
Dahlia menoleh saat merasa Lily kini tengah menatapnya dengan ekspresi datar.
Buru-buru Dahlia melambaikan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu salah paham, bukan seperti yang kamu pikirkan, maksud kakak, apa kakak bisa mendapatkan kebahagian yang sama seperti yang sekarang ini kamu dapatkan," Dahlia berusaha menjelaskan ucapannya tadi.
"Lily tau kok kak, Lily yakin suatu saat kakak juga akan menemukan kebahagiaan kakak, entah dengan Kak Devan atau dengan pria lain yang nantinya menjadi tambatan hati kakak."
Dahlia tersenyum dan mengaminkannya, kakak beradik itu kemudian melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.
*
*
"Kakak yakin tidak mau diantar?" Tanya Lily saat kakaknya akan pulang setelah berpamitan tadi.
Dahlia tersenyum, " Hmm iya, kakak akan ke suatu tempat dulu, dan tidak tahu akan lama atau tidak, kakak bisa naik taxi dan kamu tidak perlu khawatir."
"Baiklah, kakak hati-hati dan maaf aku tidak bisa mengantar ke depan."
"It's oke tidak apa-apa, kakak pulang sekarang."
Dahlia mengambil tas nya yang tadi dia letakkan di sofa, mengecup pipi keponakannya, barulah dirinya keluar dari kamar Lily.
"Dahlia mana?" Lily menoleh ke arah suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Pulang, katanya mau ke suatu tempat gitu. Oh ya sayang, Cinta dimana? Bukannya tadi bersama kamu."
"Tadi bermain bersama ayah dan ibu. Kamu sudah selesai makannya?"
"Hmm iya, ini aku mau bawa ke dapur dulu."
Jason buru-buru berjalan menghampiri istrinya dan mengambil nampan di tangan Lily.
"Biar aku saja, kamu temani Aulia."
Lily mengangguk, lantas dia kembali duduk di sofa, membuka ponsel dan membuka salah satu belanja online, dia ingin membeli sesuatu disana. Terlalu sibuknya Lily berselancar di layar ponselnya, sampai-sampai wanita itu tidak menyadari kedatangan Jason yang kini diam memperhatikan istrinya yang tengah serius entah apa yang sedang dilakukannya.
"Ehem!"
Mendengar deheman barulah Lily mengalihkan pandangannya, dia tersenyum dan menepuk sofa sampingnya, meminta Jason untuk duduk. Lily kemudian menunjukkan barang-barang yang ingin dibelinya, meminta pendapat dari suaminya itu.
"Hmm ini saja," tunjuk Jason yang ikut melihat-lihat.
__ADS_1
"Iya bagus sepertinya," kata Lily setelah melihat beberapa komentar dari pembeli.
"Terus kalau yang ini, kamu mau warna apa?"
"Hitam saja."
Lily mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa dimanyun-manyunkan gitu bibirnya? Mau dicium?"
"Kamu ini, pasti kalau ditanya warna apa selalu warna hitam, nanti bisa-bisa terlihat suram lagi."
"Yang penting aku suka."
"Tidak ah yang ini saja," Lily menunjukkan warna pilihannya.
"Ya sudah kalau gitu terserah kamu saja, daripada nanya, lalu aku jawab ingin yang ini malah akhirnya kamu sendiri yang memilih." Jason memilih membaringkan tubuhnya di sofa yang Lily duduki, menjadikan paha Lily sebagai bantalnya.
Lily sama sekali tidak keberatan, bahkan kini tangannya sudah mengelus lembut rambut Jason dan Jason pun memejamkan kedua matanya terbuai dengan sentuhan istrinya.
Lily menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ia menempelkan jari telunjuk di bibirnya, ternyata kakaknya yang kini masuk ke dalam kamar menggendong Cinta yang juga sepertinya tertidur.
Lily melihat Al membaringkan Cinta, juga memastikan putrinya aman.
"Kakak keluar," ucap Al tanpa suara.
"Kamu pasti lelah sayang," ucap Lily sambil menyentuh perlahan wajah Jason, Lily kemudian menyandarkan tubuhnya, ekor matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memandangi kedua putrinya yang juga tidur nyenyak.
Jason terbangun saat mendengar suara tangis putri keduanya, masih dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, pria itu turun dari sofa, berjalan cepat ke arah box bayi, mengangkat Aulia yang kini terbangun karena mungkin dia merasa haus.
"Sayang, Aulia haus," kata Jason sambil berusaha menenangkan putrinya dulu agar berhenti menangis sambil berjalan menghampiri sang istri.
"Sayang!" Jason mengangkat wajahnya dan melihat jika saat ini tertidur dalam posisi duduk.
Jason tidak tega membangunkannya, tapi bagaimanapun Aulia harus minum ASI sekarang juga. Apalagi saat mendengar tangis putrinya semakin kencang karena tidak juga mendapat makanannya.
"Sayang, tenang dulu ya, ayah banguni ibu dulu." Kata Jason pada putrinya itu terus berusaha menenangkannya.
Lily mengerjapkan kedua mata yang terasa berat, apalagi saat dirinya seperti mendengar tangis putrinya.
Pandangan pertama yang Lily lihat begitu membuka mata, adalah Jason yang sekarang sedang menimang-nimang putri mereka.
Lily bangun dan berjalan mendekat.
__ADS_1
"Anak ibu lapar ya?"
Jason langsung mendongak menatap sang istri yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Sayang kamu sudah bangun?"
Lily mengangguk sambil mengambil Aulia dari gendongan Jason. Kemudian berjalan kembali ke arah sofa dan kembali duduk disana. Sementara Jason terus saja mengekori sang istri.
Benar saja, Aulia langsung melahap makanannya. Jason sama Lily sampai menggelengkan kepala kompak.
"Duh, kalau kayak gini ayah gak dapat lagi."
Lily yang dari tadi terus menatap putrinya kini menoleh ke arah sang suami yang kini malah cengengesan.
"Hehe maaf sayang, habisnya tuh lihat putri kita, mengalahkan ayahnya. Untung saja Cinta sudah berhenti. Bagaimana kalau sama Cinta juga, benar-benar tidak dapat kan nanti aku nya."
"Sayang ih!"
Walaupun sudah memiliki dua anak, Jason masih saja suka menggoda istrinya itu. Saat Jason sedang menggoda putri kecilnya dan sang istri. Tiba-tiba suara tangis Cinta terdengar, anak pertama mereka terbangun.
"Ayah...ibu…"
Jason buru-buru menghampiri putrinya itu, Cinta akan menangis, jika tidak menemukan siapapun ada di sampingnya.
"Cintanya ayah sudah bangun?" Tanya Jason yang kini tiba-tiba saja sudah duduk di atas ranjang, mengelus rambut putrinya.
"Hiks...hiks...ayah!" Cinta mengulurkan kedua tangan.
Jason meraih dan mengangkat tubuh putrinya agar duduk di pangkuan, memeluknya sambil mengelus punggung putri kecilnya yang bergetar karena menangis.
"Sst….sst… sudah jangan menangis lagi, ada ayah disini." Ucap Jason menenangkan Cinta yang menangis sesenggukan.
"Masa udah gede masih nangis sih sayang?" Lily tiba-tiba saja sudah berdiri di samping ranjang, dengan posisi di belakang Cinta, mengelus rambut putri pertamanya.
"Ibu…" Cinta menoleh, hidungnya kembang kempis bahkan memerah.
"Iya sayang, ini ibu,"
"Ibu sama adik dalimana? Kenapa Cinta tidak diajak?"
"Ibu tadi sama ayah sama adik juga tadi duduk disana," Lily menunjuk sofa dimana Cinta mengikuti arah yang ditunjuk oleh ibunya.
"Cinta mau juga kesana," ucap Cinta dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Baiklah ayo!" Jason berdiri hingga otomatis membuat tubuh Cinta terangkat, dia melangkah, membawa Cinta yang berada dalam gendongan menuju ke sofa seperti yang diinginkan putrinya.
Sedangkan Lily hanya tersenyum, berjalan pelan mengikuti langkah suaminya, dengan masih menggendong Aulia.