Please Love Me

Please Love Me
Bab 317


__ADS_3

Jason melirik spion di depan, memastikan jika tidur anak-anaknya masih nyenyak. Kemudian tatapannya beradu pandang dengan sang istri yang tersenyum padanya.


"Kamu kalau mau tidur, tidur saja sayang," ucap Jason pada istrinya yang duduk di kursi belakang bersama anak-anak mereka.


"Hmm tidak, aku akan menemanimu."


"Kamu pasti lelah karena kita bermain hampir seharian."


"Tidak apa-apa."


Keduanya kemudian mengobrol hingga tak terasa kini sudah sampai di pelataran rumah Alan.


Jason turun lalu menggendong tubuh Cinta terlebih dulu, diikuti Lily yang kini menggendong putri keduanya.


Keduanya melangkah menuju kamar anak-anak.


"Nyenyak sekali sayang tidurnya," ucap Lily mengelus rambut putrinya. Jason juga melakukan hal yang sama, mengangguk setuju dengan perkataan istrinya.


Jason kemudian mengecup kening kedua putrinya juga Lily kemudian melangkah ke kamar mandi.


Tak lama dia keluar dan melihat sang istri yang kini duduk di sofa tersenyum menatap ponselnya.


"Senyum-senyum kenapa?" Jason duduk di samping Lily dan melihat apa yang ada di ponsel sang istri hingga membuatnya senyum-senyum sendiri.


Lily menunjukkan ponselnya dimana dia sedang melihat video anak-anaknya saat tadi mereka pergi yang baru saja Jasmine kirimkan, karena Jasmine yang memang tadi mengabadikan moment itu, karena Lily harus melerai Aulia dan Vian yang kerap ribut.


"Cepat sekali ya mereka gedenya sayang," ucap Jason yang kini melihat ke arah dimana dua anaknya yang masih terlelap.


"Hmm iya, rasanya baru kemarin aku melahirkannya," Lily menyandarkan kepalanya di bahu Jason seraya ikut menatap ke arah ranjang.


Mereka cukup lama terdiam, hingga kemudian Lily menegakkan badannya.


"Oh ya kamu mau mandi dulu? Kalau tidak aku dulu."


Jason tersenyum mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


"Bagaimana jika kita mandi bersama, lebih menghemat waktu," ucapnya kemudian dengan berbisik.


"Yang ada malah boros waktu." Lily segera bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.


Jason menyusul dan tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh istrinya, membuat Lily sampai terpekik kaget, untungnya dengan cepat wanita itu menutup mulutnya hingga tidak mengganggu tidur kedua putri mereka.


Lily kemudian menatap tajam mata suaminya yang justru membuat pria itu terkekeh sambil melangkah keluar menuju kamarnya.


Lily membukakan pintu karena melihat suaminya yang kesulitan. Dan Jason langsung saja membawa istrinya ke kamar mandi setelah Lily mengunci pintu kamar.


Jason mendudukan Lily di atas kloset, sementara dirinya mengisi bath up, untuk mereka berendam nanti. Sambil menunggu, Jason menanggalkan satu persatu pakaiannya, Lily hanya menunduk, merasa malu sendiri atas apa yang suaminya itu lakukan.

__ADS_1


"Kenapa menunduk hmm?"


Jason mendekatkan dirinya ke arah sang istri yang kini memilih memalingkan wajahnya.


"Sayang lihat aku!"


Lily sama sekali tidak menuruti perintah Jason, hingga Jason tiba-tiba menarik dagu Lily, dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Tangan Jason bahkan kini menarik tengkuk Lily, guna memperdalam ciuman mereka. Keduanya terlarut, hingga Lily kini baru sadar jika kini tubuhnya sudah polos bahkan melayang karena Jason mengangkat dan menurunkannya perlahan ke dalam bath up.


*


*


"Padahal aku ingin lagi," ucap Jason yang kini duduk di kursi meja rias biasa tempat sang istri.


"Anak-anak mungkin sebentar lagi bangun, aku juga mau membantu ibu menyiapkan makan malam," jawab Lily sedang menggosok-gosokkan handuk kecil di kepala suaminya, lebih tepatnya mengeringkan rambut Jason yang basah."


Jason mendengar itu malah mengerucutkan bibirnya.


Cup


Lily dengan cepat mengecup bibir suaminya yang mengerucut itu.


"Sudah, jangan seperti Uli saja," jawab Lily.


Jason menarik sang istri dan memeluknya erat, masih dengan posisi pria itu yang sedang duduk, hingga akhirnya kini wajah Jason tepat berada di perut Lily.


"Sudah sayang, nanti malam lagi," Lily berusaha menjauhkan wajah suaminya dari perutnya merasa geli.


"Benar lanjut nanti malam?" Jason segera melepaskan pelukannya, menatap Lily dengan pandangan berbinar.


"Hmm kalau Cinta dan Uli tidak rewel pastinya dan juga jika mereka mau tidur cepat," bisik Lily yang tahu jika anaknya pasti akan tidur menjelang malam, mengingat mereka tidur siang cukup lama.


"Oke," jawab Jason senang, dia kemudian bangun dari duduknya, mengambil handuk tangan sang istri dan melanjutkan sendiri.


"Kamu kalau mau masak-masak saja sayang, nanti biar anak-anak aku yang mandiin," ujar Jason yang kini berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya karena sedari tadi, Jason hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Hmm ya sudah aku turun dulu ya!" Teriak Lily melihat suaminya yang sudah menutup pintu.


Lily kemudian menuruni anak tangga, melangkah menuju dapur, dan begitu sampai disana, benar saja jika saat ini ibunya sedang memasak, tapi dia hanya sendiri. Biasanya ayahnya akan terus mengekor bahkan mengganggunya.


"Ayah mana bu?"


"Tadi ada di depan sedang ngobrol dengan temannya."


Lily mengangguk, kemudian membantu memotong sayuran yang akan ibunya masak.


"Oh ya, Al sudah punya kekasih?" Tanya Dea tiba-tiba, menghentikan gerakan tangan Lily.

__ADS_1


"Memangnya kenapa bu?" Tanya Lily penasaran, tidak biasanya ibunya bertanya tentang kehidupan pribadi kakaknya.


"Tidak apa-apa, ibu tadi hanya mendengar jika teman ayah itu, berencana untuk mengenalkan anaknya dengan Al."


Lily langsung berbalik menatap ibunya.


"Kak Al mau dijodohkan?"


Dea hanya mengedikan kedua bahunya. "Kamu tanya sama ayah saja nanti jika temannya itu sudah pulang."


Lily kini malah melamun, membayangkan jika Al memang benar-benar dijodohkan, dia tidak yakin kakaknya akan menerima hal itu, bagaimanapun Lily tahu, jika Al masih menyukai Dahlia kakaknya.


"Malah melamun," ujar Dea yang kini mengambil alih pekerjaan Lily tadi.


"Bu, jika benar, kak Al pasti tidak akan mau," ucap Lily pelan.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Al sudah punya kekasih?"


Lily hanya menggeleng.


"Terus?"


"Kak Al sudah mencintai seseorang."


"Cinta sepihak?"


Lily menatap ibunya, kemudian mengangguk lesu.


Sementara Dea mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Bu, kenapa ibu hanya diam saja?" 


Dea tersenyum, dia senang karena anak-anak suaminya menerima dia, bahkan tidak sungkan jika ingin bermanja dengannya, sayangnya Dea tidak memiliki anak sendiri. Bukan tidak bisa, tapi Alan selalu mengatakan jika takut terjadi sesuatu pada Dea, jika mengandung di usianya yang sekarang ini, terlalu beresiko. Dea yang sebagai seorang dokter pun tahu akan hal itu, hingga dia pun setuju atas pendapat suaminya. Dea tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidupnya bersama orang yang dicintainya yang baru bisa terwujud belum lama ini, dia ingin menghabiskan waktu yang lama bersama dengan Alan, karena walaupun dia tidak memiliki anak, tapi Lily dan Al sudah seperti anak kandung baginya.


"Kamu mau minta ibu berbuat seperti apa hmm?"


"Setidaknya ibu bujuk ayah agar menolak rencana temannya itu."


"Percuma ibumu membujuk, ayah pun tidak bisa berbuat apa-apa jika Al sendiri sudah setuju akan hal itu," jawab Alan yang entah sejak kapan berada disana.


Lily dan Dea menoleh, Lily dengan segera menghampiri Alan.


"Maksud ayah? Kak Al setuju?"


Alan mengangguk, kemudian melangkah dan membuka kulkas, mengambil minuman dingin dan langsung meneguknya.


Sementara Lily berlari ke kamar meninggalkan kedua orang tuanya yang kini hanya saling beradu pandang.

__ADS_1


__ADS_2