Please Love Me

Please Love Me
Part 122


__ADS_3

"Kak, sebenarnya kita mau kemana sih, kenapa rasanya jauh banget," gerutu Lily yang seluruh badannya rasanya sudah pegal karena terlalu lama dalam perjalanan, duduk dalam posisi yang sama, bahkan dirinya sedari tadi sudah menguap.


"Kamu tidur dulu saja, nanti kalau sudah sampai, Kakak akan bangunin," ucap Al menoleh ke arah Lily, dirinya tidak tega melihat Lily yang dari tadi menguap dan terlihat terkantuk-kantuk.


"Hoam," Lily kembali menguap. 


Al membawa Lily agar bersandar di bahunya, hingga tak lama nafas Lily terdengar teratur, menandakan bahwa dia kini sudah benar-benar tertidur.


Al membenarkan posisi Lily agar nyaman, setelah itu diusapnya dengan sayang rambut Lily.


Satu tangan Al mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Dan tak perlu menunggu waktu lama pesan yang tadi Al kirimkan langsung mendapatkan jawabannya.


Al menghela nafas berat, menoleh ke samping sedikit menundukkan kepalanya, dan mencium kening Lily cukup lama.


Al terdiam ingatannya kini berputar sesaat sebelum dirinya pulang ke rumah, tepatnya di rumah Dahlia.


Flashback


"Kak!" Dahlia menahan tangan Al dan menatapnya cukup lama, setelah Al membantu menuju ke kamarnya.


"Kenapa?" Al menatap Dahlia datar sambil menunggu gadis itu berbicara.


Namun hening, sudah beberapa menit berlalu, keduanya sama-sama diam. Bahkan Dahlia yang sepertinya ingin bicara pun hanya bungkam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


Menarik nafas dalam-dalam, Dahlia pun akhirnya berkata memecahkan kesunyian yang sempat terjadi.


"Kak, apa tidak pernah ada rasa sedikitpun di hati Kakak untukku? aku tahu Kakak masih mencintai Lily, aku bisa melihatnya dari tatapan Kak Al ke dia. Tapi Kak..," Dahlia menjeda ucapannya.


"Lily adalah Adik Kandung Kak Al, dan itu tidak diperbolehkan, jadi Kak lebih baik Kak Al belajar melupakan perasaan Kak Al padanya, bukan malah menyimpan perasaan  itu," Dahlia masih menatap Al yang terlihat dengan wajah datarnya, hingga Dahlia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Al.


"Kak, kamu mengertikan maksud aku?" Tanya Dahlia memastikan bahwa  sedari tadi Al memang mendengarnya.


"Hmm," jawab Al hanya dengan gumaman bahkan terlihat sangat tenang.


"Jika Kak Al tahu, kenapa Kak Al.."

__ADS_1


"Bukan urusan kamu, apa yang aku rasakan, apa yang kini aku putuskan tidak ada hubungan dengan dirimu, jadi cukup diam dan jangan pernah terlibat pada semua urusanku," kata Al tegas memotong ucapan Dahlia.


"Tapi Kak.."


"Kamu bukan siapa-siapaku dan tidak perlu ikut campur." Al menegaskan kepada Dahlia untuk yang kedua kalinya.


"Aku tahu, tapi…"


"Lebih baik kamu diam, karena semua ini tidak ada sangkut pautnya denganmu," tegas Al kemudian berjalan meninggalkan Dahlia.


"Tapi aku suka kamu Kak," ucapan lantang Dahlia yang dengan cepat membuat langkah Al berhenti.


Al terdiam tampak memikirkan sesuatu, kemudian dirinya kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku dengar Kak Al bilang akan menikahiku?"


Pertanyaan Dahlia kali ini, berhasil membuat Al tidak melanjutkan langkahnya lagi.


"Lupakan," jawab Al singkat tanpa menoleh.


"Kasih tahu aku alasannya, alasan kenapa Kak memintaku untuk melupakannya?" Tanya Dahlia menahan rasa sesak di dalam dadanya.


"Tidak ada alasan apapun, saat itu aku hanya asal bicara saja."


"Bohong, aku tahu Kak Al berbohong."


"Bagaimana aku mengatakan alasannya, jika aku sendiri tidak tahu kenapa saat itu aku sampai mengatakan hal itu," jawab Al namun hanya dalam hati saja.


"Sudahlah intinya lupakan."


"Jika aku tidak mau menuruti apa yang Kak Al minta?" Dahlia menatap punggung Al dengan sorot penuh luka.


Al berbalik badan," Jika pun kamu mau, kamu tidak akan sanggup Dahlia, kamu tidak akan bisa menungguku, sebelumnya aku memang ingin langsung menikah, tapi pernikahanku tiba-tiba tidak sesuai dengan rencanaku, hingga aku bertekad dalam hati, aku akan menikah begitu aku sudah lulus dan juga mengambil spesialis, kamu seorang gadis, kamu tidak bisa menunggu selama itu," kata Al penuh dengan ketegasan.


"Jika aku bisa dan sanggup, apa yang akan Kak Al lakukan, darimana Kak Al bisa tahu aku sanggup atau tidak, aku yang akan menjalani itu, dan Kak Al tidak perlu khawatirkan aku, intinya aku mau menunggu Kak Al," jawab Dahlia yang tidak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai umurmu mencapai kepala 3 atau mungkin kepala 4, atau bisa saja sampai kamu menjadi gadis paruh baya iya, berpikirlah baik-baik Dahlia, masa depanmu masih panjang, banyak pria yang jauh lebih baik dari aku, jadi kamu lebih baik mencari pria lain," ucap Al dan entah kenapa saat mengatakan itu dalam hati Al terasa tidak nyaman, tapi Al mencoba mengabaikan hal itu.


Sementara Dahlia menutup wajahnya, tidak bisa lagi menahan perasaan yang selama ini memang dia utarakan.


Setelah cukup lama terdiam dan tidak mendengar satu kata pun dari Dahlia, Al kembali berjalan keluar.


"Apapun yang terjadi, tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, aku akan tetap di sini Kak, aku akan menunggu Kak Al, dan asal Kak Al tahu, Kaka Al tidak bisa melarangnya, kenapa karena apa yang ingin aku lakukan adalah sepenuhnya memang keinginanku, aku akan buktikan pada Kak Al bahwa aku sanggup, aku pasti bisa menunggu hingga akhirnya Kak Al akan kembali."


Flashback off


Mengingat itu semua, Al memejamkan mata sejenak, hingga tanpa sadar dirinya pun tertidur.


"Sudah sampai Tuan," ucap sang Sopir, membangunkan Al setelah menghentikan mobilnya yang telah sampai ke tempat tujuan.


"Hmm," Al menegakkan kepalanya, melihat ke arah adiknya yang masih terlelap.


Al mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Kami sudah sampai, cepat kemari!" Ucap Al kemudian memutuskan panggilan.


Setelah menunggu beberapa menit, orang yang ditunggunya kini telah muncul dan kini sedang berjalan menghampirinya.


"Terima kasih, aku sudah pesan kamar untukmu, Kau bisa istirahat, biar aku yang membawa Lily," ucap seseorang tersenyum senang.


"Hmm, jaga adikku baik-baik, awas saja jika kau menyakitinya, aku orang pertama yang akan memisahkan kalian," ancam Al turun dari mobil melangkah menuju tempat yang dimaksud pria tadi.


"Kau tenang saja, aku tidak akan menyakitinya, aku akan menjaganya, dia Istriku, jadi kau tidak perlu khawatir," kata pria itu yang tak lain adalah Jason.


Jason tersenyum, akhirnya kerinduannya terbayarkan juga hari ini, akhirnya dia bisa membawa istrinya kemari, dan Jason sangat-sangat berterima kasih pada Kakak Iparnya. 


Jason pandangi, wajah Lily yang tampak tenang dalam tidurnya, bahkan Lily benar-benar merasa tidak terusik sama sekali, saat jari tangan Jason menelusuri seluruh wajahnya.


"Maafkan aku sayang, akan aku jelaskan nanti, aku harap kamu percaya padaku, aku mencintaimu dan sebisa mungkin, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Kamu tidak perlu khawatir, karena jauh di dalam lubuk hatiku hanya ada namamu," Jason kemudian mencium kening istrinya cukup lama, menyalurkan rasa sayang dan cintanya, hingga siapapun tidak akan meragukan kesetian Jason kepada pasangannya.


"I love you sayang," bisik Jason tepat di telinga istrinya, kemudian membawa tubuh istrinya ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, takut jika istrinya akan terbangun

__ADS_1


Dalam tidurnya Lily tersenyum, dan mempererat pegangannya, "I love you too," gumamnya pelan dan menenggelamkan wajahnya di dada Jason untuk mencari kenyamanan disana.


__ADS_2