Please Love Me

Please Love Me
Bab 220


__ADS_3

"Kau sedang apa?"


Mendengar pertanyaan suaminya, buru-buru Lily mengibaskan tangannya menyuruh Ronald untuk pergi.


Jason menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa, jelas saja karena mendapat isyarat seperti itu dari Lily membuat Ronald langsung bersembunyi di belakang kursi hingga Jason tidak melihatnya.


"Hah? Oh tidak sedang apa-apa, hanya saja tadi sepertinya mataku kelilipan. Kamu lihat apa sih?" Tanya Lily menangkup wajah suaminya agar menatapnya sekaligus untuk memberikan kesempatan pada Ronald agar pria itu segera pergi.


"Matamu kelilipan? Tunggu jangan digosok nanti memerah, tunggu biar aku lihat dulu, barangkali ada sesuatu yang masuk," kata Jason yang langsung bangun dan melihat mata istrinya.


"Hmm sayang lebih baik kamu tiup saja," saran Lily.


Jason pun menuruti apa kata istrinya.


Fiuh


Ditiupnya mata sang istri. Lily mengerjapkan matanya.


"Bagaimana?"


"Hmm sudah lebih baik," jawab Lily tersenyum.


Lily kemudian memakan makanan pesanan tambahannya dan Jason hanya menatap sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Memperhatikan istrinya yang tengah lahap memakan makanan yang tadi dipesannya.


"Nanti anak kita kalau lahir pasti gemuk," gumam Jason yang kini sudah menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Kok bisa?"


"Ya karena ibunya doyan makan saat mengandungnya," jawab Jason polos.


"Kamu ada-ada saja, mana ada seperti itu," kata Lily menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya, kemudian kembali menikmati makanannya yang hanya tinggal sedikit.

__ADS_1


"Sudah kenyang," Lily mengelus perutnya yang mulai buncit sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, perutnya rasanya terasa sangat begah, bagaimana tidak jika dia menghabiskan dua piring makanan.


"Tunggu dulu ya sayang, biar makanannya turun," ucap Lily dan Jason pun hanya mengangguk.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sehabis ini, biar makanan yang baru saja masuk ke tubuhmu tercerna dengan baik," saran Jason dan Lily pun mengangguk setuju.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, nanti yang ada malah kakiku yang pegal-pegal."


"Tenang saja, kan ada suamimu ini," ucap Jason membanggakan dirinya sendiri.


"Oh iya, hampir lupa, kan suamiku ini serba bisa."


Keduanya pun kini tertawa dan seseorang yang sedari tadi belum pergi dari tempat itu, melihat Lily dan Jason yang tampak bahagia.


"Kelak aku juga berharap kita akan seperti itu El, tapi apakah mungkin?" 


"Tuan ini kartu Anda." Ucap seorang wanita memberikan kembali kartu hitam milik pria itu.


"Baiklah terima kasih," setelah mengucapkan terima kasih, Ronald pun baru pergi dari tempat itu.


Ronald masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ada pesan masuk yang datang ke nomornya. Ronald tersenyum saat di sana ada foto Liora yang tengah tersenyum manis.


Ronald kemudian menatap ke dalam mencari sosok orang yang mengiriminya pesan, tetapi ternyata sudah tidak ada, tapi kemudian pesan kembali masuk, mengatakan bahwa dia ada di belakang, Ronald pun menoleh ke belakang, dan benar saja dilihatnya wanita itu kini melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


Melihat mobil yang membawa Lily pergi, Ronald pun juga kini mulai menjalankan mobilnya menuju ke apartemen yang belum dia sempat lihat semenjak kepulangannya.


Ronald melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin rasanya dia mengistirahatkan badannya yang terasa lelah karena sejak pulang tadi pagi, dia langsung ke kantor tempat kerja Liora dan sampai selesai makan malam, barulah dia kembali.


*


*

__ADS_1


Liora bolak-balik di tempat tidurnya, dirinya ingin sekali memejamkan matanya, tapi tidak kunjung bisa, karena sedari tadi pikirannya hanya tertuju pada pria yang baru saja hadir dan langsung berhasil menempati hatinya. Dirinya takut jika pria itu benar-benar menjauh setelah apa yang dikatakannya sore tadi. Bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya dengan bantal yang disusun, diambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas, mencari riwayat pesan bersama pria itu, dilihatnya pesan terakhir tidak juga terkirim. Dengan perasaan ragu Liora mencoba menghubungi nomor itu, setelah berpikir cukup lama, akhirnya di dial nomor yang tertera di layar ponsel dengan nama pria buaya, tapi seperti sebelum-sebelumnya, Liora harus kecewa saat mendapati nomor itu masih saja tidak aktif. Liora yang kesal melempar ponselnya di atas kasur kemudian kembali diambilnya ketika teringat video yang diambilnya diam-diam dari wanita yang memberitahu tentang Ronald. Kemudian dibukalah galeri diponselnya, tepat di bagian paling atas, Liora segera membuka video itu, dimana di sana, Liora bisa melihat wajah Ronald dengan jelas, diusapnya wajah Ronald, dan Liora pun tiba-tiba senyum sendiri.


Saat sedang asyik menonton video Ronald, tiba-tiba ada pesan masuk dari Lily.


Tanpa membacanya Liora langsung menggesernya hingga menghilang dari layar. Tak lama pesan kembali masuk, Liora kembali menggesernya.


"Lily mengganggu saja, tidak tahu apa aku sedang melihat orang tampan," gumamnya saat justru bukan cuma pesan saja yang masuk, tapi kini justru telepon dari Lily. Tapi dengan cepat Liora menggeser ikon berwarna merah, hingga panggilan itu pun berakhir.


Baru saja beberapa detik panggilan Lily tolak oleh Liora, tak lama wanita itu kembali menghubunginya. Tidak panggilan suara lagi, tapi kini Lily justru menghubunginya lewat panggilan video. Hingga akhirnya Liora pun terpaksa menggeser ikon berwarna hijau dan terpampanglah wajah Lily memenuhi layar ponsel Liora.


"Ada apa? Kau mengganggu saja!" Ketus Liora.


"Jangan marah-marah saja Kak, nanti kau yang tua akan semakin cepat tua," jawab Lily dengan senyum mengejek.


"Cepat katakan atau aku akan mengakhirinya, aku tidak punya waktu untuk menyaksikan kemesraan kalian," ucap Liora yang melihat jika di seberang telepon Jason tiba-tiba datang dan mengusap-usap perut Lily bahkan menciuminya.


"Kalau kau iri lebih baik aku cepat menikah," ledek Jason yang ikut bersuara, membuat Liora semakin kesal.


"Jika tidak ada yang kau katakan lagi, aku akan mengakhirinya Lily," ucap Liora yang lebih memilih tidak melihat apa yang ada di layar, yang menurut Liora sedang pamer kemesraan padahal sebenarnya Liora saja yang merasa iri seperti apa yang Jason katakan tadi.


"Tu...tunggu Kak!" Kata Lily tapi keburu layar ponselnya yang kini sudah mati tanda panggilan berakhir.


Lily kemudian kembali menekan nomor Liora, tapi kembali di tolak gadis itu.


"Biarlah sayang, mungkin Liora memang sedang tidak ingin diganggu," kata Jason mengingatkan istrinya yang akan kembali menghubungi Liora.


"Biar saja, lagian nanti Kak Liora sendiri yang mungkin akan menyesal karena menolak panggilan ku," ucap Lily yang kini membiarkan suaminya berbaring di atas pahanya, dengan wajah yang menghadap ke perutnya.


"Ya sudah terserah kamu saja, tapi jika sampai tiga kali lagi, panggilanmu tetap ditolak, kamu harus menghentikannya dan bisa melanjutkannya besok," kata Jason dengan posisinya yang kini terlentang menatap wajah Lily.


"Iya," jawab Lily kemudian kembali menghubungi Liora menunggu gadis itu menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2