Please Love Me

Please Love Me
Bab 259


__ADS_3

Jason panik saat istrinya kini berlari ke arah kamar mandi, bahkan sampai memuntahkan semua makanan yang baru saja dimakannya.


"Sayang kamu baik-baik saja?" Kata Jason ikut masuk dan membantu Lily mengurut tengkuknya.


Lily hanya menggeleng. Kemudian wanita itu menutup kloset dan mendudukinya. Mengurut keningnya saat tiba-tiba kepalanya merasa pusing.


"Apa perlu ke dokter?" Tanya Jason pada istrinya tapi lagi-lagi, Lily hanya menggeleng.


Lily mencoba bangun tapi tubuhnya hampir saja limbung, untungnya Jason dengan cepat menangkap tubuh Lily.


"Kamu yakin tidak ingin ke dokter?"


Lily menatap suaminya dan tersenyum, "Ya, nanti jika aku benar-benar semakin merasa tidak enak badan, aku akan bilang pada ibu atau ayah, kamu lupa jika kedua orang tuaku itu dokter," kata Lily kemudian.


"Tapi janji jika belum baikan kamu harus secepatnya bilang."


Lily pun mengangguk, "Aku hanya ingin istirahat, kepalaku pusing."


Jason dengan sigap membantu sang istri, mengangkat tubuh Lily dan membaringkannya di atas ranjang.


"Aku ambilkan minum dulu ya," pamit Jason setelah menyelimuti istrinya.


"Minta Bibi saja, kamu temani Jasmine dan suaminya saja, kasihan kan mereka, masa tamu ditinggalin gitu aja."


"Tapi kamu?"


"Aku baik-baik saja," kata Lily tersenyum agar suaminya yakin.


"Baiklah," pasrah Jason. Pria itu kemudian bangkit dan mengambil sesuatu di atas meja dekat sofa, lalu kembali menghampiri Lily.


"Ini ponsel kamu, jika ada apa-apa, segera hubungi aku, ok?"


"Ya, sudah sana, mereka pasti sudah menunggu terlalu lama, dan jika Jasmine bertanya, katakan saja jika aku baik-baik saja, dan sampaikan juga maaf karena tidak bisa menemaninya lagi."


"Iya, pasti akan aku sampaikan, sudah kamu istirahat saja," Jason mencium kening Lily kemudian berlalu keluar, tidak lupa pria itu juga menutup pintu kamar mereka.

__ADS_1


Jason kemudian menuruni tangga, menuju ke dapur meminta Bibi untuk mengantarkan minuman hangat untuk sang istri kemudian pria itu melanjutkan langkahnya ke ruang keluarga, sesuai perintah sang istri untuk menemani Tuannya juga sahabat Lily.


"Kenapa? Lily baik-baik saja kan?


Begitu sampai, Jason langsung di todong Jasmine pertanyaan.


"Baik-baik saja, mungkin kurang istirahat saja, apalagi sebelum kami pergi, Cinta juga sakit, jadi tiap malam harus jagain Cinta, ditambah lagi habis melakukan perjalanan yang cukup jauh," jawab Jason yang kini mengangkat putrinya dan membiarkan duduk di pangkuannya.


Jasmine mengangguk mengerti, "Hmm ya sudah kalau gitu kita pamit aja, kamu jagain Lily gih sana, dan lagi tuh lihat, sepertinya Cinta juga sudah mengantuk.


"Iya, istriku benar Jas, sebaiknya kita pamit sekarang," sahut Stevano membenarkan ucapan sang istri.


"Baik Tuan, Nyonya, maaf ya sebelumnya," kata Jason merasa tidak enak.


Stevano menepuk bahu Jason, memaklumi apa yang barusan terjadi.


"Ayo sayang kita pulang!" Ajak Jasmine pada anak-anaknya.


Awalnya Vira menolak untuk pulang karena ingin bermain dengan dedek Cinta, tapi setelah dibujuk, akhirnya gadis kecil itu pun akhirnya mau.


Jason pun hanya bisa mengangguk, karena tidak mungkin juga dia mengantarkan Jasmine dan Stevano ke depan, sementara putrinya belum begitu lelap, nanti yang ada Cinta akan menangis karena merasa tidurnya terusik.


Saat merasa tidur Cinta sudah lelap, Jason perlahan bangun, dan membawa Cinta ke kamar.


"Jason menidurkan Cinta di ranjangnya, menyelimuti sang putri dan mengecup dengan pelan pipi tembamnya, sebelum akhirnya dirinya mengitari ranjang dan kini menatap sang istri yang juga sudah tertidur, di kecupnya kening Lily dan mematikan lampu utama diganti dengan menyalakan lampu tidur, Jason kemudian mengambil laptopnya dan berjalan menuju sofa, ada pekerjaan yang harus dia periksa sebelum besok dia harus kembali bekerja.


*


*


"Apa yang kalian lakukan?" 


Ronald yang sepertinya baru merasa akan memejamkan mata tersentak kaget terpaksa harus membuka matanya kembali saat mendengar suara seseorang berteriak.


Bahkan Liora sampai terbangun dari tidurnya, kedua mata Liora bahkan terlihat merah. Gadis itu pasti juga sama terkejutnya dengan Ronald.

__ADS_1


"Ini jam berapa?" Tanya Liora yang kini pandangannya tertuju pada jam di dinding yang kini menunjukkan pukul sembilan malam, rupanya Liora sudah tertidur cukup lama.


"Loh kamu masih disini?" Tanya Liora menatap Ronald yang merah matanya.


"Menurutmu?" Kata Stevano yang kini berjalan mendekat, bahkan kini pria itu sudah duduk di atas ranjang milik Liora.


Liora memejamkan matanya, merasa pusing karena efek bangun tiba-tiba. Dia kemudian mengingatnya bagaimana dia bisa tertidur, gadis itu kemudian menatap Ronald yang kini mengurut pangkal hidungnya.


"Ah maaf, aku ketiduran, kamu kenapa tidak membangunkanku? Kaki kamu pasti pegal, atau mungkin kamu merasa kesemutan?" Tanya Liora yang kini menatap Ronald cemas.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing," jawab pria itu.


"Ehem!" 


Stevano berdehem, apalagi saat keberadaannya sudah seperti tidak dianggap oleh pasangan itu.


"Ah Kak Vano maaf, kami tadi ketiduran, dan lagi kenapa Kak Vano harus teriak-teriak sih, tidak bisa apa bangunin pelan-pelan, jadi pusing kan nih kepala," kata Liora yang akhirnya sekalian menumpahkan kekesalannya.


"Kalian pikir hanya kalian yang terkejut, Kakak juga sama terkejutnya, melihat kalian berduaan di kamar seperti tadi."


"Ya kan… tunggu ada apa Kakak kesini? Dan Kakak juga tidak mengetuk pintu lebih dulu," ucap Liora lagi yang mencari-cari kesalahan kakaknya.


"Kakak sudah mengetuk pintu berkali-kali, kalian saja yang tidurnya sudah seperti kerbau, dan lagi, kamu harus ingat ini Liora, jika ada tamu pria masuk kamarmu, sebaiknya kamu buka pintu lebar-lebar, ya walaupun kalian tidak melakukan apa-apa, tapi jika pintu tertutup rapat yang ada orang luar yang tidak tahu apa-apa, bisa saja menyebarkan gosip yang tidak benar. Oh ya ini, Kakak hanya ingin memberikan ini," kata Stevano menyerahkan paperbag pada Liora.


"Ini?" Liora mengernyitkan dahi bingung sambil menatap paper bag yang kini sudah berada di tangannya.


"Dari Lily, tadi dia menitipkannya pada Kakak," kata Stevano yang mengerti arti kernyitan di dahi adiknya, Stevano kemudian berlalu keluar, tapi saat di ambang pintu, pria itu justru menghentikan langkahnya.


"Dan kamu Ronald, jangan mentang-mentang kami sudah merestui hubungan kalian, kamu bisa seenaknya masuk ke dalam kamar Liora. Aku tahu kamu sudah bertunangan dengan Liora, tapi untuk menghindari sesuatu yang bisa saja terjadi, sebaiknya kamu jangan masuk ke kamar Liora lagi, bagaimanapun kalian belum menikah," ucap Stevano berpesan pada Ronald kemudian segera pergi dari kamar adiknya itu.


"Maaf Kak, dan terima kasih karena sudah mengingatkan aku hal itu," kata Ronald sebelum Stevano melangkahkan kakinya pergi.


Ronald segera bangun, kemudian berkata pada Liora, "Apa yang kakakmu katakan benar, dan maaf sepertinya aku harus pulang sekarang," ujar Ronald yang kini mengecup kening Liora tapi gadis itu justru seperti terlihat masih linglung, mungkin karena kejadian tadi.


"Hmm iya," jawab Liora begitu tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Ronald mengecup kening Liora kemudian dirinya segera keluar dari kamar gadis itu. Dan harap untuk selalu mengingatkan Ronald tentang perkataan Stevano tadi, bahwa dia tidak boleh lagi sembarang masuk ke kamar Liora, karena baik Ronald maupun Liora tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika di dalam kamar hanya ada mereka berdua.


__ADS_2