
"Terima kasih," ucap Al setelah melepaskan pelukannya.
Dahlia yang baru bisa kembali fokus mengernyitkan dahi bingung saat pria yang tadi memeluknya mengucapkan terima kasih padanya.
"Hah? Kenapa Kak? Mmm maksudku terima kasih untuk apa?" Kata Dahlia gugup.
"Terima kasih untuk pelukannya," jawab Al yang kembali mengemudikan mobilnya.
"Oh itu," jawab Dahlia singkat.
Al melirik Dahlia yang kini justru sibuk menatap keluar jendela, kini hanya keheningan menemani sisa perjalanan mereka.
***
"Sayang apa benar yang kamu katakan? Kamu yakin jika Ibumu sudah…" Alan menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia tidak sanggup meneruskan perkataannya, dirinya sungguh tidak pernah menyangka jika mantan istrinya sudah meninggal, bahkan itu terjadi sekitar 13 tahun yang lalu disaat umur putrinya 5 tahun.
"Maafkan Ayah, maafkan Ayah, kamu pasti selama ini kesepian dan kesulitan, Ayah benar-benar tidak tahu akan kejadian itu, jika Ayah tahu, Ayah pasti akan lebih keras dalam mencarimu hingga kamu tidak sendirian menjalani semua itu," sesal Alan yang terlambat menemukan putrinya.
"Semua sudah berlalu Ayah, jadi Ayah jangan sedih lagi, jujur setelah kecelakaan itu, aku juga tidak mengingat bagaimana Ibu, seperti apa beliau," Lily mencoba melepaskan tangan Alan yang menutupi wajahnya, Lily menghapus air mata Ayahnya yang terus menetes tanpa henti. "Ayah jangan nangis, Ibu sudah bahagia di sana," Lily kemudian memeluk Ayahnya apalagi tubuh pria paruh baya itu terlihat bergetar.
Jason bangun dan pergi meninggalkan istri dan Ayah mertuanya, tak lama dia kembali dengan dua gelas air putih di tangannya, setelah melihat Ayah dan Anak itu sedikit tenang bahkan sudah melepas pelukan mereka, Jason mendekat dan memberikan minuman itu pada keduanya. "Ayah minum dulu!" Ucapnya mempersilahkan.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Alan menerima gelas yang Jason sodorkan. "Oh ya sudah malam, lebih baik kalian istirahat, Ayah juga akan istirahat sekarang, karena besok Ayah harus ke rumah sakit pagi-pagi," Alan mengelus rambut putrinya, bangun dari duduknya kemudian menepuk bahu Jason pelan.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jason khawatir akan istrinya setelah mendengar kabar yang begitu mengejutkan itu.
"Ya aku baik-baik saja, dan sangat baik-baik saja, walaupun aku masih merasa bingung, tapi aku bahagia, karena aku masih punya keluarga yang menyayangiku, dan kebahagiaan itu semakin bertambah saat aku ternyata menikah denganmu," kata Lily kemudian mengecup pipi Jason kemudian segera berlari kecil meninggalkan Jason yang kini diam mematung saat tiba-tiba mendapat kecupan dari sang istri.
Jason menyentuh pipi yang tadi dicium Lily dan kemudian tersenyum, padahal hanya kecupan singkat dan cuma di pipi tapi hal sederhana itu benar-benar membuatnya bahagia.
"Kenapa rasanya berbeda dari biasanya, jadi benar apa yang dikatakan orang-orang," gumamnya masih dengan senyuman kemudian berjalan menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya, tidak sekarang bukan hanya kamarnya saja, tapi kamar mereka.
"Sayang tunggu!" Teriak Jason saat melihat istrinya kini sudah di ujung tangga paling atas.
Sementara Lily justru menjulurkan lidahnya sengaja meledek pria yang sudah berubah status menjadi suaminya hari ini.
Di dalam kamarnya Alan terdiam sambil duduk bersandar di atas ranjang. Dia kemudian mengambil foto yang diletakkan di meja nakas, mengusap foto itu dengan lembut penuh kasih sayang, seakan orang yang ada di dalam foto itulah yang tengah dia sentuh.
"Maafkan aku sayang, selama menjadi istriku aku belum bisa membahagiakanmu, aku mengijinkanmu pergi, agar kamu bahagia, tapi kenapa kamu justru pergi selamanya? Kenapa bahkan aku tidak tahu itu? Kenapa tidak ada yang mengabariku tentang kecelakaan yang terjadi padamu? Kenapa?" Alan kembali mengusap kasar air matanya yang sedari tadi tidak berhenti mengalir, apalagi saat tahu bahwa mantan istrinya sekaligus orang yang dicintainya justru meninggalkannya dengan kedua anak mereka.
"Kenapa kamu pergi secepat ini sayang?" Alan membaringkan tubuhnya mengecup foto dirinya dan sang istri, serta kedua anaknya dengan dalam.
Alan pun memeluk foto itu erat, betapa dia sangat rindu pada istri yang tidak bisa ditemui lagi, Alan menatap sisi kosong ranjangnya yang biasa menjadi tempat tidur istrinya. Hingga tak lama dirinya pun tertidur.
__ADS_1
***
"Mau aku atau kamu dulu yang mandi? Atau mungkin berdua?" Ucap Lily yang duduk di meja rias, melihat Suaminya yang mendekat ke arahnya dari balik cermin.
Jason tampak terkejut mendengar ucapan sang istri, karena biasanya yang menanyakan hal seperti itu adalah kaum laki-laki, dan kini Lily istrinya justru yang mengatakan hal seperti itu.
Kini Jason sudah tepat berada di belakang Lily duduk, dan Jason pun memegang kedua bahu istrinya.
"Sepertinya berdua boleh, biar lebih cepat," bukan Jason yang mengatakan itu, tapi Lily. Dia meminta wajah Jason mendekat hingga kemudian berbisik, Bagaimana apa kamu setuju?"
Jika Jason sedang minum air mungkin saja saat ini dia sudah menyemburkan airnya saat mendengar perkataan istrinya itu.
"Hahaha aku hanya bercanda," Lily tertawa saat melihat wajah Suaminya yang entah seperti apa reaksinya karena sulit untuk menjelaskannya, bahkan Suaminya kini sudah menjauh dari posisinya tadi.
Jason yang kesal langsung membalikkan wajah Lily kemudian menciumnya, dari perlahan hingga kini ciuman itu lebih menuntut.
Hmmph
Lily mendorong dada Jason agar melepas ciumannya dan akhirnya berhasil.
"Aku tidak bisa napas tau," protes Lily.
__ADS_1
Bukannya marah, Jason justru kini tersenyum apalagi mendengar protes istrinya itu.
"Ya sudah lebih baik kamu mandi duluan saja," Jason pun akhirnya membiarkan istrinya untuk mandi terlebih dulu. Jason tahu istrinya sudah kelelahan dan dia ingin istrinya bisa cepat-cepat istirahat, dan tidak ingin berdebat lagi, karena jika hal itu dilakukan pasti akan memakan waktu yang lebih lama.