Please Love Me

Please Love Me
Part 145


__ADS_3

"Apa kalian yakin akan menceritakan semuanya jika sudah selesai, aku rasa tidak, jika sudah selesai ya selesai, aku diam bukan karena tidak tahu, tapi aku mencoba mengerti, aku menunggu diantara kalian menceritakannya padaku, tapi apa, setelah kalian sudah saling bertengkar seperti ini, aku pun adalah orang yang paling tidak tahu apa-apa," tangis Lily semakin kencang.


Jason menghampiri istrinya dan langsung menarik ke dalam pelukannya, dirinya juga merasa bersalah karena belum menceritakan hal ini pada sang istri, tapi Jason juga tidak berhak memberitahunya, Jason tahu dia suami Lily, tapi masalah ini adalah urusan orang tua Lily, Jason membantu menyelesaikannya dan biarkan keluarga istrinya sendiri yang menceritakan masalahnya pada Lily bukan dirinya. Tapi apa yang terjadi, masalahnya tidak semudah yang dia pikirkan, dia tidak tahu bagaimana masa lalu orang tuanya, hingga Al mendengar dan masalahnya jadi serumit ini.


"Ale, maafkan Ayah sayang, Alan berjalan mendekati putrinya, dan duduk di lantai di samping putrinya mengelusnya lembut.


Al yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya, menghapus kasar air matanya dan segera berlalu menuju ke kamarnya. 


Tak lama, Lily segera melepaskan pelukan suaminya dan langsung bangun membuat tangan Ayahnya yang masih mengelus lembut rambutnya terjatuh begitu saja.


"Kak, Kakak mau kemana?" Tanya Lily berlari dan menahan tangan Al yang menyeret sebuah koper ukuran kecil berwarna merah.


"Lepaskan Ale!" Kata Al datar.


"Al! Nak kita bisa bicarakan hal ini baik-baik," ujar Alan ikut menahan tangan Al.


Al menghela nafas, kemudian menyingkirkan tangan Ayah dan adiknya.


"Beri Al waktu," ucap Al kemudian menyeret kopernya keluar dari rumah dimana dia dibesarkan.


Alan hanya menatap nanar kepergian putranya. Sedangkan Lily menangis di pelukan suaminya.


"Sayang," Lily menatap suaminya penuh permohonan.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir, Al akan baik-baik saja, kakak kamu hanya perlu waktu untuk menenangkan diri, dia butuh waktu untuk memahami situasi ini, tapi jika kamu mengkhawatirkannya, aku akan menyuruh orang untuk mengawasi Kakakmu," ucap Jason meyakinkan istrinya bahwa Al baik-baik saja.


Jason dan Lily menatap pada sebuah pintu yang tertutup, pintu kamar Alan, ya setelah melihat kepergian Al, Alan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, Alan sudah pasrah jika putrinya pun ikut meninggalkannya.


"Sayang, sekarang jelasin sama aku ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi hingga membuat Ayah dan Kak Al sampai bertengkar seperti itu?" Lily menatap Jason seakan meminta penjelasan.


"Ayo, aku akan ceritakan semuanya," Jason pun bangun terlebih dahulu, lalu dirinya membantu Lily untuk bangun.


Setelah itu, Jason pun membawa Lily ke kamar mereka.


Jason menceritakan semua yang terjadi tadi, tanpa terlewat sedikitpun yang dia ketahui.


"Tapi ada satu hal yang Al tidak tahu tentang Ayah, dan sepertinya Ayah sengaja tidak mengatakannya pada Al."


*


*


Vega dan Dahlia sudah sampai di rumah lima menit yang lalu dengan diantar Dion.


"Apa yang harus Ibu lakukan Lia? Ibu sangat bersalah pada ayahmu, Ibu sudah menuduh ayahmu yang tidak-tidak, Ibu sudah meragukan perasaan cinta ayahmu ke Ibu, kenapa Ibu sampai lupa? Lupa pada masa lalu dimana ayahmu meninggalkan keluarganya untuk bisa bersama dengan Ibu, seharusnya Ibu percaya pada ayahmu, cinta ayah pada ibu begitu besar, tapi ibu meragukannya. Ibu juga bersalah pada Felicya, dia wanita yang baik dan ibu sudah berburuk sangka padanya, Ibu...Ibu bahkan melukai perasaan putrinya, Ibu...apa yang harus Ibu lakukan Lia untuk menebus semua kesalahan Ibu?" Tangis Vega kembali pecah saat mengingat lagi cerita Banu. Vega menyesal, menyesal karena menuduh Felicya bahkan suaminya dengan tuduhan yang kejam. Padahal tanpa mereka mungkin Vega tidak bisa hidup sampai saat ini, mungkin dirinya tidak bisa melihat putri satu-satunya tumbuh besar.


Dahlia memeluk ibunya erat, dia seakan merasakan apa yang saat ini Ibu rasakan. Tapi Dahlia harus kuat untuk menguatkan ibunya, Dahlia tidak boleh lemah, disaat Ibunya dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


"Bu, semua sudah terjadi, dan waktu tidak bisa diputar kembali. Ayah juga pasti tidak suka melihat Ibu seperti ini. Ini mungkin memang sudah jalannya, jalan yang membuat Ibu jadi memiliki dua putri. Ibu jangan bersedih lagi, ayah melakukan ini semua agar Ibu sehat dan bahagia, jangan sampai apa yang sudah ayah korbankan jadi tidak berarti jika Ibu menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang Lia ada disini, bersama Ibu, Lia akan selalu menemani Ibu, selain Lia, Ibu juga masih punya Lily, jadi Ibu jangan sedih lagi ya, jika Ibu sedih, Lia juga akan ikut sedih," Dahlia melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata yang terus menetes membasahi wajah wanita yang sudah melahirkannya.


"Bagaimana jika Lily membenci Ibu? Apa yang harus Ibu lakukan Lia? Apa?" Vega mengguncang kedua bahu putrinya, dia merasa putus asa, dia takut putri yang sudah dibesarkannya jadi membencinya setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Ibu, apa Ibu tidak mengenal putri Ibu? Lily bukan orang yang seperti itu, jika ada apapun, Lily tidak akan langsung menyalahkan hanya karena melihat dari sisinya. Dia pasti akan melihat dari sisi orang lain juga.


Vega menatap tepat di mata sang putri, "Benarkah, benarkah Lily tidak membenci Ibu?"


"Iya, Ibu harus yakin dengan itu, sekarang lebih baik kita makan siang dulu ya, Dahlia sudah memesan makanan. Setelah itu Ibu istirahat," kata Dahlia membantunya Ibunya bangun dan menuntunnya ke ruang makan.


"Apa Lily jadi kesini hari ini?" Tanya Vega setelah mendaratkan tubuhnya di kursi kayu.


Dahlia yang sedang mengambilkan makanan untuk Ibunya seketika berhenti. Dia baru mengingat jika kemarin adiknya janji akan kesini, setelah rencana kemarin batal karena dia harus pergi bersama Ayahnya.


"Lia?" Vega menyentuh lengan putrinya membuat Dahlia kembali ke dunianya.


"Hmmm Lia tidak tahu Bu, apalagi tadi ayah dan kakaknya…" ucapan Dahlia terhenti saat mengingat bagaimana Al, bagaimana tatapan penuh amarah dan juga kecewa dimata pria itu pada ayahnya.


"Bagaimana dengan keadaan Kak Al sekarang?" Dahlia berucap dalam hati saat tiba-tiba memikirkan pria yang disukainya.


"Lia, kenapa melamun?" Ucap Vega membuyarkan lamunan Dahlia.


"Ah iya, kenapa Bu?"

__ADS_1


"Apa Lily akan kemari hari ini?" Tanya Vega mengulang pertanyaannya karena tadi belum mendapatkan jawaban dari putrinya.


"Lia tidak tahu Bu, tapi Ibu tenang saja, Lia akan menghubungi Lily dan menanyakannya. Hmm sepertinya Ibu sudah sangat merindukannya?" Tanya Dahlia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Ibunya tidak memikirkan tentang hal mengenai ayahnya yang membuatnya sedih.


__ADS_2