
Liora mengetuk pintu kamar Jasmine dan membukanya.
"Kak," ucapnya lalu mengajak Lily masuk.
"Lily!"
"Jasmine."
Keduanya pun kemudian langsung berpelukan.
Ehem
Liora berdehem mengingatkan keduanya jika masih ada dirinya disana.
"Eh maaf," ucap Jasmine kikuk.
"Kalian kebiasaan jika sudah bertemu aku selalu dilupakan," Liora pura-pura merajuk dan kini duduk di atas ranjang milik kakak iparnya, melihat keponakannya yang tidur disana.
Jasmine dan Lily saling pandang, keduanya tersenyum.
"Ayo! Kamu juga mau melihat anakku kan?" Jasmine lalu menarik tangan Lily membiarkan sahabatnya itu agar bisa melihat putra yang baru dilahirkannya.
Lily duduk di sisi ranjang, berseberangan dengan Liora.
Tangannya terulur menggenggam tangan mungil putra sahabatnya. Sementara Jasmine dia duduk di kursi depan meja rias.
"Sepertinya kelak dia memang akan menjadi menantuku mine," ucap Lily menatap sahabatnya.
"Berdoa saja semoga putraku itu tidak kepincut cewek lain," jawab Jasmine enteng.
"Tentu saja, kalau perlu kita ikat anak-anak kita sekarang."
Jasmine hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini ada-ada saja, Melviano masih bayi Lily, dan lihat bahkan anak kamu belum lahir, sudah main ikat-ikat saja."
"Hehehe," habisnya aku ingin kita jadi besan.
"Tunggu-tunggu, jadi kalian berencana ingin menjodohkan anak-anak kalian?" Tanya Liora yang sedari tadi menyimak pembicaraan Lily dan kakak iparnya.
Baik Jasmine dan Lily hanya mengangkat kedua bahunya mendengar pertanyaan Liora.
Liora mendengus karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Tapi tak lama wanita itu kembali bertanya.
"Tapi kenapa Melviano? Bisa saja Vier sama Cinta?"
Lily dan Jasmine saling pandang, kemudian keduanya tertawa.
"Kita hanya bercanda, ya walaupun bisa dikatakan kita berharap semoga kelak diantara anak-anak kita ada yang saling jatuh cinta sama lain, intinya kita tidak mau memaksa. Karena keputusan tetap saja ada di tangan mereka nantinya. Kalau mereka sudah punya kekasih ya sudah, tapi kalau memang mereka saling cinta apa salahnya mempersatukannya, iya kan Ly?"
Lily mengangguk membenarkan perkataan sahabatnya.
Ketiga wanita itu melanjutkan obrolannya, sesekali bertanya Liora bertanya seputar kehamilan kepada dua ibu itu, hingga tak lama pintu terdengar diketuk, muncullah Stevano, Ronald dan Jason yang menggendong Cinta. Gadis kecil itu tampaknya sudah sangat mengantuk.
"Duduk disana saja!" Ucap Stevano pada Jason dan Ronald menunjuk pada sebuah sofa yang ada disana.
Kedua pria mengangguk lalu duduk di sofa yang ditunjuk Stevano. Jason memangku Cinta sambil mengusap punggung putrinya agar tertidur, mengingat ini juga sudah menunjukkan jam sembilan lebih, yang biasanya jam segitu Cinta sudah tidur nyenyak.
__ADS_1
"Anak-anak mana sayang?" Terdengar suara Jasmine yang tentunya ditujukan untuk suaminya.
"Mereka sudah tidur di kamarnya, Ken juga tidur disini. Max katanya tidak bisa jemput, perut Bunga sudah sering sakit."
"Ya sudah biarkan saja, mungkin Bunga sebentar lagi juga akan melahirkan," jawab Jasmine.
*
*
Setelah cukup lama di kediaman William, Lily dan Jason pun berpamitan untuk pulang, apalagi Cinta juga sudah tertidur lelap di pangkuan Jason.
"Tidak menginap saja, banyak kok kamar tamu," bujuk Jasmine untuk kesekian kalinya pada sahabatnya itu.
"Maaf Mine, sepertinya tidak bisa. Nanti takutnya malah merepotkanmu, lagian kayak rumahnya jauh aja dari sini, ini juga belum terlalu malam kok."
Jasmine menghela nafas pasrah. "Baiklah, kalian berhati-hatilah di jalan."
"Kami pulang dulu ya."
Jasmine dan Stevano mengangguk.
Jason menggendong putrinya sampai mobil, sedangkan Lily membuka pintu untuk mereka.
"Kamu duduk di belakang aja sayang."
Lily menatap suaminya tapi akhirnya mengangguk. Lily masuk dan duduk terlebih dulu, lalu Jason memasukkan Cinta dan membiarkan putri kecilnya berbaring berbantalkan paha istrinya.
Setelah itu Jason berlari dan masuk ke kursi kemudi, dan mobil pun melaju meninggalkan pelataran kediaman William.
"Sayang kamu serius soal yang tadi?" Tanya Lily tiba-tiba.
"Hmm itu…"
"Itu apa?" Jason melihat sang istri dari kaca di atasnya.
"Tentang ingin memiliki anak banyak," ucap Lily pelan.
Jason tersenyum, biasanya istrinya selalu blak-blakan jika berbicara, tapi kali ini Lily tampak malu-malu saat menanyakan perihal anak.
"Hmm, biar ramai saja. Kamu tahu sendiri, aku hidup tanpa siapa-siapa dari kecil dan hanya bersama Tuan Stevano, bisa dikatakan aku merasa kesepian dan aku ingin memiliki banyak anak, agar nantinya baik kita sendiri ataupun anak kita kelak juga tidak kesepian seperti ayahnya."
Lily mengangguk setuju dengan perkataan suaminya, karena sejujurnya dirinya dulu juga selalu kesepian.
"Kamu tidak perlu berpikir terlalu banyak soal keinginanku. Apalagi sampai menjadikannya beban. Kita jalani saja apa yang ada di depan kita ya."
"Iya."
Obrolan mereka terhenti saat mobil Jason kini telah tiba di halaman rumah Alan. Jason memarkirkan mobil, tepat di sebelah mobil yang juga baru saja sampai. Dilihatnya Alan dan Dea turun dari mobil itu.
Jason juga melakukan hal yang sama, pria itu menyapa ayah dan ibu mertuanya.
"Ayah dan ibu baru pulang?"
Alan dan Dea tampak kompak mengangguk.
__ADS_1
"Kalian juga baru pulang?" Alan bertanya balik pada menantunya itu.
"Iya yah."
"Lily masih di dalam mobil, Cinta tidur soalnya," ucap Jason yang mengerti pandangan ayah mertuanya yang seperti tengah mencari-cari sesuatu.
"Ayah sama ibu pulangnya malam banget," suara Lily membuat ketiga orang itu menoleh.
Rupanya orang yang tadi mereka bicarakan kini membuka kaca, hingga Alan dan Dea bisa melihat cucu mereka yang memang masih tertidur. Bahkan mobil yang berhenti, tidak membuat Cinta bangun, gadis kecil itu masih tampak tenang.
"Apa perlu bantuan?" Tanya Alan kepada menantunya.
"Tidak perlu ayah, Jason bisa."
Alan mengangguk, menepuk pelan bahu Jason, menggandeng tangan sang istri lalu meninggalkan menantunya itu.
Setelah, kepergian Alan, barulah Jason berlari memutari ke sisi belakang mobil membuka pintu mengangkat tubuh putrinya yang masih saja terlelap tak terusik sama sekali.
"Kamu bisa sayang?"
"Hmm bisa kok," Lily tersenyum kemudian keluar dari mobil.
"Pelan-pelan," peringat Jason pada sang istri.
"Aku tidurkan Cinta dulu." Kata Jason berpamitan pada sang istri begitu mereka masuk. Sementara Lily duduk di sebuah sofa, saat merasakan pegal pada kakinya.
Lily tersentak kaget saat kakinya tiba-tiba di angkat dan diletakkan di atas paha pria yang kini duduk bersila di lantai.
"Sayang tidak perlu, ayo bangun! Lantainya dingin!" Lily mencoba menarik tangan suaminya. Tapi pria itu tetap pada posisinya.
"Biar aku pijat ya?"
"Tapi…" Lily sungguh tidak tega melihat suaminya, Jason pasti juga merasa lelah, apalagi dia yang harus bekerja, di tambah mengurus Cinta, dan sekarang suaminya itu tengah memijatnya.
"Kenapa? Bukannya kamu paling suka pijatanku?" Jason mendongak menatap sang istri.
"Kamu pasti lelah," cicit Lily.
Jason justru tersenyum, "Lelahku hilang begitu melihat kalian."
"Sayang aku serius," Lily kesal karena menganggap perkataan Jason yang justru terdengar seperti bercanda.
"Aku dua rius malah, sudah kamu diam dulu. Lihat kaki kamu sudah bengkak, siapa lagi yang akan memijatmu jika bukan aku, lagian aku tidak mungkin membiarkan istriku memijat kakinya sendiri, apalagi dengan perut besar kamu itu."
Lily pun akhirnya pasrah, wanita itu menyandarkan tubuhnya sambil menikmati pijatan Jason di kakinya.
"Bagaimana sudah lebih baik kan?" Tanya Jason yang masih fokus dengan apa yang dilakukannya.
"Sayang, sudah enakan kan?" Tanyanya lagi, tapi tidak juga ada yang menyahut.
"Sayang!" Jason mengangkat wajahnya dan ternyata istrinya kini tertidur, Jason tersenyum melihatnya.
Pria itu kemudian bangun, berdiri di depan Lily dengan sedikit membungkukkan badannya. Mengamati wajah damai istrinya.
Dengan perlahan, Jason mengangkat tubuh Lily dan memindahkannya ke kamar. Begitu sampai, Jason segera berjalan menuju ranjang mereka dan menurunkan istrinya dengan sangat hati-hati. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Lily sebatas dada.
__ADS_1
"Good night sayang," Jason mengecup kening Lily, mematikan lampu dan berjalan memutari ranjang, lalu merebahkan diri di sana tepat di samping putrinya.
Jason mengecup kening Cinta, lalu ikut memejamkan mata menyusul kedua orang yang dicintainya ke alam mimpi.