Please Love Me

Please Love Me
Bab 292


__ADS_3

Ronald mengikuti Liora yang kini masuk ke dalam sebuah kamar. Pria itu merutuki dirinya yang bahkan sampai lupa jika pintu itu tidak bisa dibuka begitu saja.


Ronald mengingat jika ini adalah hotel milik Max, kakak Liora, pria itu memutuskan untuk kembali ke receptionist, meminta kartu akses masuk ke dalam kamar itu, setidaknya jika dia menghubungi Max, mungkin pria itu bisa mendapatkannya.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan," ucap salah satu wanita itu ramah.


Ronald mengatakan maksudnya, awalnya keinginan Ronald ditolak karena mengingat peraturan hotel yang tidak bisa memberikan informasi atau apapun menyangkut masalah pribadi milik tamu mereka. 


Tapi mereka akhirnya memberikan apa yang Ronald minta karena Ronald menghubungi pemilik hotel itu dan meminta mereka untuk memberikannya.


Dengan langkah terburu-buru, Ronald kembali ke kamar yang istrinya masuki, menempelkan kartu dan pintunya terbuka. Ronald masuk ke dalam kamar itu, dan pemandangan yang pertama kali dia lihat hanyalah kegelapan, dan baru saja Ronald melangkah, lampu menyala terang, istrinya ada di sana memegang sebuah kue, dia tengah tersenyum dan berjalan menghampirinya sambil bernyanyi, menyanyikan lagu yang sudah lama tidak dia dengar. Semua orang ikut bernyanyi dengannya, dan nyanyian selesai tepat saat Liora kini berdiri di hadapan Ronald.


"Selamat ulang tahun Suamiku," ucap Liora.


Ronald menatap tidak percaya, apalagi saat mengedarkan pandangan, bahwa tidak hanya istrinya yang ada disana, ada ayah dan ibu serta adiknya, bahkan Max, Flo, Jasmine, Stevano, Jason dan Lily juga ada disana. Benar-benar pemandangan langkah. Dan Jack pria yang sedari tadi siang disebutkan istrinya justru tidak terlihat.


"Baby kamu…"


"Maaf karena sudah berbohong," jawab Liora.


Ronald menggeleng, bukan itu maksudnya, dia hanya merasa terharu karena baru kali ini ada yang mengingat hari ulang tahunnya, bahkan dia sendiri sudah melupakan hal itu.


Ronald langsung memeluk Liora, kue yang Liora pegang hampir saja terjatuh, saat mendapat pelukan dari suaminya tiba-tiba.


Adik Ronald mendekat, mengambil kue yang ada di tangan Liora.


Sementara Liora membalas pelukan suaminya dan menepuk-nepuk punggung pria itu. Seolah mengatakan "Ada aku, kedepannya kamu akan mendapatkan ini, hal yang sebelumnya sempat kamu lewatkan."


"Makasih baby. Aku benar-benar tidak menyangka, dan maaf sudah sempat berpikiran buruk padamu tadi."


"Sama-sama, sekarang kamu make a wish dulu, semua orang sudah menunggu," bisik Liora dan Ronald mengangguk.


Pria itu melepaskan pelukannya kemudian menatap mereka satu persatu yang hadir disana yang tengah tersenyum padanya, terakhir pandangan jatuh kepada istrinya yang kini kembali membawa kue. 


Ronald mendekat, kemudian memejamkan mata beberapa saat, dan kembali membukanya lalu meniup lilin-lilin yang tertancap di kue.


Terdengar suara riuh semua orang, dan satu persatu dari mereka maju memberi selamat pada pria itu, hingga saat ibu Ronald yang berjalan mendekat, wanita itu langsung memeluk putranya begitu saja, rasa bersalah menyusup ke dalam relung hatinya, baru kali ini dia mengucapkan kata selamat ulang tahun secara langsung kepada Ronald.

__ADS_1


Mike ayah Ronald juga mendekat, pria itu merasa sama bersalahnya, dirinya yang terlalu sibuk untuk bangkit dari keterpurukan  membuat dirinya lupa akan hari-hari seperti itu, menganggapnya sebagai hari biasa, tanpa tahu jika dulu Ronald yang masih kecil mengharap walau hanya sebuah kata ucapan, akan hari yang dianggap biasa oleh ayahnya itu.


Mike segera memeluk putranya saat mantan istrinya sudah melepaskan pelukan mereka. 


"Selamat ulang tahun Nak, maaf karena ayah baru mengucapkannya setelah sekian lama, ayah…"


Ronald melepas pelukan dan menatap ayahnya.


"Sudahlah ayah, jangan mengatakan apapun lagi, jangan merasa bersalah, karena aku tahu semua yang ayah lakukan selama ini juga untukku, dan aku tidak mempermasalahkannya, dan kali ini, aku bisa merasakan hal ini kembali karena aku beruntung memiliki istri seperti El," ucap Ronald melihat ke arah sang istri yang tengah tersenyum padanya. Ronald menarik pinggang Liora yang berdiri di sampingnya, mengikis jarak diantara mereka.


Liora melihat ke arah kedua kakaknya, tatapan matanya seolah mengucapkan terima kasih karena telah membantunya untuk menyiapkan kejutan untuk suaminya.


"Hmm bagaimana kalau kita makan? Kalian bisa menikmati apapun yang kalian mau?" Kata Max.


Semuanya mengangguk setuju, mereka semua keluar dan menuju ke restoran yang ada di hotel itu.


Begitu pun dengan Ronald dan Liora. Di tengah perjalanan mereka, Ronald mengernyit heran saat Liora menarik Ronald ke tempat yang berlawanan arah dari yang lainnya. Apalagi saat ternyata, Liora mengajaknya menuju ke tempat lain dan berjalan ke arah mobil miliknya.


"Masuklah, kali ini aku yang akan menjadi sopirnya." Ucap Liora membukakan pintu untuk suaminya.


"Ayo!" Tambah Liora.


"Kita mau kemana, terus yang lain bagaimana?" Tanya pria itu akhirnya saat sang istri sudah mulai melajukan mobil.


"Kak Max yang akan mengurus yang lain, dan kita...hmmm kamu akan tahu nanti," jawab Liora yang menoleh dan tersenyum pada Ronald.


"Tapi…"


"Tidak perlu khawatir soal mereka, mereka semua pasti mengerti."


"Baiklah."


Liora kembali tersenyum saat melihat wajah Ronald yang tampak pasrah.


Tak membutuhkan waktu lama hingga mobil Liora terparkir di halaman sebuah restoran. 


"Ayo turun!" Ucap Liora sambil melepas seatbelt, diikuti oleh suaminya. 

__ADS_1


Liora berjalan menghampiri Ronald dan menggandeng tangan pria itu mengajaknya masuk.


Seorang pelayan datang menyambut mereka, dan mengarahkannya ke tempat yang memang sudah Liora pesan.


"Terima kasih," ucap Liora pada pelayan yang kini meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa?" Tanya Liora saat suaminya itu justru melihat ke sekeliling.


"Tumben restoran ini sepi." Ucap Ronald dan Liora langsung tertawa.


"Tentu saja." Jawabnya santai.


Mereka menghentikan obrolan saat pelayan tiba-tiba datang dan menyajikan beberapa makanan.


Ronald kemudian menatap sang istri intens begitu, pelayan tadi sudah pergi.


"Baby, jangan bilang jika kamu…"


"Hmm benar."


Ronald memandangi istrinya tak percaya.


"Sudah jangan melihatku seperti itu, aku hanya ingin kita dinner romantis berdua."


Ronald takjub, Liora benar-benar tidak terduga.


"Kenapa? kamu tidak menyangka bukan? Hmm memang itu yang aku mau."


"Ya benar-benar tidak menyangka hingga aku sulit untuk berkata-kata. Kamu bahkan membuat posisi kita seperti terbalik, biasanya kami para pria yang menyiapkan hal seperti ini, dan ini justru…"


"Makanya kamu harus bangga, karena memiliki istri sepertiku," jawab Liora yang kini mulai meneguk minumannya.


"Hmm tentu saja istriku, aku bangga bahkan sangat-sangat bangga memilikimu. Tapi daripada semua yang kamu berikan ini, kamulah yang paling berharga untukku baby."


Seulas senyum terbit di bibir Liora mendengar perkataan sederhana Ronald yang begitu manis menurutnya.  


"Ya sudah ayo makan, aku sudah lapar," ucap Liora mengalihkan pembicaraan, apalagi saat merasakan wajahnya memanas karena tatapan lekat Ronald saat itu.

__ADS_1


Ronald mengangguk, keduanya kemudian menikmati makan malam mereka, makan malam yang menurut Ronald sangat spesial karena sengaja disiapkan khusus oleh sang istri untuk merayakan hari jadinya.


__ADS_2