
Lily menggeliat pelan, dia perlahan membuka kedua matanya, dirinya terkejut dan langsung saja terbangun.
Pandangannya tertuju pada tiga orang yang duduk di sofa, satu diantara tertancap selang infus di punggung tangan kanannya.
"Sayang sudah bangun?" Kedua pria yang berada di sisi kiri dan kanan menoleh mengikuti arah pandang pria yang tengah berbicara.
Buru-buru salah satunya yang lebih muda, bangun untuk membantu Lily turun dari ranjang.
Sementara Lily berusaha mencerna apa yang terjadi, dirinya tidak bisa berkata-kata, dia tidak menyangka kini melihat suaminya yang tengah tersenyum padanya, duduk bersandar pada sofa, dan begitu turun dibantu kakaknya dengan perlahan Lily melangkah mendekat, dia langsung saja memeluk pria itu ditemani tangis yang selama ini juga selalu menemaninya.
Tak ada suara dari wanita itu, yang terdengar adalah isak tangisnya, dan Jason memeluk wanitanya itu begitu erat, tak ingin melepaskan lagi rasanya.
"Sudah sayang jangan nangis, aku sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja, aku janji akan cepat sembuh agar kita pulang sama-sama, aku juga rindu dengan anak-anak."
"Hiks...hiks...kamu jahat, kenapa kamu tidurnya lama sekali. Kamu tidak bangun...bangun hiks...kamu tahu...aku takut...aku takut...kamu tidak bangun lagi...hiks...hiks...kamu jahat…" Lily terus memukuli dada Jason pelan, menumpahkan tangis lega, karena selama dua hari kemarin dirinya selalu dilanda ketakutan, ketakutan yang membayangi mimpi, mimpinya, bahkan saat tidur pun, Lily merasa tidak tenang kala memikirkan kondisi suaminya yang tak kunjung sadarkan diri.
Jason menahan tangan Lily, menghentikan tangan wanitanya yang tidak berhenti memukul, tidak sakit memang, karena Lily memukulnya dengan sangat pelan.
"Maaf sayang, tapi lihatlah, sekarang aku baik-baik saja bukan?"
Lily menatap Jason lalu kembali memeluknya.
Al dan Alan melihat itu tersenyum senang, tak hanya Lily, kedua pria itu pun merasa sangat lega dengan sadarnya Jason kembali. Apalagi saat melihat Lily yang sempat seperti kehilangan semangat, saat Jason terbaring tidak sadarkan diri.
"Sudah makan?" Tanya Jason dan Lily hanya menggeleng, wanita itu memang belum makan, dan memutuskan langsung ke rumah sakit.
"Kenapa belum?"
"Selama kamu tidak sadar, Ale tidak mau makan, mau juga kalau dipaksa, paling beberapa suap saja, padahal aku sudah ingetin, bukan hanya dia yang butuh makan."
Lily mengerucut mendengar ucapan kakaknya, berbeda dengan Jason yang mengernyitkan dahi bingung tak mengerti, pasalnya Jason memang tadi belum diberitahu oleh Alan dan Al, bukan kewenangan mereka pikir keduanya.
Lily menarik dahi suaminya yang berkerut dengan jari-jarinya.
"Jangan mengernyit seperti ini," ujar wanita itu.
Jason hanya menurut lalu menunjukkan senyum manisnya.
"Ayah bawa apa?" Tanya Lily saat melihat sesuatu di meja.
"Dari ibu, buat kamu sarapan, kamu tadi pergi buru-buru."
__ADS_1
Lily hanya menunjukkan cengirannya, lalu kembali memeluk Jason.
"Sudah, sekarang kamu kembali berbaring!" Lily kemudian bangun dan membantu suaminya berdiri, lalu menuntun pria itu agar kembali berbaring di ranjangnya.
"Ya udah, kalau gitu kakak mau ke kampus dulu," pamit Al akhirnya, membiarkan sepasang suami istri itu melepas rindu.
Alan yang mengerti kode putranya ikut bangun, "Ayah juga pamit, uda janji mau mengantar ibu berbelanja, kamu jaga suami kamu baik-baik, bentar lagi, dokter akan kembali memeriksa, memastikan jika tidak ada masalah."
*
*
Lily tersenyum senang karena dokter mengatakan jika besok suaminya sudah diperbolehkan pulang.
"Sayang sini!" Jason menggeser tubuhnya dan menepuk ranjang ranjang rawat di sampingnya, meminta Lily untuk berbaring di sebelahnya.
"Ini di rumah sakit sayang, hmm lagian aku mau makan buah, Tuan Stevano sama Jasmine bawa nya banyak banget juga kan," kata Lily yang kini duduk di kursi samping ranjang rawat samping suaminya sambil mengupas jeruk. Tadi Stevano dan Jasmine baru saja datang menjenguk dan lima menit yang lalu baru berpamitan.
Jason cemberut mendengar penolakan istrinya. Pria itu kemudian merubah posisi miring, yang membuat Lily menahan tawa. Dengan perlahan tak ingin menimbulkan suara, Lily kini ikut naik, kemudian memeluk suaminya dari belakang.
"Gitu aja ngambek," bisik Lily di telinga Jason.
Jason menahan senyum, lalu merubah posisi tubuh hingga menghadap Lily.
Lily kemudian meminta suaminya untuk merubah posisinya terlentang. Setelah itu wanita itu turun.
"Kamu mau kemana?" Jason menahan tangan istrinya yang hendak berlalu pergi.
"Aku yang disebelah sana, aku tidak mau tangan kamu sakit."
Mendengar itu Jason tersenyum lalu menggeser tubuhnya kembali. Dirinya langsung memeluk tubuh Lily begitu wanita itu sudah berbaring di sebelahnya.
Sementara tangan Lily terulur meraih wajah suaminya, dipandangi wajah itu yang kini sudah kembali cemberut dan tersenyum.
"Aku tahu aku tampan, tidak perlu menatapku seperti itu."
"Kepedean banget," ucap Lily dengan bibir mengerucut.
Tangan Jason entah kenapa kini berada di atas perut Lily, Lily mengernyit saat tangan suaminya hanya diam di sana.
"Kenapa?"
__ADS_1
Jason menggeleng kemudian menarik kembali tangannya beralih ke pinggang Lily.
"Kenapa?" Lily menatap Jason, yakin jika ada yang ingin suaminya itu katakan.
"Sayang!"
"Hmm tidak apa-apa, hanya saja aku seperti bermimpi aku sedang berjalan lalu kamu menggandeng seorang anak-anak laki dan memanggilku untuk kembali."
Lily mendengarkan dengan seksama, setiap kata yang keluar dari bibir suaminya.
"Apa sebegitu pengennya kamu ingin anak laki-laki?" Tanya Lily yang tak mengalihkan pandangannya sedetikpun.
"Entah, aku juga tidak tahu, tapi mimpi itu begitu jelas. Tapi sayangnya aku tidak bisa melihat wajah anak laki-laki itu."
Lily meraih tangan suaminya lalu menuntun ke arah perutnya. Membiarkan tangannya di atas tangan suaminya yang kini menyentuh langsung perutnya, karena Lily memasukkan ke balik pakaian yang dikenakannya.
"Sayang…"
"Iya, disini ada anak kita."
Jason menatap Lily dengan mata berkaca-kaca, Jason mencoba bangun, lalu berbisik entah apa, kemudian mengecup perut Lily berkali-kali.
"Makasih sayang, makasih karena selalu memberi kebahagiaan untukku, makasih," setelah mengatakan itu Jason mengecup seluruh wajah Lily berkali-kali.
"Sama-sama, karena kebahagianmu juga kebahagiaanku," ucap Lily kemudian memeluk suaminya erat.
"Aku tidak sabar menunggu kamu pulang," ucapnya tertahan karena bibir Lily kini tepat berada di dada Jason.
"Hmm dan aku tidak sabar jagoanku keluar."
"Jagoan?" Lily sedikit menarik dirinya menatap Jason yang mengangguk antusias.
"Sok tahu, periksa aja belum tahu jenis kelaminnya apa."
"Tidak sayang, aku yakin jika kali ini anak kita laki-laki."
"Sudahlah jangan terlalu berharap, nanti takutnya kecewa, laki-laki maupun perempuan yang penting sehat dan selamat bukan?"
"Hmm iya, iya," jawab Jason mengalah.
"Tapi jika anak kita perempuan lagi, aku mau punya anak lagi, sampai kita punya anak laki-laki," tambah Jason.
__ADS_1
"Terus kalau anak perempuan kita sudah sepuluh, kita mau tambah lagi gitu?"
"Iya dong, lagian kamu masih muda," jawab Jason dan keduanya lanjut mengobrol karena rasanya sudah lama mereka tidak mengobrol sambil berpelukan seperti itu.