apa kata Bibi?"


Liora langsung menatap Ronald tajam, mendengar ucapan pria itu.


Ronald hanya tertawa kemudian melajukan mobilnya.


"Sekarang katakan kenapa kau tiba-tiba ke rumahku? Kau jelas tahu, waktu itu aku hanya…"


"Memanfaatkanku?"


"Da...darimana kamu tahu?" 


"Hmm darimana ya," jawab Ronald seolah sedang berfikir dan itu membuat Liora semakin kesal saja.


"Sudahlah tidak penting," kata Liora yang sudah tidak ingin mendengar jawaban pria itu lagi.


Ronald hanya mengedikan bahunya, kemudian kembali fokus pada kemudi, sebenarnya Ronald sendiri tidak tahu, kenapa dirinya tiba-tiba datang ke rumah  gadis yang sekarang ada di sampingnya. Ronald juga bukan tidak tahu jika waktu itu Liora mengakuinya sebagai kekasih karena ada seseorang disana yang membuatnya melakukan hal itu, sebab Ronald memperhatikan Liora yang terus menatap seorang pria yang tiba-tiba berpamitan pergi. Dan kenapa Ronald tahu Liora baru saja pulang, karena kemarin sebenarnya Ronald dan Liora ada di penerbangan yang sama, dan Ronald memang melihat Liora.


"Sekarang kita mau kemana?" 


Ronald menoleh begitu Liora kembali bertanya kepadanya.


"Sebentar lagi sampai kok," kata Ronald menunjukkan senyumannya.


Dan Liora langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sepertinya percuma saja bertanya kepada pria itu.

__ADS_1


Tak lama mobilpun berhenti di sebuah tempat yang membuat Liora terkejut dan menatap Ronald penuh kekesalan.


__ADS_2