
"Apa ada yang mengganggu pikiran Ayah?" tanya Lily saat tahu jika tadi pria yang sudah seperti Ayahnya sendiri itu melamun. Ya walaupun mereka baru bertemu satu hari ini tapi perasaan nyaman sebagai seorang anak dia dapatkan dari pria yang tak lain adalah ayah dari laki-laki yang mencintainya.
"Mmm tidak ada, bolehkah aku Ayah bertanya sesuatu pada Lily?" Tanya Alan menatap gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya.
"Tentu saja, Ayah mau bertanya apa?" Kata Lily menatap mata Alan.
"Apa kamu mencintai Al?" Tanya Alan serius.
Deg
Pertanyan itu terasa amat sulit Lily jawab, bukan karena apa, tapi memang Lily tidak tahu jawabannya, tapi menurut Lily, Lily belum bisa mencintai Al, tapi apakah Lily akan menjawab seperti itu, apakah jawabannya tidak akan menyakiti pria yang sudah seperti sosok seorang Ayah baginya yang tidak pernah dia dapatkan?" Lily kini tampak sibuk dengan pikirannya, berbagai pertanyaan saling bersahutan di benaknya saat mendengar pertanyaan yang Ayah Al ini ajukan.
"Lily!" Panggil Alan yang langsung membuyarkan lamunan gadis yang kini berusia sembilan belas tahun itu.
"Jawab pertanyaan Ayah, apapun jawaban yang kamu akan berikan pada Ayah akan Ayah terima asal kamu menjawab itu dengan jujur, Ayah tidak akan marah dan Ayah tidak menuntut kamu mengatakan sesuatu yang hanya akan membuat Ayah bahagia tapi tidak dengan dirimu sendiri, jangan merasa tidak enak pada jawaban itu nanti," kata Alan meyakinkan Lily bahwa apapun jawaban yang akan gadis itu berikan Alan tidak akan menyalahkannya asalkan dia tidak berbohong dalam menjawab pertanyaan Alan itu.
"Sebenarnya aku sendiri tidak tahu Ayah bagaimana perasaanku terhadap Kak Al, aku akui jika aku nyaman berada di dekatnya, aku merasa dilindungi dan di sayangi, tapi hal itu rasanya berbeda dengan apa yang aku rasakan kepada seseorang, jantungku berdebar hebat, aku marah jika diabaikan olehnya, aku sakit jika dia membicarakan gadis lain, aku merindukannya disaat tidak bertemu dengannya padahal hanya beberapa jam saja, tapi hal itu tidak pernah aku rasakan jika bersama Kak Al," ucap Lily menunduk sambil meremas jari-jarinya merasa gugup mendengar respon yang akan Alan berikan.
Alan kemudian mengelus rambut Lily dengan penuh kelembutan.
"Itu tandanya jika kamu tidak mencintai Al, Nak, jika kamu memang tidak mencintainya lebih baik kamu lepaskan Al, jika tidak hal itu tidak hanya menyakiti perasaan Al tapi juga menyakiti dirimu sendiri, hal itu hanya akan membuat kalian berdua terluka, apa pria tadi yang kamu maksud?" Alan memberi pengertian pada Lily lalu bertanya siapa pria yang di maksud gadis itu.
__ADS_1
Lily mengangguk membenarkan perkataan Alan, jika memang Jason lah yang dia maksud.
"Ayah lihat dia juga mencintaimu, kenapa tidak bersamanya saja, dan mengatakan sebenarnya pada Al, tentang perasaanmu terhadapnya dan terhadap laki-laki itu, Ayah yakin Al akan mengerti, dia sudah dewasa dan pasti akan bisa mencari solusi dan mengambil keputusan yang terbaik," nasihat Alan yang Lily cerna baik-baik.
"Aku tidak bisa Ayah," kata Lily yang kembali diliputi rasa bersalah.
"Kenapa tidak bisa, coba katakan pada Ayah apa alasannya," tanya Alan yang memang ingin tahu alasan Lily sebenarnya.
"Itu karena aku sudah berjanji pada Kak Al, memberi Kak Al kesempatan untuk bisa membuatku jatuh cinta padanya, tapi sejauh ini aku belum bisa Ayah," ucap Lily lirih.
Alan menghela nafas untuk kesekian kalinya, ternyata putranya tahu jika gadis yang saat ini ada di hadapannya tidak mencintainya.
"Maafkan aku Ayah, aku tidak bermaksud untuk memanfaatkan kebaikan Kak Al, aku juga sedang berusaha membuka hati agar bisa menerima Kak Al, dan akan belajar mencintainya, walau mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama," Lily rasanya semakin tidak berani untuk menatap Alan, dirinya benar-benar merasa tidak enak pada pria yang sangat baik itu.
Melihat Lily yang masih menunduk dan meremas jari-jarinya, Alan kembali mengelus rambut Lily, "Sudah jangan terlalu dipikirkan, Ayah tadi hanya bertanya saja, jalani semua seperti air yang mengalir," katanya kemudian mengecup puncak kepala Lily, dan Alan pun berlalu keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu yang tadi sedikit terbuka.
Begitu keluar Alan terkejut karena putranya Al ada dibalik tembok di depan kamar Lily. Alan yakin jika Al mendengar apa yang tadi dirinya dan Lily katakan, setelah menetralkan keterkejutannya Alan pun menyuruh Alan untuk mengikutinya, "Ikut Ayah ada yang ingin Ayah tanyakan," setelah mengatakan itu Alan berjalan lebih dulu meninggalkan Al.
Mendengar perkataan Ayahnya, Al pun hanya menurutinya dan berjalan di belakang Ayahnya yang ternyata mereka masuk ke dalam kamarnya yang ada di samping kamar yang ditempati Lily. Sebenarnya Al tahu apa yang mereka akan bahas, Al sudah mendengar semua perbincangan antara dua orang yang disayanginya itu.
Alan pun duduk di atas ranjang putranya. "Tutup pintunya!" Alan menyuruh Al yang baru saja masuk untuk menutup pintu, belajar dari kejadian tadi Alan tidak ingin jika Lily mendengarkan perbincangan mereka.
__ADS_1
"Duduklah! Pinta Alan saat Al sudah berjalan mendekatinya.
Al pun hanya menurut, dan bersiap mendengarkan apa yang akan Ayahnya ucapkan.
"Kamu tahu jika Lily mencintai pria lain?" Tanya Alan tanpa berbasa-basi terlebih dulu.
"Iya," jawab Al yang memang tahu saat Lily mengatakannya dengan jujur waktu itu bahwa dia mencintai pria lain dan memberinya kesempatan untuk bisa menghapuskan pria itu dalam hati Lily.
"Apa kamu tahu siapa pria yang Lily cintai?"
"Awalnya aku tidak tahu Ayah, tapi kini aku tahu setelah mendengar perbincangan Ayah dan Lily," jawab Al tanpa kebohongan sama sekali.
"Apa kamu tahu jika Lily tidak mencintaimu?"
Al hanya mengangguk, Alan lagi-lagi menghela nafas, kali ini bahkan lebih panjang dari sebelum-sebelumnya melihat jawaban yang putranya berikan.
"Jika kamu tahu, kenapa kamu masih bertahan dengan cinta sepihak itu Alvaro? Kenapa kamu tetap berusaha mendapatkannya meski kamu tahu hal itu akan sulit kamu dapatkan? Kamu tahu Ayah dan Ibumu saja yang saling mencintai akhirnya berpisah, Ibumu menyerah pada Ayah karena Ayah sibuk dengan pekerjaan Ayah, dan kamu juga memilih pekerjaan seperti Ayah, bagaimana nanti kedepannya? Apa cinta sepihak itu akan tetap bertahan, jika yang saling mencintai saja bisa mundur perlahan dan berakhir perpisahan?" Tanya Alan tak habis pikir dengan apa yang putranya itu tengah putuskan.
"Ayah jangan samakan kehidupan Ayah yang Ayah jalani dengan kehidupanku, Ibu dan Lily adalah orang yang berbeda, please Ayah cukup dukung saja keputusanku, aku mencintainya Ayah, dan itu sudah cukup untukku, aku hanya ingin melindungi dan membahagiakannya, tidak peduli dengan perasaan yang dia miliki untukku, intinya aku hanya ingin terus bersamanya walaupun sama sekali tidak ada namaku dalam hatinya," ucap Al dengan penuh keyakinan.
Sekali lagi Alan menghela nafasnya, dia sudah tidak tahu harus mengatakan apa kepada putra sulungnya itu, apalagi keputusan putranya sepertinya sudah sangat matang, dan itu artinya tidak ada yang bisa merubahnya bahkan dirinya yang berstatus sebagai seorang Ayah.
__ADS_1
"Baiklah jika itu memang keputusanmu, Ayah sudah mengingatkan, tapi kamu yang tetap pada pendirianmu, kamu tahu Ayah mengatakan ini karena Ayah tidak ingin kamu terluka, Ayah tidak ingin kamu merasakan sakit yang Ayah pernah rasakan, di saat orang yang sangat kita cintai memilih pergi dibanding bertahan dan melalui semuanya bersama, bahkan sampai saat ini Ayah tidak tahu alasan dibalik kepergiannya, ada banyak cara untuk melindungi dan membahagiakannya tanpa harus mengorbankan diri kita, apalagi terlihat jelas jika cinta yang dia miliki sangat besar pada pria itu dan tentunya akan sulit untuk menghapusnya begitu saja," kata Alan yang kemudian meninggalkan Al sendirian di kamarnya.