
Jason mendekat dan menarik Ronald agar segera berdiri dan menjauh dari istrinya. Tapi tangan Liora justru tertarik hingga hampir saja jatuh mengenai Lily. Untung saja tangan Liora satunya berpegang pada pembatas sofa, buru-buru keduanya melepaskan genggaman tangan mereka.
Lily segera bangun, Jason dan Lily saling pandang. Ternyata Jason salah paham, dia mengira Ronald bermaksud untuk merangkul istrinya.
"Kak Jason datang-datang main tarik aja, untung tidak mengenai Lily," kesal Liora yang kini membenarkan posisi duduknya.
"Ini juga salah kalian berdua, kenapa berpegangan tangan di belakang tubuh istriku, dan membuatku mengira jika dia mau memeluk istriku," jawab Jason yang merasa itu bukan kesalahan dia sepenuhnya.
"Lagian kenapa kalian masih ada disini? Liora sebaiknya kamu pulang sekarang! Tuan dan Nyonya pasti sekarang mencarimu.
"Papi sama Mami sudah kembali?"
"Hmmm dan mungkin saja, Tuan dan Nyonya sudah tahu dari Max tentang dia," kata Jason menunjuk Ronald dengan dagunya.
Liora langsung berdiri dan menghampiri Jason.
"Kak, kau serius?"
"Untuk apa aku bohong, lebih baik pulang sekarang. Kasihan dia sejak tadi menunggu di depan."
Liora tahu siapa dia yang dimaksud Jason, siapa lagi jika bukan orang suruhan Max yang selalu mengikutinya.
Terdengar hembusan nafas Liora. Dan kemudian gadis itu pun berkata, "Baiklah aku pulang sekarang!" Liora kemudian berbalik menatap Ronald.
"Aku pulang dulu," pamit Liora.
Ronald memeluk Liora dan mengecup kening gadis itu, "Ya sudah, maaf tidak bisa mengantarmu, nanti jika sudah sampai rumah kamu kabari aku. Oh ya, sampai lupa, mana ponselmu," Ronald melepaskan pelukannya, lalu menengadahkan tangannya meminta ponsel Liora.
Liora tanpa banyak kata menyerahkan ponselnya pada Ronald. Ronald pun mengetikkan beberapa angka nomornya dan kembali memberikan ponsel pada pemiliknya.
"Iya nanti sampai rumah aku kabari," Liora kemudian berpamitan pada Jason dan Lily lalu melangkah keluar.
Ronald hanya menatap kepergian Liora, untuk saat ini dia tidak bisa mengantar, lain kali, Ronald pasti akan mengantarnya. Yang terpenting mulai saat ini dia harus berusaha untuk mendapatkan restu dari keluarga Liora.
"Kenapa kamu tidak ikut pergi?" Jason yang merangkul pinggang istrinya menatap Ronald yang justru masih berdiri dan tidak juga beranjak untuk meninggalkan rumah mereka.
"Iya ini mau pergi," Ronald kemudian mengambil jasnya yang tadi tersampir di sofa menaruh di lengannya dan menghampiri Lily.
"Makasih," ucapnya memegang bahu Lily dan berlalu.
__ADS_1
"Apa-apaan dia, beraninya menyentuhmu," Jason langsung membersihkan jejak Ronald dari bahunya, seakan jika bekas sentuhan Ronald sudah seperti kuman saja.
"Sayang! Sakit tau," kata Lily saat merasa suaminya terlalu keras melakukannya.
"Maaf habisnya dia sembarangan saja sentuh-sentuh kamu," kesal Jason.
"Ayo aku siapkan air hangat, kamu mau langsung mandikan?"
"Ayo! Tapi nanti biar aku sendiri saja yang menyiapkan, aku tidak mau istriku kelelahan."
Lily tersenyum menatap suaminya "Pengertian banget, suami siapa sih?" Ucapnya sambil mencubit kedua pipi Jason gemas.
"Tentu saja kamu sayang," keduanya pun tertawa sambil berjalan ke kamar mereka.
"Oh ya, kenapa tadi Ronald bisa ada disini?" Tanya Jason yang membuat langkah Lily yang akan menuju walk in closet terhenti.
"Aku menghubunginya, aku tidak tega melihat Kak Liora, sepertinya Kak Liora cinta banget deh sama Ronald," Lily kini kembali berjalan ke arah suaminya yang sedang berdiri di samping ranjang, sambil melepas kancing kemejanya satu persatu. Dia kemudian duduk di atas ranjangnya.
"Sayang, menurutmu keputusanku benar atau tidak? Aku dengar-dengar Ronald itu suka berganti-ganti wanita, tapi aku melihat jika Ronald tulus sama Kak Liora, makanya aku memutuskan untuk membantu Kak Liora dan meluruskan salah paham di antara mereka."
Jason menarik nafas dan kini mendekat dan duduk di samping istrinya.
"Sayang aku tahu maksudmu baik, dan oke untuk kali ini saja kamu membantu, lain kali jangan, aku takutnya masalah ini akan semakin besar dan kamu jadi terseret-seret jika ada masalah antara Liora dan Ronald. Apalagi Max sangat menentang hubungan mereka. Aku tidak mau nantinya kamu akan disalahkan jika kelak terjadi sesuatu pada hubungan mereka, kamu mengerti?"
"Ya sudah aku mau mandi dulu, atau kamu mau ikut?" Jason mengedipkan sebelah matanya menggoda Lily.
"Tidak, kamu saja dulu," Lily mendorong suaminya agar segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Serius tidak mau ikut?" Ucap Jason sebelum menutup pintunya.
"Sayang!" Lily mendorong suaminya kemudian menutup pintu.
Sementara Jason tertawa lepas melihat wajah istrinya yang memerah.
"Dasar!" Gumam Lily mengulum senyum kemudian melanjutkan niatnya untuk mengambil pakaian ganti untuk suaminya.
Lily terdiam di depan lemari, mengingat apa yang tadi suaminya katakan, mengingat kejadian dulu, antara Liora, Jason dan dirinya. Selain karena melihat tatapan Ronald yang tulus, Lily juga ingin menebus rasa bersalahnya pada Liora. Iya selama ini, Lily selalu merasa bersalah dan dia tidak pernah menunjukkannya. Lily tidak ingin Liora kembali merasakan kehilangan cintanya untuk yang kedua kali. Dia hanya berharap jika Ronald memang pria baik-baik, tidak akan menyakiti Liora, dan juga mau berjuang untuk cintanya. Dan jika Ronald seperti yang dikatakan orang-orang, Lily berharap Ronald akan berubah menjadi lebih baik demi Liora."
"Sayang kenapa malah melamun disini? Mana bajuku?"
__ADS_1
Lily terkesiap saat tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya,
Entah sejak kapan suaminya itu selesai, tiba-tiba saja Jason sudah berada disana.
"Kamu sudah selesai? Tumben cepat," Lily menarik kaos untuk suaminya pakai.
"Cepat?" Jason mengernyitkan dahi saat istrinya mengatakan cepat, padahal Jason merasa mandinya cukup lama seperti biasa.
Lily mengangguk, Jason kemudian memegang kedua bahu istrinya agar menghadap pada dinding, dimana ada sebuah jam terpasang disana.
"Hah jadi kamu sudah mandi selama 20 menit?"
"Iya, dan aku kedinginan karena menunggu kamu, jadi kamu harus tanggung jawab," ucap Jason serius.
"Ya ini, kamu pakai bajunya!" Lily menyerahkan kaos yang tadi diambilnya agar dipakai suaminya.
"Bukan ini."
"Terus?" Tanya Lily dengan dahi yang berkerut.
"Peluk!" Jason merentangkan kedua tangannya, meminta Lily untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Ayo sayang! Kenapa diam saja?"
"Baiklah berpelukan," Lily pun langsung masuk ke dalam pelukan suaminya yang dibalas Jason pelukan tak kalah erat.
"Kenapa tadi melamun?" Tanya Jason.
"Tidak, siapa juga yang melamun," elak Lily.
Jason menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia tahu jika pasti ada yang istrinya sembunyikan.
"Jika ada apa-apa, ceritakan ya, jangan disimpan sendiri, aku tidak mau kamu terlalu banyak pikiran," ucap Jason tiba-tiba.
Lily terdiam cukup lama, kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya, kalau ada sesuatu nanti aku pasti akan ceritakan sama kamu, ya sudah, lebih baik sekarang kamu pakai bajunya, aku mau mandi dulu," kata Lily mengambil pakaian gantinya, membiarkan suaminya memakai bajunya.
__ADS_1
Kemudian keduanya pun keluar dari walk in closet, Lily berjalan menuju kamar mandi dan Jason menuju sofa dan duduk di sana. Tapi Lily mengurungkan niatnya dan berbalik berjalan ke arah nakas, saat mendengar ponselnya berdering.
Lily langsung menggeser ikon berwarna hijau saat tahu jika Dahlia yang menghubunginya. Dan Lily terkejut saat panggilan sudah terhubung, tapi tiba-tiba dia mendengar suara kakaknya justru menangis di seberang telepon.