Please Love Me

Please Love Me
Bab 201


__ADS_3

"Apa kau mau menggendongnya?" Tanya Stevano yang melihat Jason yang terus memperhatikan dirinya saat sedang menggendong Vier, karena Vira sedang bersama ibunya.


Saat ini di dalam kamar Stevano hanya ada Jasmine, Stevano, Jason, Lily dan Liora. Kedua orang tua Jasmine baru saja pulang untuk mengambil beberapa keperluan yang perlu dibawa selama akan menginap di kediaman William. Sementara Tiffa sedang membantu menenangkan Ken yang tengah menangis, sedangkan William kini mengurus segala keperluan untuk acara syukuran atas lahirnya cucu-cucunya. Dan Max pria itu sedang keluar untuk membeli apa yang istrinya inginkan.


"Boleh Tuan?" Ucap Jason dengan pandangan berbinar saat mendapat tawaran dari Tuannya itu.


"Tentu saja," ucap Stevano membiarkan Jason untuk menggendong putranya.


Dengan senang hati, Jason mengambil alih Vier dari gendongan papanya.


"Hati-hati," ucap Stevano memperingati, Jason pun mengangguk dan tersenyum saat melihat bayi mungil itu. Jarinya mengusap kulit yang begitu lembut.


"Lihat tuh! Sudah bisa suamimu menggendong bayi, nanti jika anak kalian lahir pasti langsung mahir," ucap Jasmine menunjuk ke arah Jason dengan dagunya.


"Hmm melihat kalian jadi pengen juga punya anak," gumam Liora yang langsung mendapat plototan dari Stevano.


"Nikah dulu Liora," kata Jasmine yang melihat tatapan suaminya terhadap Liora.


"Hah? Oh itu, tentu saja nikah dulu," kata Liora yang tidak menyangka gumaman bisa didengar oleh mereka semua.


"Mungkin adikmu ini akan menikah," kata Lily kemudian dan langsung dapat tatapan tajam dari Liora.


"Oh ya, kamu masih sama dia, siapa namanya aku lupa…" ucap Jasmine yang mengingat-ingat nama pria yang waktu itu pernah dikenalkan Liora padanya.


"Oh kamu sudah melihatnya Mine?" Tanya Lily karena tidak mengira jika sahabatnya itu bahkan sudah mengenal kekasih Liora.


"Iya aku sudah melihatnya, bahkan Liora juga waktu itu sudah memperkenalkannya pada kita, iya kan sayang?" Tanya Jasmine meminta pembenaran dari suaminya.


"Hmm," jawab Stevano hanya dengan dengan gumaman.


"Wah, kamu sudah mengenalkannya sama Jasmine Kak, tapi kau bahkan tidak mengenalkannya padaku? Atau karena kekasihmu itu tampan, makanya kamu tidak mengenalkannya padaku," ucap Lily yang kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat suaminya kini tengah menatapnya dengan pandangan menusuk.


"Lagian setampan apa dia tentunya lebih tampan suamiku, dan aku tidak akan tertarik," kata Lily meralat ucapannya.


"Benarkan sayang?" Lily kini bangun dari atas ranjang yang tadi dia duduki, mendekat ke arah Jason yang memangku Vier, duduk di sofa bersama Stevano.

__ADS_1


Jason langsung memalingkan wajahnya, enggan menatap sang istri yang membuatnya kesal apalagi mendengar ucapannya tadi.


"Hei sayang jangan marah, lagian aku tadi keceplosan saja, eh maksudku hanya bercanda saja," kata Lily membujuk suaminya.


"Kok hangat," ucap Jason yang tidak memperdulikan istrinya yang tengah membujuknya, saat dirinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat membasahi celana yang dikenakannya.


"Kenapa?" Tanya Lily yang melihat suaminya mengernyitkan dahinya.


"Celanaku basah, sepertinya Vier mengompol," ucap Jason kemudian dengan wajah bingungnya dan itu begitu lucu hingga membuat Liora tertawa kencang.


Stevano meminta Vier dari Jason sambil menahan tawanya. Pria itu kemudian dengan sigap menggantikan popok putranya yang sudah basah.


"Hahaha, rupanya keponakanku sangat pintar, kerja bagus sayang," kata Liora.


"Apa yang kau tertawakan? Kau pikir lucu," kesal Jason mengambil popok Vier tadi, kemudian melemparkan pada Liora yang kini sedang berjalan menghampirinya.


"Kak Jason!" teriak Liora yang kini mengejar Jason untuk kembali melemparkan popok yang Jason lemparkan kepadanya.


*


*


Mereka berdua kini sedang berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Aku senang melihat sahabatku sekarang sudah bahagia, kamu tahu dulu aku merasa iri sama Jasmine, dia terlahir dari keluarga kaya, kedua orang tuanya sangat menyayanginya, dia pintar dan juga cantik, saat itu Jasmine datang ke sekolah, dan bercerita bahwa dia dijodohkan, sejak saat itu dia yang ceria berubah jadi murung,calon suaminya yang justru kabur, dan malah calon kakak iparnya yang menggantikan adiknya menikah, dan pria yang akan menikahinya bahkan kabarnya begitu kejam, tapi siapa sangka jika pria itu justru luluh dan akhirnya jatuh cinta sama Jasmine, bahkan Jasmine pun juga mencintainya dan lihatlah sekarang mereka hidup bahagia bersama anak-anak mereka. Aku turut senang melihat kebahagian yang Jasmine rasakan. 


Dan setelah aku pikir-pikir, untuk apa kita iri sama hidup orang lain, setiap orang punya kebahagian dan kesedihan juga masalah masing-masing bukan? Yang cantik belum tentu disayangi dengan tulus, yang kaya bukan berarti dia tidak memiliki kesulitan, yang pintar juga bukan berarti hidupnya akan mulus-mulus saja. Semua akan ada rintangannya sendiri. Kamu tahu aku 


 beruntung bisa  mendapat sahabat seperti Jasmine, dia begitu baik, intinya bersamanya aku merasakan apa yang Jasmine rasakan, bahkan masakan seorang ibu, aku bisa merasakan itu karena dulu hampir setiap hari Jasmine membawakan aku masakan ibunya," cerita Lily mengingat bagaimana dirinya dan Jasmine.


Lily tersenyum dan menoleh menatap suaminya dan karena itu semua aku juga bisa bertemu denganmu, dan aku tidak menyangka juga bisa memilikimu bahkan sekarang aku sudah mau menjadi ibu dari anak-anakmu."


Jason tiba-tiba tertawa sendiri, saat awal pertemuan mereka, Lily, wanita yang kini sudah menjadi istrinya awalnya mengira bahwa dia hanyalah khayalannya saja.


"Kenapa tertawa?" Tanya Lily yang merasa heran saat tiba-tiba saja suaminya tertawa sendiri.

__ADS_1


"Tidak,"


"Sayang kenapa? Apa ada yang lucu? Kenapa kamu tiba-tiba tertawa begitu, ngeri tau nggak."


"Serius tidak ada apa-apa."


"Ya sudah kalau tidak mau mengatakan, Lily melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar dan menatap keluar jendela.


Jason hanya tersenyum tanpa mau menceritakan apa yang membuatnya tertawa.


*


*


*


"Maaf Nona, Tuan, Nyonya ada tamu yang mencari Nona El," ucap salah satu pelayan.


"Mencariku? Siapa Bi?" Merasa namanya disebut, Liora pun langsung berdiri.


"Namanya Tuan Ronald, Nona," jawab pelayan tadi.


"Suruh masuk saja Bi," sahut Tiffa karena putrinya hanya diam, bahkan untuk pergi menyambutnya saja tidak.


"Tapi Mi…" Liora merasa keberatan saat mendengar keputusan maminya yang justru menyuruh pria itu untuk masuk.


"Suruh masuk saja Bi," kali ini, Max yang mengucapkan itu, dirinya begitu penasaran pada sosok yang disebut-sebut sebagai kekasih adiknya.


"Kak," protes Liora yang kesal karena kakaknya sependapat dengan maminya.


"Saya permisi dulu Tuan, untuk mempersilahkan tamunya masuk," pamit Bibi yang pergi memanggil tamu Liora.


Tak lama Bibi segera datang dengan seorang pria.


"Kau!" Ucap Max saat melihat pria yang kini berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2