
"Sayang bagaimana? Apa Ayah sudah berangkat?" Tanya Lily yang sedang mondar-mandir di kamarnya kepada Jason yang baru saja masuk.
"Baru saja, kamu jadi ke tempat Kakakmu?" Jason mendekat ke arah Lily dan membawa istrinya untuk duduk di atas ranjang.
"Iya aku ingin menjenguk Kak Lia, tapi bagaimana jika Ayah tahu, terus nanti Ayah akan marah," jawab Lily yang tengah dilanda kekalutan.
"Kamu ingat kan Ayah semalam bilang apa? Tapi aku ingin tahu keadaan Kak Lia, aku ingin melihat Kak Lia dan memastikan keadaannya, aku harus bagaimana?" Lily menunduk sedih setelah mengingatkan Suaminya akan perkataan Ayahnya semalam.
Flashback
"Kenapa kamu tidak bilang ke Ayah jika selama ini kamu mendapat perlakuan seperti itu, dari wanita yang membesarkanmu itu? Kenapa kamu berbohong sama Ayah, kamu bilang wanita itu menyayangimu, dia sangat perhatian padamu, jika saja Ayah tidak melihatnya secara langsung, apa kamu akan terus menutupi hal itu dari Ayah? Ayah kecewa padamu Ale, seharusnya apa yang terjadi padamu kamu ceritakan pada Ayah, bukan Ayah yang harus melihat itu secara langsung Ale, kau tahu sakit hati Ayah melihat dengan mata kepala Ayah sendiri kamu diperlakukan seperti itu, kamu tahu Ale Ayah merasa gagal menjadi seorang Ayah yang baik pada kedua anaknya. Ayah merasa bukan seorang Ayah yang berguna," Alan duduk di sofa, kepalanya menunduk, kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya.
"Ayah jangan seperti ini, maafkan aku Ayah, aku mohon, aku tidak bermaksud untuk membohongimu, hanya saja rasanya aku tak pantas mengatakan hal itu, bagaimanapun Ibu telah membesarkanku, jika tidak, mungkin saat ini, aku tidak akan bisa bertemu Ayah lagi, aku tidak bisa bertemu dengan Kak Al, dan aku tidak bisa berkumpul lagi dengan kalian, jadi aku mohon Ayah maafkan aku, maafkan juga Ibu, aku menyayangi kalian, sungguh aku sangat menyayangi kalian dan aku tidak ingin kalian ribut hanya karena masa laluku," Lily terisak memeluk sang Ayah yang tubuhnya mulai bergetar mendengar perkataan putrinya.
"Ayah jangan pernah merasa bersalah lagi, setiap masalah pasti Tuhan telah merencanakan sesuatu yang baik dibaliknya, dan aku tidak pernah menyesal dibesarkan oleh Ibu, Ibu hanya terlihat keras dari luar, tapi Ibu sebenarnya orang yang baik, hanya saja kehadiranku saat itu tidak tepat, hingga Ibu bersikap seperti itu, Ayah tolong lihat dari sisi Ibu, saat itu Ibu pernah cerita jika dia pergi bersama Kak Lia, pergi karena janji Ibu dan Suaminya kepada Kak Lia, tapi Suami Ibu, pria yang selama ini kuanggap Ayah walaupun aku tidak pernah melihatnya, beliau tidak datang, beliau mengingkari janjinya, saat itu Suami Ibu justru pergi bersamaku dan Ibu kandungku, hati wanita mana yang tidak sakit jika di posisi Ibu, tidak akan yang bisa mampu berdiri lagi seperti Ibu, disaat hatinya sakit melihat itu, Ibu juga mendadak orang yang sangat dicintainya itu, dan saat itulah aku hadir, ditengah duka dan luka yang Ibu alami, hati Ibu pasti sakit, Ibu pasti terluka Ayah, jadi wajar saja Ibu bersikap seperti itu padaku, bisa saja waktu itu Ibu meninggalkanku, bisa saja waktu itu Ibu tidak perlu menyelamatkanku, tapi Ibu tidak melakukan itu Ayah, dengan rasa sakitnya, Ibu tetap menerimaku dengan lapang dada, jadi Ayah aku mohon, jangan pernah membenci Ibu," wajah Lily kini sudah banjir dengan air mata.
Alan tak bergeming, dia tetap diam saja, kedua tangannya basah karena air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
"Ayah!" Lily melepaskan pelukannya agar bisa menatap sang Ayah.
__ADS_1
"Kalian istirahatlah, Ayah juga harus istirahat, kita bahas hal ini nanti," jawab Alan langsung bangun dari duduknya dan meninggalkan Lily tanpa menatapnya.
"Ayah!" Lily menahan tangan Alan yang hendak pergi, tapi perlahan Alan melepaskan pegangan sang putri.
Lily menatap sendu kepergian Ayahnya, Jason yang sedari tadi hanya diam memberi kesempatan Ayah dan anak itu berbicara kini mendekat dan duduk di samping Lily, merengkuh istrinya untuk masuk ke dalam dekapannya, meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Alan menghentikan langkahnya tiba-tiba, "Ayah minta kamu tidak menemuinya lagi, Ayah tidak rela jika putri Ayah mendapat penghinaan seperti yang sudah wanita itu katakan," setelah mengatakan itu, Alan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Lily yang kini semakin terisak di dekapan Suaminya.
Flashback off
Lamunan mereka saat mengingat kejadian semalam, buyar saat tiba-tiba ponsel Jason yang ada di atas nakas berdering, Jason meraih dan mengambil ponsel itu, menggeser ikon warna hijau menerima panggilan masuk yang masuk.
"Sekarang? Baiklah, sepuluh menit lagi sampai, jadi kamu pastikan sampai saat itu," ucap Jason yang meletakkan ponselnya kembali, bisa Lily tebak jika panggilan itu sudah berakhir.
"Kamu juga bersiap sekarang, sayang!" Perintah Jason pada Lily yang kini sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kamu pergi sendiri saja, aku tidak ikut," jawab Lily memejamkan matanya.
"Kamu yakin tidak ikut?" Tanya Jason menatap istrinya.
__ADS_1
"Hmm, Lily mengangguk tanpa membuka mata.
"Ya sudah, berarti aku akan sendiri menjenguk Kakakmu," jawab Jason yang berlalu pergi meninggalkan istrinya untuk mengganti pakaiannya.
"Apa yang tadi kamu bilang? Menjenguk Kakakku? Maksudnya Kak Dahlia," Lily langsung menyingkap selimut dan duduk begitu Suaminya bilang jika mereka akan menjenguk Kakaknya.
"Tunggu!" Lily turun dari ranjang mengejar suaminya yang akan ke walk in closet.
"Sepertinya tadi ada yang bilang tidak mau ikut," ucap Jason sengaja menyindir istrinya.
"Habisnya kamu tidak bilang mau pergi untuk menjenguk Kak Lia, kalau tadi kamu bilang aku pasti akan setuju, dan juga aku tidak perlu berpikir dua kali," kesal Lily menahan pintu yang akan ditutup Suaminya.
"Jason, biarkan aku masuk juga biar bisa menghemat waktu, kita ganti bersama," ucap Lily yang masih menahan pintu.
"Kamu yakin? Yang ada akan lama sayang, dan kemungkinan kita malah tidak jadi menjenguk Kakakmu," jawab Jason dengan lantang.
Jason tidak bercanda, dia serius saat mengatakan itu, bagaimana dia bisa menahan diri, disaat dia memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu dengan istri tercintanya.
"Jason!" Tenaga Lili bukannya melemah kini justru semakin kuat.
__ADS_1
Lily terus mendorong dan mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Tapi dirinya yang seorang perempuan tentu saja kalah tenaga dengan Jason yang seorang pria, hingga pintu itu akhirnya tertutup bahkan bisa Lily dengar jika Jason sudah mengunci pintunya.
"Akh!" Teriak Lily yang langsung terduduk di lantai.