Please Love Me

Please Love Me
Bab 202


__ADS_3

"Kau!" Max terkejut saat melihat siapa tamu yang menemui adiknya.


"Ronald?" Tak hanya Max bahkan Bunga pun ikut terkejut saat melihat jika ternyata pria itu adalah Ronald, sepupunya.


"Flo? Kau disini? Kalian?" Ronald menatap mereka yang ada disana satu persatu.


"Kalian saling mengenal?" Tanya Liora mewakili semua orang yang ada di sana yang juga merasa penasaran.


"Untuk apa kamu disini? Dan untuk apa kamu menemui adikku?" Tanya Max menatap tidak suka Ronald.


"Kak tunggu, jawab dulu pertanyaanku," kata Liora karena kakaknya tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Kamu jauhi dia dan jangan dekat-dekat dengannya lagi!" Kata Max memperingati adiknya.


"Tunggu sebenarnya ada apa ini?" Tanya William yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


"Kamu mengenalnya Max?" Tanya William kepada putra keduanya itu.


Sebenarnya bukan hanya mereka saja yang terkejut melihat Ronald, karena jujur Ronald juga terkejut saat melihat sepupu dan suaminya ada disana.


"Tunggu! Kenapa aku tidak ingat? Bukannya suaminya Flo bernama Maxime Anderson dan…" Ronald kini menatap Liora dengan wajah bingungnya. "Dan nama El, bukankah Eliora Anderson, kenapa aku sampai melupakan hal itu?" Ucap Ronald dalam hatinya.


"Hmm aku mengenalnya dan dia bukan pria baik-baik, tunggu, jangan bilang, jika dialah yang papi ceritakan?" Max menatap William memastikan jika Ronald bukanlah pria yang waktu itu pernah papinya ceritakan.


"Benar, Nak Ronald adalah orang yang sama papi ceritakan padamu, terus apa maksudmu mengatakan jika Nak Ronald bukan pria baik-baik, apa kamu mengenalnya sebelumnya?" Tanya William menginterogasi putranya itu.


"Maaf Max sepertinya kamu salah paham padaku, aku…" Biasanya Ronald bisa menjawab ucapan ayahnya, tapi entah kenapa tidak bisa menjawab apa yang Max ucapkan untuk memojokkannya. Lidahnya terasa keluh.


"Aku kenapa? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu sebelumnya, yang mengganti wanita seperti mengganti pakaian dan sekarang kau ada niat seperti itu padaku, jangan harap kau akan bisa."


"Tunggu sebenarnya…"


"Ronald adalah sepupuku," kata Bunga yang sedari tadi hanya diam saja.


William dan Tiffa melihat ke arah Ronald dan menantunya itu bergantian.


"Tunggu kalian…" Liora menunjuk Bunga dan Ronald dan mengamati wajah keduanya yang sama sekali tidak ada mirip-miripnya. 


"Sekarang kau pergi, dan jangan ganggu adikku lagi!" Usir Max untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Liora menatap Ronald kemudian mendekat ke arahnya.


"Kak cukup! Ronald tamuku dan yang berhak menyuruhnya pergi ya hanya aku, lagian Kak Max kan yang tadi menyuruhnya masuk kenapa Kak Max sekarang malah yang mengusirnya?"


"Liora masuk ke kamarmu!"


"Tidak mau!"


"Liora kamu tidak mengenal siapa dia, kamu hanya akan terluka jika bersama laki-laki sepertinya. Kamu belum terlalu banyak mengenal pria, jadi percayalah sama apa yang Kakak ucapkan."


"Kak!"


"Liora ini demi kebaikanmu!"


"Sayang bawa Ken masuk ke kamarnya," kata Tiffa mengajak Bunga untuk pergi dari sana membawa anaknya yang kini sudah terlelap, meninggalkan Max, William, Liora dan juga Ronald.


"Kak yang terbaik buat aku hanya aku sendiri yang bisa menentukan, dan Kakak tidak berhak menilai Ronald dan bahkan mengatakan Ronald bukan pria baik-baik. Lagian jika memang iya kenapa? Yang penting Ronald tau kesalahannya dan mau berubah."


"Liora kamu tidak tahu, jika dia suka membawa wanita ke…"


"Aku tahu, aku tahu semuanya Kak, jadi cukup, Kak Max tidak perlu mengatakan semuanya, apalagi di depan Papi."


"Eliora Anderson mau kemana kau?" Teriak Max yang melihat adiknya justru pergi bahkan sambil menarik tangan Ronald untuk mengikutinya.


"Masuk!" Perintah Liora sesaat setelah dia membuka pintu mobil.


"Kan aku sudah bilang, jangan ke rumah dulu, kenapa tidak mau mendengarkanku? Dan lihatlah sekarang! Kak Max bahkan mengenalmu," Liora mengacak rambutnya frustasi.


"Susah sih dibilangin," kata Liora kemudian mengitari mobil dan segera masuk dan duduk di kursi kemudi.


Liora segera melajukan mobil pria itu. Dirinya benar-benar kesal karena Ronald sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakannya.


"Kenapa?"


Liora menoleh mendengar pria itu mengucapkan sesuatu.


Ronald menatap Liora, "Kenapa kamu membelaku di depan kakakmu?" Tanyanya.


Liora kembali menatap jalanan di depannya. "Ehem,ehem," Liora berdehem saat tiba-tiba pria itu menanyakan hal yang tidak pernah Liora duga sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya diri, aku sama sekali tidak membelamu, aku hanya tidak suka jika ada orang yang dipojokkan di depanku," jawabnya memberi alasan. Dalam hati Liora juga tidak menyangka jika dia akan membela Ronald seperti itu.


"Bagaimana jika yang dikatakan kakakmu benar?" Tanya Ronald setelah keduanya tadi dalam keheningan beberapa menit.


Liora mengernyitkan dahi, "Soal?"


"Jika aku suka berganti wanita."


"Oh itu, aku sudah tahu, kenapa kau bertanya seperti itu? Lagian hal itu juga bukan urusanku, jadi kenapa aku harus ambil pusing, dan kenapa juga aku harus peduli soal itu?"


"Tapi bagaimana jika aku peduli? Bagaimana jika aku ingin kau menjadikan hal itu sebagai urusanmu juga?"


"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti, lagian untuk apa kau ingin menjadikanmu urusanmu menjadikan urusanku, sungguh aku tidak mengerti," kata Liora membelokkan mobilnya.


"Aku memiliki rasa padamu El, aku ingin mulai saat ini kamu peduli padaku, apa itu tidak terlihat jelas?" Gumam Ronald.


Cit


Ckit


Liora segera mengerem mobil yang dikendarainya, saat mendengar gumaman Ronald baru saja. Dirinya tidak tahu harus berekspresi seperti apa untuk menanggapi ucapan pria itu.


"Apa? Tadi apa yang kau katakan?" Liora kini menoleh dan menatap pria yang duduk di sampingnya.


"Hmm lupakan," ucap Ronald tidak menyangka jika Liora mendengar gumamannya, dan Ronald juga tidak ada niat untuk mengatakan untuk yang  kedua kalinya, apalagi melihat bagaimana tanggapan Liora tadi.


"Tunggu, tadi kau mengatakan sesuatu, coba kau ulangi lagi," kata Liora yang rasanya belum puas karena Ronald belum menuruti keinginannya. Liora yakin jika dirinya tadi  tidak salah mendengar.


"Aku su…"


"Stop! Sudah tidak perlu kau lanjutkan," potong Liora cepat, tiba-tiba dia tidak siap jika Ronald kembali mengatakan apa yang tadi dikatakannya, Liora juga bingung akan menjawab apa jika benar tadi apa yang didengarnya tidak salah.


"El aku su…"


"Cukup Ronald, jangan katakan lagi, aku mengerti," lagi-lagi Liora memotong ucapan pria itu.


Liora terdiam, tidak segera menjalankan mobil kembali, tampaknya dia masih memastikan jika keputusannya untuk pura-pura tidak mendengar apapun dari ucapan Ronald memang sudah benar.


"El kenapa tidak jalan? Katanya tadi mengerti, ayo jalan sekarang, aku sudah lapar soalnya, apalagi tadi siang, aku tidak makan," ucap Ronald dan Liora menatap Ronald tak percaya.

__ADS_1


"Jadi dari tadi dia hanya mau mengatakan aku sudah lapar, bukan aku suka…, Liora apa yang kamu pikirkan?" Jerit Liora dalam hati mengacak rambutnya dan menatap Ronald sekilas  kemudian kembali melajukan mobilnya, lebih tepatnya mobil pria itu.


__ADS_2