
Lily dibuat bingung saat semua karyawan bahkan temannya Mira menyambut hormat kedatangan suaminya. Ya Lily tidak salah lihat jika mereka yang bertemu dengan suaminya akan menundukkan kepalanya. Lily menatap suami dan para pekerja itu bergantian.
Pandangan Lily dan Mira bertemu, Mira menatap Lily meminta penjelasan dari temannya itu. Dan Lily memberi isyarat pada temannya itu, akan menjelaskannya nanti. Bagaimana dirinya akan menjelaskannya sekarang, sementara dirinya juga saat ini benar-benar bingung.
"Tunggu sayang! Bukankah ini ruangan wakil pimpinan, maksudku orang kepercayaan pemilik perusahaan ini? Kenapa kita kemari? Sayang kamu tidak benar-benar menyuruhku untuk mengundurkan diri kan?" Tanya Lily was-was takut jika tujuannya kemari adalah membuatnya kehilangan pekerjaan.
Jason hanya tersenyum, apalagi melihat wajah gelisah sang istri.
"Masuklah nanti kamu akan tahu!" Jason membukakan pintu mempersilahkan istrinya masuk.
Lily dengan sedikit ragu, perlahan pun masuk ke ruangan atasan yang belum lama ini menyuruhnya membuatkan sarapan, mengingat itu, Lily semakin gelisah, bukannya kemarin makanan itu dimakan Jason," Lily menatap laki-laki yang berjalan di sampingnya, dia terlihat tenang, dan kali ini bisa dia lihat suaminya dalam mode dingin.
Lily meremas bagian bawah pakaiannya merasa gugup takut jika atasannya membuat perhitungan atas kejadian kemarin hingga sampai memanggil orang yang bersangkutan kemari, lantas bagaimana jika atasannya tahu bahwa Jason adalah Suaminya, dapat Lily pastikan dirinya mungkin akan dipecat saat ini juga.
"Ayo! Kenapa berhenti?" Tanya Jason yang melihat Lily berhenti di depan pintu.
"Kita mau apa kemari?" Tanya Lily untuk kesekian kalinya, dirinya benar-benar penasaran tujuan suaminya mengajaknya ke tempat kerjanya.
"Lily!" Pekik Jasmine berjalan perlahan dengan perut besarnya menghampiri sahabat baiknya.
Lily yang tadi begitu gugup, wajahnya langsung ceria begitu melihat sahabatnya itu juga ada disana.
"Jasmine!" Teriak Lily dan langsung memeluk calon Ibu itu.
"Aku kangen," kata Lily yang semakin erat memeluk Jasmine.
__ADS_1
"Lily jangan erat-erat, kasihan anak-anakku," kata Jasmine menegur Lily yang memeluknya erat.
"Hehe maaf, habisnya aku kangen banget sama kamu," ujar Lily memberikan alasan.
"Baru juga dua hari tidak bertemu," Jasmine melepaskan pelukan mereka dan kembali berjalan masuk, dan duduk di samping suaminya yang kini duduk di sofa dan sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.
Lily mengikuti langkah Jasmine bersama Jason. "Eh ada Tuan Stevano juga," Lily tersenyum canggung saat melihat Stevano suami Jasmine juga ada di sana.
"Duduklah temani istriku, aku akan mengajak Jason untuk rapat, Jason bilang kalian akan pergi honeymoon lusa, jadi hari ini dan besok Jason akan menyelesaikan pekerjaannya dulu sebelum berangkat dan serah terima pekerjaan yang belum selesai," jelas Stevano. "Dan untukmu, aku ijinkan kamu perpanjang cutimu, tapi hanya untuk kali ini, aku tidak mau semua pekerjaku iri karena memperlakukanmu secara istimewa, karena kamu istri dari orang kepercayaanku, dan sahabat istriku," tambahnya kemudian.
"Tunggu, maksudnya gimana? Aku tidak paham apa yang Tuan Stevano katakan, siapa istri dari orang kepercayaan Tuan Stevano, kemudian apa hubungannya dengan memperpanjang cutiku, memang siapa orang kepercayaan Tuan Stevano," tanya Lily yang memang tidak mengerti dengan apa yang suami sahabatnya katakan menatap Stevano, Jason dan Jasmine bergantian seolah meminta jawaban yang jelas dari semua pertanyaannya tadi.
Stevano menatap Jason dan Istrinya, istrinya hanya nyengir kuda, sementara Jason menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang jadi begini, Tuan Muda adalah pemilik perusahaan ini, dan aku adalah orang kepercayaannya yang selama ini mengurus perusahaan ini," jelas Jason pada sang istri yang kini membelalakan matanya mendengar fakta yang baru diketahuinya.
Tok
Tok
"Maaf Tuan Jason, sebentar lagi rapat akan segera dimulai, saya sudah mempersiapkan berkas-berkasnya," kata Natalie Sekretarisnya.
"Hmm, kau boleh keluar, lain kali sebelum dipersilahkan jangan sembarangan masuk, dan aku sudah peringatkan padamu untuk memakai pakaian yang lebih sopan, ini peringatan terakhir, jika kamu masih mengabaikan peringatan dariku, lebih baik kamu tulis surat pengunduran diri," ucap Jason tegas.
"Maaf Tuan, besok saya akan lebih perhatikan penampilan saya," kata Natalie yang merasa dipermalukan oleh Jason di depan tamunya bahkan di depan gadis yang diketahui bekerja sebagai cleaning service itu.
__ADS_1
"Aku pergi rapat dulu ya, kamu temani Nyonya Muda," kata Jason mengecup kening Lily.
"Wah sepertinya pria dinginmu mulai menghangat," goda Jasmine yang baru kali ini melihat secara langsung sikap Jason pada Lily.
"Tentu saja kan setiap malam aku sudah menghangatkannya," jawab Lily asal tanpa rasa malu.
Jason geleng-geleng kepala, mendengar jawaban istrinya yang asal ceplos saja.
"Ayo pergi sekarang!" Ucap Stevano yang kemudian mengecup bibir istrinya sekilas, kemudian berjalan lebih dulu.
"Dan pria yang mengerikan sudah berubah menjadi pria bucin," kata Lily begitu Stevano dan Jason sudah keluar ruangan.
Jasmine dan Lily pun tertawa bersama.
***
"Halo Kak, Ibu sekarang ada di rumah, aku sudah bilang sama Ibu, jika Kakak akan ingin bertemu. Dan Ibu bilang Kakak bisa datang siang nanti, tapi sepertinya aku tidak bisa menemani Kak Al, aku ada jadwal kuliah siang ini," ucap Seorang gadis tengah menelpon seseorang yang bernama Al.
"Tidak apa-apa, aku akan temui Ibumu sendiri, dan terima kasih karena selama ini sudah banyak membantuku, kamu tidak mengatakan kepada Ibumu kan tentang tujuan aku ingin bertemu dengannya?"
"Tidak Kak, Kak Al tenang saja, ya sudah Kak, kita lanjutkan nanti, dosenku sudah datang," ucap Dahlia yang langsung memutuskan panggilan sepihak tanpa persetujuan dari pria diseberang telepon.
Al hanya menatap nanar ponselnya, Al merasa belakangan ini Dahlia seperti menghindarinya dan Al tidak mengerti alasan gadis itu. Niat Al untuk meminta maaf pun akhirnya batal, Al sekarang tahu jika Dahlia mengalami kesulitan sendiri, dia melihat Dahlia bekerja di sebuah restoran dan sering mengalami masalah, dan Al juga mendengar dari Adiknya jika Dahlia selama ini juga bekerja tapi dia selalu mengalami kesulitan dalam bekerja karena selama ini dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah karena semua pekerjaan rumah, adiknya yang mengerjakan. Dan Al merasa bersalah karena sudah menuduh gadis itu yang tidak-tidak, dan dia selama ini telah salah menilai gadis yang menjadi Kakak dari adik kandungnya.
Al kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas dan bersiap karena sebentar lagi dirinya akan ke rumah sakit untuk mengatakan hal ini pada Ayahnya, karena Ayahnya berpesan jika dia akan ikut jika Al nanti mendapat kabar tentang wanita yang sudah membesarkan putrinya.
__ADS_1
Al langsung bergegas ke kamar mandi, setelah tadi sempat menghubungi Ayahnya, Al berharap jika pertemuan ini akan memberikan petunjuk tentang Ibu kandungnya.