
Alan menatap keduanya kemudian tersenyum.
"Maksud Ayah kalian kan sebentar lagi akan menikah, jadi sebaiknya tidak bertemu dulu," Alan meralat ucapannya, karena sepertinya pasangan itu salah mengartikan ucapannya.
"Oh itu, memang harus Yah?"
"Hmm sebaiknya." Jawab Alan.
"Ayah sama Ibu nanti pokoknya harus datang dari pagi ya," kata Liora menatap Dea dan Alan bergantian dengan Alan.
Dea tersenyum, "Tentu saja, Ibu harus menyaksikan hari bahagia putri Ibu, tapi Ibu tidak bisa menjamin sampai acara selesai."
"Tidak apa-apa, cukup seharian saja."
"Oh ya, kalian jangan pulang dulu kita makan malam bersama disini oke," ucap Dea.
"Tentu saja Bu, aku juga merindukan masakan Ibu."
"Kamu bagaimana sudah jago masaknya? Ibu dengar kamu belajar sama Lily dan Jasmine?" Dea menatap putrinya itu.
"Tanya Lily saja deh Bu."
Dea mengernyit menatap Lily meminta jawaban dari putri yang satunya.
"Kak Liora tidak mau berusaha lagi Bu, jika gagal dia tidak mau membuat lagi, terus memilih belajar membuat yang lain lagi dan jika rasanya kembali tidak seperti yang diharapkan, maka Kak Liora berhenti dan tidak mau meneruskan. Padahal aku dan Jasmine tidak keberatan mengajari ulang lagi."
Dea kemudian menatap Liora memastikan jika apa yang Lily katakan benar.
"Ya seperti itu Bu, sepertinya aku memang tidak bakat memasak," jawab Liora lesu.
Dea hanya bisa menghela nafas mendengar pengakuan putrinya itu, salahkan dia yang dulu tidak membiarkannya masuk ke dapur, karena Liora pernah sekali hampir saja membuat dapurnya terbakar. Jadi Liora hanya sebatas membuatkan minuman saja, sementara dirinya yang langsung terjun ke dapur begitu pulang atau sebelum berangkat kerja.
"Ya sudah nanti bisa belajar pelan-pelan lagi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Liora tidak bisa memasak, yang penting ada Ronald yang akan memasak untuk Liora, iya kan Bi?" Kata Liora yang meminta persetujuan pada Ronald pada apa yang dia ucapkan tadi.
Ronald hanya mengangguk menanggapi ucapan Liora. Dan hal itu membuat Liora segera memeluk lengan pria itu dan membiarkan kepalanya bersandar di bahu Ronald.
"Baru tahu aku Kak Liora ternyata semanja itu," cibir Lily yang kemudian memilih bangkit dari duduknya diikuti Jason yang kini berpamitan.
*
*
Sementara itu, Al terdiam di balik dinding, mendengar pembicaraan Liora tadi mengingatkan dia pada seorang gadis yang sampai saat ini masih mengisi hatinya walau sudah beberapa tahun berlalu.
Gadis yang sama sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena sedari remaja semua yang mengerjakannya adalah Lily yang tak lain adalah adiknya.
"Apa kabarmu sekarang?" Gumam Al yang memang setahun terakhir ini memutuskan untuk tidak menemui Dahlia lagi, setelah mendengar dan melihat sendiri bahwa gadis itu kini sudah memiliki kekasih.
Al merasa semua ini memang salahnya, jika saja dulu dia tidak menolak Dahlia, dan memilih memberi kesempatan pada gadis itu untuk meluluhkan hatinya, mungkin saja perasaannya tidak hancur seperti sekarang.
"Kak Al? Kenapa diam disitu?" Tanya Lily yang membuyarkan lamunan Al.
"Ah tidak apa-apa, ini Kak Al mau memanggilmu."
"Memanggilku? Kenapa? Oh ya Cinta dimana? Kenapa Kak Al sendiri disini?"
Jason yang mendengar perkataan istrinya ikut berhenti dan menatap Al yang tidak bersama dengan Cinta.
"Cinta sama Bibi, Kak Al mau memanggilmu karena Cinta bilang ingin minum."
"Oh, Cinta haus."
Al dengan cepat mengangguk.
"Sekarang Cinta nya dimana?"
__ADS_1
"Di taman belakang."
"Ya sudah, aku kesana sekarang, biar Cinta nanti sama aku saja," ucap Lily pada Al dan pria itu pun mengiyakan, karena dia akan menemui ayahnya yang belum sempat dia temui sejak dia kembali.
"Iya Kakak juga mau menemui ayah," ucap Al yang kini berjalan menghampiri Alan yang saat ini sedang bersama Dea, Liora dan Ronald.
Lily dan Jason mengangguk kemudian keduanya kini berjalan ke taman belakang yang Al maksud, sementara Al kini sudah berdiri di belakang Alan.
"Ayah!" Panggil Al.
Alan menoleh dan tersenyum, pria paruh baya itu bangun dari duduknya kemudian memeluk Al erat, Alan sungguh begitu merindukan putranya itu. Dea yang melihat itu tersenyum senang, dia tahu betapa Alan sangat merindukan Al selama ini, tapi pria itu mencoba menahannya dan hanya bilang tidak ingin mengganggu study Al.
"Kapan kembali?"
"Hmm satu jam yang lalu, kata Ibu ayah dari rumah sakit?"
"Hmm iya biasa, pertemuan."
Al mengangguk mengerti, keduanya kini melepas pelukan dan duduk bersebelahan.
"Aku ke dapur dulu, mau memasak untuk makan malam," pamit Dea yang kini bangkit, wanita itu mengajak Liora pergi dari sana, membiarkan para pria itu mengobrol.
"Kamu kapan benar-benar kembali? Kamu harus ingat bagaimanapun Ayah tidak bisa seterusnya mengurus rumah sakit, waktunya untuk kamu belajar mulai saat ini dan menggantikan Ayah, kamu tahu sendiri Ale tidak mau melakukannya. Jika kamu melanjutkan pendidikan disini, kamu bisa sekalian belajar, tidakkah kamu memikirkan hal itu?" Tanya Alan serius.
"Maafkan Al Yah, tapi Al memang tidak bisa untuk sekarang, tapi Al janji, walaupun Al jauh dari sini, Al juga akan tetap belajar hal seperti itu. Untuk kapan Al benar-benar kembali, Al rasa tidak bisa saat ini, mungkin sampai Al benar-benar bisa menyandang status seperti ayah."
"Baiklah, Ayah memang paling tidak bisa memaksa anak-anak ayah," pasrah Alan karena dia selalu yang berakhir mengalah jika berbicara dengan kedua anaknya.
"Al tahu, Ayah masih mampu mengurus sampai Al benar-benar siap menggantikan ayah," kata Al tersenyum.
"Eh Nak Ronald maaf, karena kita malah jadi mengobrol sendiri," ucap Alan yang merasa tidak enak saat melihat Ronald.
"Tidak apa-apa paman," kata Ronald tersenyum, Ronald bahkan sangat iri dengan kedekatan ayah dan anak itu. Berbeda dengannya yang baru akrab dengan ayahnya belakangan ini.
__ADS_1