
Tak terasa usia kandungan Lily kini sudah menginjak 9 bulan, Dahlia kakaknya sudah kembali melanjutkan pendidikannya, dan Vega sang ibu dengan bujukan Lily juga Dea, akhirnya mau tinggal bersama. Al pria itu tidak pernah kembali, kadang sesekali memberi kabar, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, dan justru berpesan pada Lily untuk menjaga diri baik-baik dan ayah mereka. Lily berusaha membujuk Al agar pulang, berharap pria itu juga menemaninya saat buah hatinya nanti akan dilahirkan dan di dunia. Namun jawaban pria itu justru membuat Lily kecewa. Al hanya bilang, tidak janji, tapi nanti diusahakan. Mengingat itu Lily menghela nafasnya berat. Arah pandang Lily kemudian tertuju pada seorang wanita yang kini terbaring lemah, Lily menggenggam tangan yang sangat kurus itu, seperti tinggal tulangnya saja.
Dia bersyukur karena setidaknya ibu yang membesarkannya itu, sudah bertahan sejauh ini, Vega hanya selalu bilang akan bertahan, dia ingin melihat cucu pertamanya, yang tak lain adalah anak Lily. Walaupun tubuh Vega harus terus kesakitan selama masa pengobatan, tapi Vega rela asalkan bisa bertahan, dan dia begitu bersyukur karena bisa bertahan sejauh ini.
"Jangan menangis lagi," ucapnya tiba-tiba, tangannya yang lemah dia ulurkan untuk menghapus air mata Lily yang sudah membanjiri wajahnya.
"Tidak kok Bu, Lily tidak menangis," jawab Lily mengelak.
"Hmm ini tadi hanya kelilipan saja," tambahnya meyakinkan sang ibu.
Vega hanya mengangguk, pura-pura percaya saja, padahal sangat jelas jika putrinya itu habis menangis.
Vega kemudian mengulurkan tangannya lagi.
Lily yang mengerti langsung membawa tangan sang ibu, untuk memegang perutnya, karena itulah yang Vega selalu lakukan selama tinggal di rumah orang tua kandung Lily.
"Bagaimana cucu nenek hari ini? Nenek sudah tidak sabar melihatmu lahir ke dunia ini," ucapnya dan Lily tidak bisa lagi menahan air matanya, karena tanpa seijinnya langsung tumpah begitu saja, walaupun hanya mendengar apa yang Vega katakan barusan.
"Aku juga tidak sabar bertemu dengan Nenek," ucap Lily menirukan suara anak kecil membuat Vega tersenyum.
Kedua orang itu pun langsung menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya Lily yang kini mencoba berdiri dan berjalan menghampiri suaminya.
"Iya, hari ini aku pulang cepat, dan juga mulai besok aku tidak akan ke kantor lagi," ucap Jason yang langsung memeluk istrinya.
Kening Lily mengerut, begitupun Vega yang kini dengan perlahan bangun dan duduk bersandar menatap menantunya.
"Aku ingin selalu menemanimu, takut jika tiba-tiba anak kita nanti lahir, apalagi perkiraan dokter kan minggu ini," jawab Jason setelah melepaskan pelukannya, Jason kemudian berjalan menghampiri Vega dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Bagaimana kabar Ibu hari ini?" Tanyanya, lalu duduk di sisi ranjang kosong tempat Vega.
__ADS_1
Vega tersenyum, "Ibu baik, Lily kamu urus suami kamu dulu gih sana," ucap Vega pada putrinya.
"Iya Bu, ya sudah, Lily tinggal dulu ya Bu," ucap Lily yang langsung menggamit tangan suaminya keluar dari kamar Vega.
*
*
"Bagaimana menurut Anda, apa ada yang perlu diubah?" Tanya seorang gadis menunjukkan desainnya kepada klien.
"Hmmm sepertinya tidak perlu."
Gadis itu mengangguk, kemudian ikut bangun saat melihat kliennya bangun dari duduknya.
"Baiklah, Nona Liora kalau begitu kami permisi, jika nanti memang ada yang perlu diubah, kami akan kabari segera," ucap klien prianya.
"Iya Tuan, terima kasih sudah mempercayai saya untuk merancang gaun pengantin kalian," ucap gadis yang ternyata adalah Liora.
Liora kemudian berjalan gontai menuju ruangannya, sudah lima bulan ini dirinya bekerja di butik Liliana, ibu dari Jasmine, kakak iparnya. Dia mengundurkan diri dari perusahaan kakaknya, ingin melakukan pekerjaan sesuai hobinya.
Liora duduk di sofa, setelah seharian ini sibuk dengan pekerjaan, mengambil ponsel dan melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Rasanya dia malas untuk kembali sekarang. Karena jika diam di rumah, Liora semakin teringat pria itu, pria yang berhasil melupakan cinta pertamanya, tapi sayangnya Liora harus patah hati, setelah kakaknya memberikan foto-foto pria itu bersama beberapa wanita. Ya sejak kejadian saat itu, setelah Liora mengusir Ronald untuk pergi, hari berikutnya, Liora tidak bertemu Ronald lagi, pria itu seperti hilang ditelan bumi, dan Liora benar-benar merasa kecewa, marah, perasaannya campur aduk, tapi sayangnya Liora tidak bisa membencinya, seberapa Liora mengingat perbuatan buruknya, tapi dia tetap mencintai pria itu.
Ponsel Liora berdering, nama Kak Max terlihat di layar ponselnya dan dengan malas, dia menjawab panggilan itu, karena jika tidak, dapat dipastikan jika Max akan terus menghubunginya sampai Liora benar-benar menjawabnya.
"Halo kenapa Kak?"
"Sayang ini Papi," jawab seseorang di seberang telepon.
Liora menjauhkan ponsel dan melihat apa tadi dia salah melihat, tapi benar di layar tertulis nama Kak Max yang menghubungi.
"Papi pakai ponsel Kak Max?"
__ADS_1
"Hmm iya, ponsel Papi ketinggalan di kantor, ini Papi sedang ada di rumah Kakakmu, kamu sudah mau pulang kan? Jika iya kamu pulang ke rumah Kak Max ya, sekalian jemput Papi, kan Papi tadi pagi tidak bawa mobil."
"Iya, ya sudah El kesana sekarang," ucap Liora yang kemudian memutuskan panggilan.
Liora menoleh saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Liora tersenyum melihat siapa orang yang datang.
"Sayang kamu belum pulang?" Tanya seorang wanita yang begitu Liora kagumi.
"Belum Bu, ini mau pulang, tadi Papi nelpon suruh pulang sekarang."
"Ya sudah hati-hati pulangnya, kamu jangan terlalu lelah, dan memaksakan semuanya, jangan jadikan pekerjaan, pelampiasanmu disaat hatimu tidak baik-baik saja, karena itu hanya menyiksa dirimu sendiri," ucap wanita itu.
"Iya Ibu, Liora tidak memaksakan diri kok, memang lebih suka menyibukkan diri saja," jawabnya berkilah.
"Sama saja, ya sudah Ibu mau pulang, itu Ayah Alex sudah ada di depan jemput Ibu, atau kita mau bareng ke depannya?" Tanya Liana menawarkan.
"Hmm iya, tunggu sebentar Bu, aku ambil tas dulu," jawab Liora yang bergegas pergi mengambil tas nya.
Mereka berjalan bersama dan kemudian berpisah karena rumah mereka berlawanan arah. Liora menancapkan gas menuju rumah kakaknya.
Sepuluh menit perjalanan, akhirnya Liora telah sampai. Liora turun dan segera masuk. William, Max, Bunga sedang duduk di ruang keluarga, entah membicarakan apa, tapi terlihat begitu serius dan ketiga orang itu langsung diam saat menyadari kedatangan Liora.
Liora menatap mereka satu persatu, dan dengan perlahan melangkah menghampiri mereka dengan kernyitan di dahinya.
"Sini El!" Pinta William agar Liora duduk di sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Liora to the point.
"Sini duduk dulu!" Ucap William lagi.
Dan terpaksa Liora pun menuruti permintaan papinya.
__ADS_1
William menatap Liora intens, kemudian menghela nafas panjang, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Liora terkejut dan langsung beranjak dari duduknya, gadis itu benar-benar tidak menyangka dengan apa yang papinya katakan barusan.