Please Love Me

Please Love Me
Bab 221


__ADS_3

Lily merasa putus asa karena untuk kesekian kalinya, Liora justru terus menolak panggilannya. Lily kemudian tersenyum menyeringai.


"Awas saja kau kak, setelah ini aku akan pastikan jika kau yang akan terus menghubungiku dan lihat saja pembalasanku, aku akan gantian mengabaikan panggilan telepon darimu," gumam Lily kemudian dan mengirimkan sesuatu pada Liora.


"Ayo sayang tidur!" Ajak Lily meminta Jason membenarkan posisinya.


"Sudah? Tidak dijawabkan panggilannya? Mungkin saja Liora sudah tidur, lagian apa sih yang mau kamu bicarakan saat ini juga, seperti tidak bisa jika dibicarakan besok saja," gerutu Jason.


"Iya, iya maaf," Lily mensilent ponselnya kemudian berbaring, menarik tangan Jason, menjadikan lengannya sebagai bantalan dan memeluk suaminya erat, menempelkan wajahnya di dada bidang suaminya, sambil mengelusnya menghirup aromanya dalam-dalam.


Jason hanya tersenyum merasakan apa yang sedang istrinya lakukan padanya, Jason pun balas memeluk istrinya dengan satu tangannya yang bebas.


"Katanya mau tidur? Atau kau sengaja memancingku hmm?" 


"Tidak, siapa juga yang memancingmu, tapi jika kamu mau..." jawab Lily sengaja menggantung ucapannya masih dengan tangan yang setia mengelus da*da suaminya.


"Kamu pasti lelah, lebih baik tidur saja, apalagi seharian ini kamu tidak istirahat," kata Jason merasa kasihan pada sang istri dan takut membuatnya kelelahan.


"Hmm ya sudah," ucap Lily dan Jason dengan jelas menangkap nada kecewa dari cara bicara istrinya.


Lily melepaskan pelukan dan kini merubah posisinya menjadi miring ke samping membelakangi suaminya. 


Jason menghela nafas, bukan maksud Jason menolak, tapi dia hanya tidak ingin istrinya malah kelelahan. Jason menggeser posisi tidurnya mendekat ke istrinya dan memeluk dari belakang.


"Jangan ngambek sayang, sekarang menghadaplah kesini," ucap Jason yang memegangi tubuh Lily yang berusaha melepaskan pelukannya.


"Sayang," ucap Jason sambil menciumi puncak kepala sang istri.


Lily mengulum senyum, saat kini giliran suaminya yang terus membujuknya.


"Baiklah kalau kamu memaksa," ucap Lily yang kini sudah tiba-tiba merubah posisi menghadap suaminya.


"Kok jadi aku yang memaksa, kan kamu sa…"

__ADS_1


Belum menyelesaikan ucapannya, bibir Lily kini sudah mendarat mulus di bibir suaminya.


Jason menarik tengkuk istrinya, memperdalam ciuman mereka.


Kemudian keduanya sudah hanyut dalam penyatuan mereka, membiarkan ponsel Lily yang terus berkedip karena adanya panggilan yang masuk ke nomornya. Tidak peduli dengan seorang gadis yang kesal karena sudah berulang kali menghubungi Lily tapi tidak juga diangkat.


*


*


"Ayolah Lily jawab teleponnya!" Ucap Liora menatap layar ponsel yang kini sudah mati berganti dengan foto dirinya.


"Kenapa tidak dijawab sih? Padahal dari tadi terus menghubungiku," kata Liora kesal meletakkan ponselnya di pangkuan, menggigit kuku sambil terus melihatnya, berharap Lily akan melihat panggilan darinya. 


Liora terus saja menunggu, tapi sudah setengah jam dia menunggu, Lily tidak lagi menghubunginya. Liora kini berusaha tetap terjaga, walaupun sebenarnya dia sudah sangat mengantuk. Hingga tak lama, Liora duduk sambil memejamkan matanya.


Liora langsung membuka mata, kembali melihat ponsel, tapi kosong, tidak ada apa-apa disana. Hingga Liora pun berinisiatif menelpon nomor seseorang dan Liora merasa senang saat akhirnya orang itu menjawab panggilan teleponnya. Tapi Liora buru-buru mengakhiri panggilan teleponnya sepihak, saat dirinya hanya mendengar suara-suara yang seketika bisa membuat wajahnya memerah.


"Apa mereka sedang…?" Gumam Liora yang langsung menutup telinga, padahal sekarang dirinya sudah tidak bisa mendengar suara itu lagi.


Liora mengambil cemilan serta minuman dingin dan membawanya ke belakang rumah dekat kolam renang, daripada di kamar tidak bisa tidur, lebih baik dia duduk di dekat kolam menikmati cemilan sambil menatap bintang di langit di malam yang cerah ini. Liora menghela nafasnya, diam merenung, hingga Liora melihat ada bayangan seseorang datang, kemudian menempelkan minuman dingin di pipinya.


Liora menoleh dan kemudian kembali mendongakan wajahnya ke atas dimana malam itu banyak bintang di langit yang membentang.


"Kamu? Ngapain malam-malam kesini?" Tanya Liora pada pandangan yang tak lepas dari atas sana.


"Menghiburmu."


"Aku tidak perlu dihibur."


"Oh ya? Tapi kurasa hanya ucapan di mulut saja, tapi dalam hati, kau ingin seseorang hadir menemani kesendirianmu ini," kata orang itu menatap Liora.


Liora hanya mencebikkan bibir kesal.

__ADS_1


"Sudah jangan memasang wajah seperti itu, dan ini minumlah," pria itu menyodorkan minuman kaleng pada Liora.


"Terima kasih," Liora mengambil minuman itu dan langsung meneguknya.


"Aku dengar dia sudah kembali."


"Hmm."


"Kenapa kau malah sedih? Bukannya harusnya kau senang?"


Liora kemudian menoleh dan menatap pria  itu menyelidik.


"Apa kamu benar-benar tidak tahu Jack?" Tanyanya.


Jack hanya menggeleng karena dirinya memang tidak tahu apa-apa.


"Sudahlah lupakan, tidak perlu dibahas," ucap Liora enggan membahas hal itu.


"Kenapa? Apa dia menyakitimu? Akan aku beri dia pelajaran," kata Jack yang kini langsung bangun dari duduknya.


"Jack!" Liora menarik bagian bawah kaos Jack agar pria itu tetap diam di tempatnya.


"Dia tidak menyakitiku, tapi mungkin aku yang menyakitinya," ucap Liora sendu.


"Kamu menyakitinya? Maksud kamu?"


"Tidak ada, sudahlah lupakan, aku tidak ingin membahasnya lagi, mengingat saja sudah membuatku kesal.


Liora dan Jack pun hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Liora kembali mendongak dan menutup kedua matanya. Merasakan hembusan angin malam yang perlahan menerpa wajahnya, membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.


"Coba Jack, kamu juga lakukan apa yang aku lakukan, tarik nafas dan hembuskan perlahan, kamu pasti akan lebih merasa tenang, kamu pasti akan merasa beban yang saat ini kamu pikul, lenyap begitu saja," kata Liora meminta Jack menirukan apa yang dirinya lakukan masih dengan memejamkan kedua matanya.


"Hmm iya, kamu benar," ucap Jack yang tidak lepas pandangannya dari Liora. 

__ADS_1


Saat Jack menyadari Liora akan membuka  matanya,  buru-buru pria itu menutup mata, tak ingin Liora tahu bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak melakukan apa yang Liora minta, karena yang ingin dia lakukan hanya terus menatap wajah gadis itu, sebelum semuanya terlambat. Terlambat karena bisa saja, setelah itu, Liora akan menjadi milik pria lain, karena jika sampai hal itu terjadi, Jack  tidak akan punya kesempatan lagi untuk bisa dekat dengan Liora," Jack kembali membuka mata kemudian menatap Liora yang ternyata belum membuka kedua matanya. 


Jack menatap Liora intens, hingga tanpa sadar dirinya tersenyum saat melihat senyum gadis itu.  Jack kemudian dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Liora, membuat mata Liora membelalakan kedua matanya.


__ADS_2