Please Love Me

Please Love Me
Part 74


__ADS_3

"Sebenarnya apa?" Tanya Alan yang sudah tidak sabar mendengar jawaban apa yang akan dikatakannya.


"Maaf Paman, aku tidak bisa memberitahukannya pada Anda, tapi tolong percaya pada saya Paman, bahwa saya mencintai putri Anda, dan masalah saya terhadap keluarga Anderson itu urusan saya, saya berjanji kedepannya masalah itu tidak akan melibatkan Putri Anda, jadi saya mohon Paman berikan kami restu," Jason kembali memohon pada Alan.


"Apa kamu yakin bisa membahagiakan Putriku?" Tanya Alan setelah berpikir beberapa saat.


"Saya tidak yakin dan saya tidak berjanji karena saya hanya manusia biasa yang mungkin tidak sempurna, tapi saya akan berusaha untuk terus membahagiakan putri Anda," jawab Jason mantap.


"Kamu boleh tidak menceritakan padaku masalah tentang kau dan Putri William, tapi tidak dengan Putriku, kau harus mengatakannya, dan kau harus jujur dalam masalah itu, suami istri harus ada rasa saling keterbukaan, dan melihat pekerjaanmu yang mungkin membuatmu sibuk ke depannya, luangkan selalu waktumu untuk Putriku nanti, dan jangan biarkan Putriku merasa kesepian, aku dulu gagal mempertahankan rumah tanggaku tapi aku berharap hal itu tidak akan pernah terjadi pada anak-anakku," beritahu Alan.


"Baiklah Paman, terima kasih, saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Putri Anda," kata Jason tersenyum kemudian menggenggam tangan Alan.


Alan tersenyum smirk, "Hmmm sepertinya kau jangan terlalu senang dulu, karena aku punya satu syarat yang harus kau penuhi jika ingin menjadi menantuku."


"Ayah!"


"Ayah!"


Lily memanggil Alan yang tampak sedang melamun.


"Ah iya Nak, ada apa?" Tanya Alan begitu lamunannya buyar.


"Sekarang bisa Ayah jelaskan kalau tidak salah aku tadi mendengar Ayah memanggilku dengan nama Ale, kenapa? Siapa Ale?" Tanya Lily yang sudah begitu penasaran.


"Namamu Aleandra Licya Horison Nak, kamu adalah putri kandung Ayah, Ibumu memang sering memanggilmu Lily seperti bunga kesukaannya," ucap Alan menjelaskan.


Lily mencoba mencerna apa yang Alan katakan barusan, hingga di detik selanjutnya. "Apa?" Lily berteriak karena begitu terkejut.


"Aku putri kandung ayah, maksud Ayah bagaimana? Aku tidak mengerti, tolong jelaskan pelan-pelan!" Otak Lily terasa blank saat mendengar kalimat itu dari Alan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar," Alan kemudian berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


Jason menggenggam tangan istrinya, dia yakin saat ini Lily pasti belum bisa mencerna dengan baik apa yang sebenarnya terjadi.


"Lily kotak hadiah yang tadi Kakak berikan padamu ada dimana?" Tanya Dahlia.


"Kenapa Kakak menanyakan itu? Apa Kakak akan mengambil barang yang sudah diberikan padaku?" Tanya Lily cemberut.


"Bukan seperti itu maksud Kakak, tapi di dalam kotak itu, akan membantu membuatmu yakin pada perkataan Paman nanti," Dahlia menjelaskan agar adiknya itu tidak salah paham.


"Di kamar sebentar aku ambil," Lily melepas genggaman tangan Jason dan kemudian bangun dari duduknya menuju ke kamarnya di lantai atas.


Tak lama Alan pun kembali, "Dimana Lily?" Tanya Alan yang tidak melihat keberadaan putrinya.


"Tadi Lily ke kamar, tuh dia!" jawab Jason yang kemudian menunjuk Lily saat melihat istrinya itu.


Melihat Ayahnya sudah kembali, Lily pun langsung saja duduk dan meletakkan kotak hadiah yang diberikan Kakaknya.


Lily langsung menerimanya, membuka dan membaca apa yang tertulis di kertas itu, di dalam kertas itu menunjukkan bahwa Lily adalah anak biologis Alan.


"Ayah," Lily menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana bisa? Itulah yang dia pikirkan sekarang.


"Tapi Ayah bagaimana bisa? Maksudnya kenapa Ayah melakukan tes ini? Apa Ayah sudah mengetahui dari awal?" Lily masih memberondong pertanyaan pada pria paruh baya yang baru dia tahu bahwa dia adalah Ayah kandungnya.


"Sebenarnya bukan Ayah melainkan..


"Aku yang melakukannya," seorang pria berjalan ke arah mereka dengan penampilan yang berantakan, rambutnya yang kusut, bahkan kemeja biru dongker yang dikenakannya sudah dilipat sampai siku.


"Kak Al?" Lily langsung bangun dan menghampiri pria itu.

__ADS_1


"Kak, apa yang terjadi?" Tanya Lily yang melihat keadaan Al yang kacau apalagi ada bekas darah di kepalan tangan pria itu.


"Aku tidak apa-apa," jawab Al datar.


Lily tidak percaya begitu saja, dia mengecek seluruh tubuh Al yang terlihat tentunya, mungkin saja ada luka yang lain.


"Kak, Kakak kemana saja? Kenapa Kakak tiba-tiba menghilang? Kau tahu Kak bagaimana bingungnya aku tadi?" Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Lily.


"Kenapa? Apa kamu menyesal aku pergi meninggalkanmu di hari pernikahan kita? Apa kamu berubah pikiran dan akan kembali menerimaku sebagai suamimu?" Tanya Al dengan tatapan sendu.


"Kak, kenapa Kak Al bicara seperti itu?" Tanya Lily balas menatap Al.


"Kenapa tidak menjawab? Kenapa kamu justru bertanya balik?" Al memegang kedua bahu Lily dan mengguncangnya.


Jason langsung berdiri dan hendak menghampiri keduanya, tapi Alan dengan cepat menahan tangan Jason agar mengurungkan niatnya.


Jason menatap Alan tidak percaya, kenapa dia justru setenang itu melihat apa yang terjadi di hadapannya secara langsung, kenapa tidak mendekati kedua anaknya dan memisahkan mereka, bagaimana jika Al menyakiti Lily melampiaskan perasaannya," pikir Jason dalam hati.


Alan menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju jika Jason menghampiri kedua anaknya itu. Jason pun hanya bisa pasrah, dia tidak ingin dipecat jadi menantu apalagi dirinya baru saja menikah.


"Kau tahu hatiku hancur, saat tau hal ini, kenapa kamu? Kenapa tidak orang lain saja yang jadi adikku? Kenapa?" Teriak Al melampiaskan rasa kecewanya.


"Kak!"


"Cukup Lily! Jangan katakan apa-apa lagi, aku baik-baik saja dan kau tidak perlu khawatir," ucap Al dengan suara merendah berusaha untuk meredam amarah yang sempat dia rasakan tadi.


"Kau ingin tahu bukan apa yang terjadi sebenarnya? Baiklah akan kuberitahu! Sekarang ayo duduk dulu, maafkan atas sikap Kakak tadi," kata Al setelah berhasil mengendalikan emosinya, dia menggandeng tangan Lily untuk duduk diantara Ayah dan dirinya.


Dahlia hanya diam menyaksikan semua itu, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, dan juga tidak berhak melakukan apapun, dirinya hanya orang asing yang tidak tahu apa-apa dan kebetulan ada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Jason juga diam memberikan kesempatan pada mereka pada istrinya apa yang telah terjadi, lagian dia juga tidak akan merasa tersaingi lagi oleh keberadaan Al, Al adalah Kakak Kandung gadis itu dan Jason tidak khawatir lagi soal kedekatan mereka.


Al menatap semua yang ada disitu dan berucap dalam hati, "Aku tidak bisa menyalahkan takdir atas apa yang terjadi padaku, kadang aku tidak mengerti takdir itu seperti apa, yang jauh bisa menjadi dekat bahkan kini yang dekat pun akhirnya menjauh, aku selalu berusaha bertahan dengan luka tapi pada akhirnya aku juga yang melepaskannya dengan luka pula. Tapi setidaknya aku lega, karena perasaan ini hanya aku yang punya, jadi dia gadis yang kucintai tidak harus ikut merasakan sakitnya.


__ADS_2