
Liora berjalan mengendap-endap turun dari mobilnya.
"Siapa kamu berani-beraninya mengganggu Ibuku? Pergi! Cepat pergi sebelum aku berteriak hingga para warga akan kemari!" Ancam Liora memukul pria itu dengan tasnya.
Bug
Bug
Sementara itu sang pria menjadikan kedua sebagai tameng untuk menutupi tubuhnya dari amukan Liora.
"Stop! Stop! Apa yang kau lakukan Nona?" Tanya Pria itu berusaha menghindar pukulan Liora yang bertubi-tubi.
"Kamu orang jahatkan? Tidak akan aku lepaskan!" Marah Liora pada orang yang sudah berani mengganggu Ibu yang sangat disayanginya
Bug
Bug
"Sayang cukup! Hentikan sayang! Kamu salah paham," ujar Dea pada Putrinya.
"Tidak Ibu, Ibu jangan membela orang jahat!" Jawab Liora tanpa menghentikan pukulannya.
Liora yang kelelahan pun akhirnya lengah, dan dengan mudah pria itu menahan kedua tangan Liora yang sudah kelelahan.
"Kau!" Liora menatap pria itu sambil terus memberontak dari cekalan Pria yang tidak dikenalnya.
"Maaf Nak bisa lepaskan tangan Putri saya, saya minta maaf atas perbuatan Putri saya tadi, Putri saya tidak bermaksud seperti itu, dirinya pasti hanya salah paham," pinta Dea pada pria itu.
"Ibu kenapa Ibu meminta maaf padanya? Aku akan minta maaf jika memang bersalah, tapi kita tidak salah Ibu, kita hanya mencoba membela diri," protes Liora pada sang Ibu karena Ibunya justru yang minta maaf pada pria itu, karena seharusnya pria itu yang meminta maaf pada Ibunya karena sudah mengganggu wanita yang sudah membesarkannya itu.
"Sayang kamu salah paham!" Kata Dea dengan suara meninggi, dia tidak mau jika putrinya bermasalah dengan orang yang baru dikenalnya, bukan tapi orang yang baru dikenal tapi memang orang yang tidak mereka kenal.
"Ibu!" Liora menatap Ibunya dengan tatapan kecewa, Liora berusaha menyelamatkan sang Ibu dari niat jahat pria itu, tapi Ibunya justru membela pria itu.
"Maafkan Ibu sayang, Ibu tidak bermaksud untuk membentakmu," kata Dea yang menghampiri Putrinya itu.
__ADS_1
Pria itu pun melepaskan tangannya yang mencengkram kedua tangan Liora. Dirinya yang tadi diliputi amarah karena tidak terima dipukul dengan menggebu-gebu oleh gadis itu, tiba-tiba langsung menguap begitu saja saat mendapati pemandangan yang menurutnya langka, yang hanya baru satu keluarga yang ditemui dengan pemandangan seperti itu, siapa lagi jika bukan keluarga Paman dan Bibinya, dan kini dia bisa menemukan hal itu lagi disini, negara yang baru dirinya pijaki.
Liora menatap pria itu tajam, gara-gara pria itu, Ibunya membentaknya.
Pria itu sama sekali tidak merasa takut pada tatapan gadis yang sudah membuat penampilannya berantakan.
"Maafkan Putri saya Nak," Dea menghampiri Putrinya meraih tangan Putrinya itu, dan kembali meminta maaf pada Pria yang tadi menolongnya, tapi justru menjadi sasaran amukan Putri cantiknya.
"Sayang ayo minta maaf," bisik Dea pada sang Putri agar mau meminta maaf pada Pria tadi.
"Tidak mau," jawab Liora cepat, melepaskan tangannya dari genggaman Dea, dan melipat kedua tangannya itu di depan dada.
"Dasar gadis angkuh," gumam Pria itu yang masih jelas di dengar di telinga Liora.
"Apa kau bilang? Dasar Pria playboy, Ibu-ibu saja bahkan menjadi sasaran godaanmu," Kata Liora berkacak pinggang menatap pria itu tajam seolah sedang menantangnya.
"Apa kau bilang? Beraninya kau!" pria itu mengepalkan kedua tangannya merasa marah atas perkataan Liora. Dirinya memang playboy tapi dirinya juga tidak mungkin menggoda Ibu-ibu.
"Apa mau pukul? Pukul saja! Liora semakin memajukan tubuhnya.
"Ibu apa yang Ibu lakukan? Ibu minggir sekarang!" Kata Liora yang terkejut saat Dea sudah berdiri di depannya.
"Maafkan Putri saya Nak," hanya kata-kata itu yang bisa diucapkan oleh Dea.
Lagi-lagi emosi pria itu hilang begitu saja, saat melihat sosok yang benar-benar seperti seorang Ibu yang sesungguhnya, tidak seperti dirinya yang tidak pernah mendapatkan hal itu dari seorang wanita yang biasa orang sebut Ibu.
Liora semakin menatap pria itu tajam, apalagi telah membuat Ibunya meminta maaf dua kali pada sesuatu yang bukan kesalahannya.
"Tidak apa-apa Bu, tolong jangan meminta maaf lagi, Anda tidak bersalah," jawab Pria itu kepada Dea.
"Seharusnya seperti itu dari tadi," gerutu Liora.
"Ibu tidak perlu minta maaf karena ini bukan kesalahan Ibu, yang seharusnya minta maaf kepada saya itu Putri Ibu, Ibu bisa melihatnya dengan jelas jika Putri Ibu bersalah, dan seharusnya sebagai seorang Putri, melihat Ibunya minta maaf kepada seseorang karena kesalahannya merasa malu, bukan malah bersikap angkuh seperti itu dan merasa dirinya tidak bersalah hanya karena diam saja, dan membiarkan Ibunya yang meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya," sindir Pria itu melirik Liora.
"Sayang!" Bisik Dea menyenggol pelan tubuh putrinya, memberi kode agar putrinya menuruti saja keinginan pria yang berbicara tadi.
__ADS_1
"Maaf," ucap Liora ketus.
"Ulangi, minta maafmu sangat tidak tulus," jawab pria itu tanpa merasa bersalah.
"Kau!"
"Cepat ulangi!" Perintah pria itu lagi, karena Lily hanya diam saja.
"Sayang!"
"Aku tidak salah Bu, kenapa aku harus minta maaf padanya," ucap Liora yang masih tidak terima.
"Sayang tadi Nak.." Dea memandang pria itu.
"Ronald Bu," jawab Ronald memperkenalkan dirinya.
"Nak Ronald tadi membantu Ibu, bukan berniat mengganggu Ibu, kamu sudah salah paham padanya sayang," ujar Dea menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Benar Ibu tidak berbohong?" Tanya Liora memastikan.
"Iya sayang, untuk apa Ibu berbohong?" Kata Dea memastikan.
Liora menatap Ronald dari atas ke bawah, menelisik tampilan pria itu.
"Jadi sekarang bagaimana Nona? Apa setelah Anda tahu kebenarannya Anda bisa meminta maaf padaku secara tulus?" Tanya Ronald yang melipat kedua tangannya di depan dada, balik menatap Liora dari atas sampai bawah seperti apa yang tadi gadis itu lakukan.
"Maaf atas kesalahpahaman tadi, maaf juga sudah memukulmu, dan terima kasih sudah membantu Ibuku," kata Liora yang mengulurkan tangan tanda permintaan maaf, dirinya tidak malu untuk meminta maaf setelah tahu kejadian yang sebenarnya.
Ronald hanya diam saja, masih sambil memandangi Liora, sibuk dengan pikirannya, "Ternyata gadis angkuh tidak malu untuk minta maaf setelah tahu bahwa dirinya memang salah, aku kira dia akan gengsi dan tidak mau meminta maaf," ucap Ronald dalam hati.
"Kamu mau memaafkan tidak, pegal tanganku ini," gerutu Liora karena Ronald tidak menyambut uluran tangannya.
"Hai" teriak Liora yang kesal kepada pria di depannya.
"Hmm,"
__ADS_1
"Apa mau kamu sebenarnya? kamu menyuruhku untuk meminta maaf tapi sekarang kamu malah diam saja, jadi kamu mau memaafkan aku atau tidak?" Tanya Liora sudah benar-benar kesal akan respon yang Ronald berikan dan sekarang dirinya bahkan masih menunggu jawaban pria itu yang belum juga mengeluarkan suaranya.