Please Love Me

Please Love Me
Bab 301


__ADS_3

Lily akhirnya merasa lega, karena tadi akhirnya Dahlia mau menjawab panggilan darinya, Lily membujuk Dahlia meminta agar kakaknya itu tidak marah pada Al, Lily mengatakan jika mungkin saja Al salah melihat orang, Lily bahkan bilang jika Al ingin berbicara dengannya, lebih tepatnya Al akan minta maaf pada Dahlia karena sudah berbicara asal. Dahlia menolak berbicara dengan Al, tapi setelah bujukan Lily, akhirnya  gadis itu pun menyetujuinya. Dahlia bahkan akan berbicara dengan Al secara langsung, ya gadis itu memutuskan akan datang ke rumah Lily, siang nanti.


Lily tentu saja, senang mendengar hal itu, bahkan setelah panggilan berakhir, Lily masih saja tersenyum, dia hanya ingin jika Al dan Dahlia berbicara, dan jika pun mereka tidak bisa bersatu, mereka akan menjadi teman.


"Ibu lapal" ucap Cinta menatap ibunya.


Lily melihat ke layar, film nya sudah selesai. 


Lily kembali menekan tombol power untuk mematikannya. Kemudian menggandeng putrinya keluar kamar menuju ke dapur, disana dia juga melihat Al yang duduk menghadap sarapan yang belum sama sekali disentuhnya.


Lily membantu putrinya duduk, kemudian mengambilkan makanan untuk gadis kecilnya. Lily ikut duduk di samping Cinta, untuk menyuapinya. 


Satu sendok masuk ke dalam mulutnya, sambil menunggu Cinta menelan makanannya, Lily melirik ke arah Al yang ternyata tengah memperhatikannya.


"Kenapa? Ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Al yang seperti bisa membaca gelagat Lily.


"Katakan saja!" Ucap Al lagi.


Lily menghela nafas, menyuapi lagi putrinya, sebelum akhirnya dia membuka suara.


"Kak Lia akan kemari."


Al menatap ke dalam mata Lily, mencari kebohongan di mata adiknya.  Tapi Al tidak menemukan kebohongan itu.


"Tapi aku minta tolong sama Kak Al, jangan katakan apa yang tadi kakak katakan, dan aku minta…."


"Kakak meminta maaf, dan mengatakan jika Kakak salah orang," potong Al yang sudah mengira apa yang akan diucapkan Lily.


"Iya, apa kakak bisa? Aku tidak mau hubungan kita renggang hanya karena masalah yang belum tentu benar."


"Ale, kakak benar-benar yakin jika itu Devan."


"Iya, aku tahu, tapi belum tentu yang kita lihat itu kebenarannya kan, bisa saja yang   bersama Devan itu saudaranya, atau mungkin temannya? Kita tidak bisa mengatakan itu, karena sesuatu tanpa ada bukti, itu hanya menimbulkan keraguan." Al menunduk dan Lily tahu apa yang Al pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Ale percaya sama Kak  Al, hanya saja Kak Al harus mencari buktinya dulu sebelum memberitahu hal itu, bukan untukku, tapi untuk Kak Lia."


"Kamu percaya sama kakak?"


"Hmm, dan Kak Al harus mendapatkan kepercayaan Kak Lia dulu, sebelum kakak mencari bukti bahwa yang Kak Al lihat benar."


Al mengangguk-anggukan kepalanya, dan  Lily tersenyum, akhirnya Al mengerti.


"Jadi Kak Al mau kan mengatakan seperti tadi aku katakan?"


"Iya, kakak mau."


Lily langsung bernafas lega, mendengar itu.


*


*


Lily tersenyum menyambut kedatangan tamunya, tebakannya 100 persen benar, bahwa yang datang memanglah kakaknya.


"Ayo kak masuk!" Satu tangan Lily menggamit lengan Dahlia, satu tangannya berada di punggungnya.


"Kapan perkiraan kamu melahirkan?"


"Hmm katanya sih beberapa hari lagi, tapi entah kapan tanggalnya," jawab Lily seadanya.


Pandangan Dahlia kini turun dan tertuju pada perut besar Lily, "Hmm boleh kakak memegangnya?" Tanyanya ragu.


"Tentu saja," jawab


Lily yang disertai anggukkan mantap, Lily kemudian merasakan telapak tangan Dahlia yang kini berada di perutnya.


"Hmm waktu cepat berlalu ya Ly, baru saja rasanya kemarin kamu baru lulus, kini kamu sudah menjadi ibu dua anak." Kata Dahlia mengangkat tangannya kembali, kemudian mulai melangkah beriringan dengan Lily.

__ADS_1


"Ya kak kau benar, waktu cepat sekali berlalu, aku bahkan tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini, di usiaku saat ini. Aku yang dulu sempat berfikir jika aku mungkin saja sibuk bekerja di usia ini, siapa sangka, jika aku hanya akan duduk manis disini."


Dahlia mengangguk, menyetujui perkataan adiknya. 


"Oh ya Cinta mana?" Tanya Dahlia saat baru menyadari jika Cinta tidak disana. 


"Cinta baru saja tidur, oh ya kak, bagaimana jika kita duduk di samping kolam renang saja, kebetulan cuaca juga tidak terlalu panas hari ini," kata Lily menawarkan.


"Ya uda ayo!" Jawab Dahlia yang kini menggandeng adiknya menuju tempat yang Lily tawarkan tadi.


Keduanya berjalan ke arah kolam, Lily menoleh ke sampingnya, dimana Dahlia kini terdiam membeku tidak melanjutkan langkahnya. Lily melihat kemana arah pandang Dahlia saat ini. Ternyata Dahlia tengah menatap Al yang kini baru saja keluar dan kolam, mengenakan handuk sebatas pinggang, dengan bertelanjang dada.


"Hai!" Al menyapa lebih dulu. Yang hanya dibalas senyum kikuk Dahlia. Setelah itu, Lily melihat Dahlia yang kini justru menunduk, seperti tidak bisa melihat kakaknya.


"Lia!"


"Hah, hmm iya kak?"


"Maaf," ucap Al pelan.


"Maaf untuk ucapanku tadi pagi, tapi setelah aku pikir-pikir, aku sepertinya aku salah melihat, mungkin mereka hanya mirip, lagian mana mungkin kan aku bertemu dengan Devan, sedang kita tinggal berjauhan? Pokoknya aku benar-benar minta maaf, kamu mau kan maafin aku."


"Iya Kak, tidak apa-apa, aku tadi yang berlebihan merespon saja."


Lily hanya diam saja, membiarkan keduanya berbincang tanpa ada niat mengganggunya.


Al mengulurkan tangan, yang tentunya langsung mendapat sambutan dari gadis yang berdiri tepat di depannya.


Keduanya tersenyum, Al kemudian berpamitan ke kamarnya dan tentu saja langsung mendapatkan izin keduanya.


Lily terus memandangi kakaknya yang tengah menatap punggung Al yang menjauh, hingga Al benar-benar hilang dari pandangan, barulah Lily mengajak Dahlia untuk duduk di sebuah kursi dari rotan yang terletak di samping kolam renang. 


Keduanya pun mengobrol, banyak hal yang kedua saudara itu bicarakan, Lily terus menatap Dahlia merasa rindu akan momen-momen itu, momen yang tidak pernah bisa di ulangi lagi, dan hanya bisa dikenang saja. Suara kakaknya, mereka duduk berdua seperti ini,.dan jika saja….ibu mereka masih ada di tengah-tengah keduanya, Lily pasti akan merasa senang, tapi sayangnya, ibunya sudah pergi terlebih dahulu, bahkan sebelum Lily sempat membahagiakannya. Lily memang mengobrol dengan Dahlia saat itu, tapi tidak dengan pikirannya, yang entah ada dimana. Kilatan bayangan dirinya bersama ibunya terulang kembali dibenaknya, hal itu membuat dadanya justru merasa sesak, hingga tanpa sadar Lily menjatuhkan air matanya. Dan Dahlia yang melihat itu, tentu saja begitu panik, dirinya takut salah bicara hingga membuat adiknya menangis, tanpa tahu jika Lily menangis karena merindukan sang ibu yang membesarkannya.

__ADS_1


__ADS_2