
"Bagaimana dok?" Tanya Liora setelah dokter itu selesai memeriksa Jason.
"Semuanya normal Bu, apa ada keluhan lain Pak selain pusing?" Tanya dokter itu.
"Hanya mual dan muntah, tapi sekarang saya baik-baik saja," ucapnya.
"Baiklah saya akan resepkan Vitamin, nanti bisa ditebus, kalau begitu saya permisi Pak, Bu," ucap dokter itu kemudian berlalu, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti, "Untuk memastikan, Anda bisa membawa istri Anda ke dokter kandungan," ucap dokter itu tersenyum, menatap Jason dan Liora bergantian, kemudian berlalu.
Dan Liora pun berpamitan kepada Jason untuk mengantar dokter yang tadi memeriksa Jason.
Jason terdiam mencerna ucapan dokter itu, "Maksud dokter tadi apa?" Gumam Jason yang di dengar Liora yang baru saja kembali setelah mengantarkan dokter tadi.
"Mungkin saja, Kak Jason seperti ini, karena Lily sedang hamil," jawab Liora mencoba setenang mungkin, walau sesungguhnya di dalam hatinya tidak baik-baik saja mendengar berita itu.
"Lily hamil, istriku hamil?" Tanya Jason lagi menatap Liora, memastikan bahwa apa yang dikatakan gadis itu memang benar.
Liora pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jason.
Jason dengan segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lily, tapi dirinya dibuat kesal karena Lily tidak juga menjawab panggilan darinya.
Liora mengernyitkan dahi melihat ekspresi Jason saat ini.
"Kenapa Kak?" Tanya Liora yang penasaran.
Jason menatap Liora, dan kemudian bangun dari sofa.
"Kau persiapkan berkasnya kita berangkat sekarang!" Ucap Jason yang langsung meninggalkan Liora.
"Hah," Liora menepuk keningnya dan segera berlari menyusul Jason.
"Kak tunggu! Kak!"
Jason pun menoleh ke belakang, menatap tajam Liora yang berteriak memanggilnya hingga membuatnya semakin kesal.
"Kenapa? Kau pikir tempat ini hutan?" Ucap Jason.
"Kak kita mau kemana?" Tanya Liora dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya? Kau sekretarisku, seharusnya kau lebih tahu jadwalku, kau bilang kita akan ada pertemuan dengan Tuan Bastian, baru tadi pagi kau mengatakannya tapi kau sudah lupa?"
"Iya aku tahu jadwal pertemuan itu, tapi Kak aku sudah menundanya, dan Jadwal pertemuannya di ganti besok pagi," ucap Liora menjelaskan.
"Padahal dia sendiri yang lupa," gumam Liora.
"Kau baru bekerja belum ada sehari, tapi kau malah bersikap seenaknya dengan mengganti jadwal pertemuan sesukamu," marah Jason menatap Liora tajam.
"Kak, bukankah kau yang menyu…"
Jason segera memotong ucapan Liora.
"Cepat kau hubungi Tuan Bastian lagi, kita akan adakan rapat satu jam lagi," perintah Jason.
"Tapi Kak."
"Cepat Liora, atau aku akan meminta Tuan Muda menggantimu dengan orang lain," ancam Jason yang tentunya membuat Liora langsung menuruti ucapan pria itu.
"Dasar seenaknya saja, dia pikir dia siapa," gerutu Liora.
Dan dengan cepat Liora segera pergi meninggalkan pria itu, untuk menghubungi klien mereka, Liora harus bersiap akan mendapat makian juga dari klien mereka karena sudah seenaknya, menunda jadwal dan sekarang justru meminta untuk kembali memajukan pertemuan mereka.
Dan kekesalan Liora bertambah saat diminta Jason memajukan pertemuan dengan yang lainnya yang terjadwal besok ataupun beberapa hari ke depan hari ini juga, sehingga membuatnya harus lembur sampai larut malam.
"Dasar pria menyebalkan, kenapa aku dulu bisa menyukai pria seperti itu," gumamnya melirik Jason yang sedang berbicara dengan klien terakhir mereka hari ini.
"Baik Pak terima kasih," kata Jason bangun dan menjabat pria itu, begitu pun dengan Liora yang mengikuti apa yang Jason lakukan.
"Kita kembali sekarang, dan ingat untuk persiapkan berkas-berkasnya, kita akan berangkat pagi-pagi sekali, kau sudah menghubungi mereka kan?" Tanya Jason yang berjalan lebih dulu meninggalkan Liora yang kini berjalan di belakangnya.
"Sudah Pak, besok kita akan menemui Tuan Mike pukul 7 pagi, dan saya juga sudah persiapkan berkas-berkasnya," kata Liora mencoba profesional.
"Baiklah terima kasih," kata Jason yang kemudian kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri.
*
*
__ADS_1
"Sayang makannya pelan-pelan," ujar Vega yang melihat Lily makan seperti orang yang sudah tidak makan tiga hari.
"Habisnya makanan Ibu sangat enak," kata Lily yang kini kembali menyuapkan sendok penuh dengan makanan ke dalam mulutnya.
Dahlia hanya geleng-geleng kepala melihat cara makan adiknya itu.
"Kakak tidak akan merebutnya, jadi pelan-pelan saja makannya," ujar Dahlia membuat Lily tersenyum dan kemudian kembali mencomot makanan yang masih ada.
Vega merasa senang karena putrinya menyukai masakan yang dibuatnya pertama kali untuk Lily.
Vega terus menatap Lily hingga tidak terasa air matanya jatuh begitu saja, tapi dengan cepat wanita paruh baya itu menghapusnya dan hal itu disadari oleh Dahlia.
Dahlia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan ibunya, Vega menatap putrinya itu dan tersenyum, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Akh kenyang sekali," kata Lily duduk bersandar dan mengelus perutnya yang terasa kenyang.
"Bagaimana tidak kenyang jika semua makanan yang ada disini kau habiskan semua," ucap Dahlia mencibir.
"Hehehe, habis enak Kak rasanya," kata Lily nyengir menunjukkan deretan giginya.
"Ya sudah kalian sana ke ruang tamu, membiarkan kedua putrinya untuk bersantai.
"Biar Lia saja Bu, Ibu temani Lily saja," ucap Dahlia mencegah Ibunya yang sedang mengambil piring bekas makan mereka.
Vega menatap Lily, "Baiklah, Ayo kita ke depan," Vega pun mengajak putrinya ke ruang tamu.
"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Vega yang bingung harus mengobrol apa dengan Lily, karena sekarang hanya berdua saja dengan Lily, dirinya masih merasa canggung.
"Ayah baik-baik saja, hmm Bu, Ibu yakin mau pergi, kenapa tidak tinggal disini saja? Bagaimana jika nanti aku kesepian seperti sekarang? Aku harus kemana kalau bukan ke tempat Ibu," kata Lily menatap Ibunya yang kini sedang duduk di sampingnya.
"Kamu kan sudah punya keluarga sayang, masih ada suami, kakak dan ayah, kamu tidak akan kesepian, tapi jika Kakakmu, dia hanya punya Ibu, jika bukan Ibu yang menemaninya mau siapa lagi hmm?" Vega menyelipkan rambut Lily ke belakang telinganya.
Lily memeluk Ibunya erat, "Kenapa sih Kak Lia harus memutuskan untuk pergi? Kenapa tidak tetap disini saja?" Ucap Lily yang kini sudah menangis mengingat beberapa hari lagi, kakak dan ibunya harus pergi.
Dahlia yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan adiknya, kini mendekat menghampiri kedua orang yang disayanginya dan langsung memeluk mereka.
"Maafkan Kakak ya, Kakak harus pergi, Kakak ingin menjadi lebih baik lagi, dan Kakak minta kamu jangan sedih, kita masih bisa saling berkomunikasi kok," kata Dahlia mencoba menahan sebisa mungkin agar air matanya tidak jatuh, Dahlia tidak mau hal itu akan menggoyahkan tekadnya.
__ADS_1