
"Ayah mau ngapain?" Tanya Al yang melihat ayahnya menghampiri Dahlia yang tertidur.
"Tentu saja mengangkatnya, kasihan dia tidur disini, pasti nanti kalau bangun badannya akan sakit semua," ujar Alan dan dengan cepat Al kembali menahan ayahnya, apalagi dia sudah tahu maksud Alan.
"Ya sudah tunggu apalagi," kata Alan yang melihat Al hanya diam saja.
"Hah maksudnya?"
"Jika kamu tidak ingin Ayah yang menggendongnya ya udah kamu yang gendong dia, bawa dia ke kamar tamu di samping kamar Ayah," ujar Alan.
"Oh iya," Al kemudian mendekat ke arah Dahlia tapi tiba-tiba saja gadis itu mengerjapkan kelopak matanya dan tak lama seluruh matanya terbuka menatap Al bingung.
Setelah mengingat apa yang terjadi, Dahlia segera bangun dan duduk kemudian menatap Al yang juga menatapnya dan Alan yang berdiri sedikit jauh darinya sedang menatap mereka.
"Ah maaf aku ketiduran disini," ucap Dahlia dan melihat ke sampingnya mencari keberadaan Lily tapi adiknya itu sudah tidak ada disana.
"Lily sudah dibawa ke kamarnya tadi oleh suaminya," ucap Alan yang sepertinya tahu jika Dahlia sedang mencari Lily.
"Hah, oh iya Paman, maaf aku tadi ketiduran," sekali lagi Dahlia minta maaf karena belum mendapatkan kata maaf dari yang punya rumah.
"Tidak apa-apa Nak, kamu kalau mau lanjut tidur juga tidak apa-apa, tapi jangan disini di ruang tamu saja."
"Tidak perlu Paman, lebih baik aku pulang saja, kasihan juga ibu pasti sudah menunggu lama," jawab Dahlia kemudian membereskan barang-barangnya dan berdiri.
Al diam saja, hanya mendengarkan gadis itu dan ayahnya berbicara tanpa mau mencelanya.
Sedangkan Dahlia sama sekali tidak menganggap ada Al di sana. Karena setelah berdiri, Dahlia melewati Alan begitu saja, dan berlalu pergi setelah berpamitan dengan Alan.
"Kenapa kamu masih disini? Kejar dia dong Al, dan antarkan dia pulang," kata Alan greget karena melihat putranya hanya melihat kepergian Dahlia tanpa mau mengejarnya.
"Untuk apa? Dia juga dari tadi tidak peduli dengan keberadaanku, aku sudah seperti makhluk tak kasat mata dilewatinya begitu saja," jawab Al pelan, dia kecewa karena Dahlia benar-benar mengabaikannya.
"Apa jika diabaikan sekali langsung nyerah gitu saja, seharusnya kamu kejar Al, cinta di dapat itu harus dikejar lebih dahulu, tidak bisa tiba-tiba langsung dapat saja bukan? perempuan itu hanya bisa menunggu, kita lah para laki-laki yang memperjuangkannya, jangan sampai ada laki-laki lain yang mendekati dan memperjuangkannya. Jika ada ya paling kamu hanya bertemu dengan sesal saja." Alan menepuk bahu putranya kemudian berlalu meninggalkannya.
Tak lama Alan hanya menggelengkan kepalanya melihat Al yang tiba-tiba berlari melewatinya.
"Dasar anak muda jaman sekarang!" Ujarnya kemudian duduk di teras menikmati kopi di sore hari.
*
__ADS_1
*
"Kamu sudah pulang?" Lily bangun dan menyandarkan tubuhnya di atas ranjang melihat suaminya yang bertelan*jang da*da dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Jason berjalan mendekat dan berjalan ke arah istrinya dan duduk di tepi tempat tidur di dekat Lily.
"Hmm, kamu pulang sejak kapan?" Tanya Lily menatap suaminya.
"30 menit yang lalu," jawab Jason merapikan rambut istrinya yang berantakan.
"Oh ya Kak Lia," kata Lily hendak bangun dari duduknya, tapi Jason menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa?" Tanya Lily mengernyitkan dahi bingung ketika tangan suaminya memegang pergelangan tangannya.
"Kakakmu baru saja pulang, kamu lebih baik disini saja, jangan buat perjuangan Al sia-sia jika kamu nekat akan kesana.
"Kak Al disini?" Tanya Lily yang sudah kembali duduk ke tempat semula.
"Iya, jadi biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka, kamu jangan ikut campur ya," kata Jason mengelus lembut rambut istrinya.
Lily menelan ludahnya susah payah melihat pemandangan yang terpampang nyata di depannya.
Jason melihat kemana arah pandang istrinya, setelah tahu, Jason pun tersenyum jahil. Jason segera berdiri.
"Mau memakai pakaianku, sebelum nanti aku diterkam macan betina," kata Jason dan langsung berlalu meninggalkan Lily yang mengernyitkan dahi bingung.
"Macan betina, mana ada macan betina disini?" Gumam Lily tapi tiba-tiba.
"Pria dingin! Jadi maksudmu kamu mengataiku macan betina?" Teriak Lily dan Jason hanya tertawa mendengar teriakan istrinya.
Lily bangun dan menghampiri Jason yang ada di kamar mandi.
"Pria dingin cepat buka! Macan betina ini akan segera menerkammu," kata Lily menggedor pintu kamar mandi merasa kesal karena suaminya mengatainya macan betina.
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka menampilkan suaminya yang sudah rapi dengan kaos hitam dan celana pendek selut yang juga berwarna hitam.
Jason heran saat tidak melihat keberadaan istrinya, hingga mendadak dirinya terkejut saat tiba-tiba ada yang melompat ke punggungnya.
"Kena kau pria aneh, macan ini akan segera menerkamku," kata Lily bersemangat sudah seperti anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Sayang kau mengagetkanku saja, untung saja jantungku tidak copot, dan jangan seperti ini lagi, bahaya," peringat Jason pada istrinya yang menjawab dengan anggukan.
Jason berjalan ke arah tempat tidur mereka, tapi urung karena mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Kamu turun dulu!" Pinta Jason pada istrinya tapi dengan cepat mendapat penolakan dari Lily.
"Buka pintu sambil terus gendong aku," Lily mengeratkan pegangannya di leher Jason, sampai pria itu mengadu kesakitan saat istrinya memeluk erat lehernya sudah seperti orang mencekik saja.
"Tapi sayang."
"Ayolah suamiku tercinta!" Kata Lily dan Jaso pun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istrinya.
Dengan masih menggendong Lily di punggungnya, Jason berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Begitu pintu terbuka, ayah mertuanya lah yang berada disana.
"Ayah ada apa?" Tanya Jason ketika melihat bahwa Alan lah yang ternyata mengetuk pintu kamarnya.
"Ale kenapa?" Alan panik ketika melihat putrinya ada di dalam gendongan Jason, bahkan pertanyaan dari menantunya tadi diabaikan begitu saja.
"Ale tidak apa-apa Ayah," jawab Lily meyakinkan kepada ayahnya bahwa dirinya benar-benar baik saja.
"Sungguh?"
"Iya, sayang turunkan," Lily lalu minta diturunkan dan Jason pun langsung menurutinya.
"Ayah kenapa?" Kini Lily merangkul lengan ayahnya.
"Ayah tidak apa-apa, Ayah hanya ingin mengajakmu keluar sebentar," Alan menatap Lily dan Jason bergantian.
"Ya sudah ayo!" Jawab Lily dengan cepat kemudian dia menatap suaminya.
"Sayang bolehkan aku keluar sama Ayah? Hmm atau kamu mau ikut?"
Jason menatap Alan seolah meminta persetujuan dari Ayah mertuanya itu.
"Iya lebih baik kamu juga ikut," Alan tampaknya setuju dengan putrinya untuk mengajak Jason.
"Baiklah, aku ikut, tunggu sebentar, aku ambil ponsel dulu," setelah mengatakan itu, Jason pun masuk kembali ke dalam kamarnya mengambil dompet, kunci mobil dan ponselnya.
__ADS_1
Kemudian mereka pun bertiga keluar bersama, tapi saat masuk ke dalam mobil mereka segera keluar kembali begitu melihat seseorang yang mendekat dengan penampilan kacaunya.