Please Love Me

Please Love Me
Part 69


__ADS_3

"Ayah!" 


"Kita akan bicarakan di rumah Al," ucap Alan tak terbantahkan.


Al hanya bisa pasrah, dia menoleh ke sampingnya dimana Lily kini hanya duduk diam, menatap keluar jendela. 


"Maaf Lily, maaf jika perkataanku tadi justru semakin mempersulitmu, harusnya aku senang bisa menikahimu dan pada akhirnya juga bisa memilikimu. Namun melihatmu seperti ini kenapa justru hatiku ikut sakit," kata Al dalam hati menatap sendu Lily, dirinya benar-benar merasa bersalah, ucapan yang hanya asal dia katakan justru menjebak dirinya bahkan harus mengorbankan perasaan Lily, gadis yang selalu ada di pikirannya, dan ingin selalu membuatnya bahagia, tapi apa yang dia lakukan tadi, justru membuat gadis itu kembali bersedih dan Al sangat-sangat menyesalinya.


Al meraih tangan Lily dan menggenggamnya, dan tidak pernah Al sangka jika Lily tiba-tiba menepis tangannya itu, bahkan ketika Ayahnya, "Apakah sebegitu kecewanya kamu padaku? Apa di hatimu benar-benar tidak ada sedikitpun perasaanmu untukku, hingga kamu semarah itu padaku karena apa yang terjadi tadi," batin Al terus berkata dengan pandangan yang masih setia ke arah Lily walaupun gadis itu tidak menoleh bahkan meliriknya sedikitpun.


Hingga hanya ada keheningan di dalam mobil itu, sampai mobil sampai di kediaman Alan.


Setelah mobil terparkir sempurna, Lily langsung turun begitu saja dan berlari menuju kamarnya mendahului Alan dan Al.


Lily mengambil semua bajunya dan memasukkannya ke dalam tasnya tanpa tersisa satupun, sambil sesekali menghapus air matanya, jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam dan Lily tidak peduli sama sekali, dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari rumah ini, dia tidak mau terlalu banyak berhutang budi, dan pada akhirnya akan menyudutkan dirinya, apalagi jika dia harus menikah karena balas budi itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Mine, aku dulu berkata dengan entengnya agar kamu menerima saja pernikahan yang diinginkan orang tuamu, tapi sekarang itu terjadi padaku dan aku baru tahu rasanya, dan aku bingung harus bagaimana," lirih Lily yang terduduk di atas lantai menumpukan kedua tangannya yang dilipat diatas lutut dan menelungkupkan wajahnya disana.


Tok


Tok


Terdengar suara pintu yang diketuk, dan Lily tidak peduli dengan gedoran pintu itu yang terdengar terus menerus tanpa henti, tak peduli Lily dianggap tidak sopan pada pemilik rumah, tapi dia benar-benar ingin sendiri dan tidak ingin berbicara dengan siapapun.


Setelah sepuluh menit berlalu kini sudah tidak terdengar lagi suara ketukan pintu, bahkan sepertinya Lily tertidur dengan posisinya yang seperti itu, mungkin saja karena dirinya kelelahan. Niatnya untuk langsung pergi akhirnya batal karena dirinya yang ketiduran.


Sementara di sudut lain rumah itu, Al sedang berbicara dengan Ayahnya.


Alan terlihat tenang mendengar aksi protes putranya itu.


"Bukankah kau mencintainya, dan ingin mendapatkan dirinya? Lalu disaat Ayah akan menyatukan kalian, kenapa kamu justru protes pada Ayah?" Kata Alan dengan masih bersikap tenang.

__ADS_1


"Ayah!" Kesal Al karena respon Ayahnya justru seperti itu.


"Terus Ayah harus bagaimana? Bukankah kamu tadi yang bilang di depan semua keluarga Anderson bahwa kamu akan menikahinya, dan kenapa malah kamu menyalahkan Ayah?" Alan kini menatap putra satu-satunya itu, Alan kira Al akan bersikap dewasa, tapi kini Alan tahu bahwa putranya itu masih cukup kekanak-kanakan dan salah dalam meyelesaikan masalahnya, yang justru menambah masalah baru untuk dirinya sendiri, bahkan melibatkan perasaan Lily, gadis yang dicintainya.


Alan sebenarnya tahu mengapa putranya berbicara seperti itu, karena sedari tadi dia memperhatikan keempat anak muda itu, Alan juga terkejut saat tiba-tiba Al mengatakan jika akan menikah dengan Lily, tapi itu sudah terucapkan, dan tidak mungkin lagi menarik ucapannya.


Alan hanya ingin memberikan putranya pelajaran, bahwa dalam keadaan terdesak sekalipun, dia ingin putranya memikirkan dulu sebelum mengucapkan sesuatu, Alan ingin Al bertanggung jawab pada apa yang telah diucapkan, karena pada dasarnya, seseorang dinilai dari lisannya, jika dia pernah mengatakan kebohongan kepada banyak orang, orang lain akan sulit lagi untuk percaya.


"Ayah tahu mungkin Ayah egois, apalagi mengorbankan perasaan Lily. Tapi Ayah sudah sangat menyayangi gadis itu, Ayah tidak ingin Lily pergi dari kehidupan kita, mendengar ceritamu tentang Lily yang tidak mendapatkan kasih sayang Ibunya, rasanya Ayah ingin mengangkatnya jadi Putri Ayah, tapi kamu mencintainya dan hal itu juga tidak mungkin karena Lily masih mempunyai seorang Ibu, walaupun Ibunya tidak memperlakukannya dengan baik," ucap Alan dalam hati yang tidak tahu alasan dibalik perlakuan buruk Ibu dari gadis itu.


"Ayah aku berkata seperti itu karena hanya untuk memanas-manasi pria itu saja, karena dia sudah berani menyakiti Lily, aku mencintainya dan aku memang ingin dia selalu disisiku, tapi bukan seperti itu caranya, aku sakit melihat perasaannya terluka karena ucapanku tadi apalagi ditambah Ayah akan mewujudkannya," kata Al Frustasi bahkan kini sampai mengusap wajahnya dengan kasar.


Al kemudian meninggalkan Ayahnya dan pergi ke kamarnya setelah mengetuk pintu kamar Lily tapi tidak kunjung dibukanya.


Alan menghembuskan nafas kasar, bisa saja Alan tadi mengelak saat William membahas tentang undangan pernikahan putranya, tapi rasanya Alan berat mengatakan itu, dan hanya diam terus mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Semoga keputusan Ayah ini benar, dan kamu tidak merasakan apa yang Ayah rasakan, Ayah hanya bisa berharap suatu saat nanti Lily bisa mencintaimu dengan adanya pernikahan ini, Ayah hanya ingin putra dan putri Ayah bahagia" gumam Alan yang sebenarnya ragu pada keputusannya, karena Alan juga sakit melihat hati gadis itu terluka disaat mendengar jika orang yang dicintainya akan menikah dengan gadis lain, Alan melakukan itu juga tidak ingin membuat Lily semakin menderita apalagi calon dari pria yang bernama Jason adalah putri dari William Anderson dan itu bukan lawan yang sepadan untuk Lily, Alan takut jalan yang di lalui gadis itu bisa saja membawanya celaka, hingga Alan memutuskan untuk memberikan jalan lain pada Lily, jalan yang cukup panjang dan mungkin hanya luka kecil yang didapatkannya tapi pada akhirnya gadis itu akan aman, dan jalan itu dengan menikahkan Lily dengan putranya daripada harus berhadapan dengan keturunan Anderson. Alan takut jika Jason bahkan tidak bisa menolak permintaan William, karena bagaimanapun Jason sudah besar di keluarga itu.


Alan menatap kosong pada pandangan di depannya "Ayah harap suatu saat kamu mengerti, niat baik dan ketulusan Ayah terhadapmu, Ayah melakukan ini untuk kebahagianmu Lily, kamu sudah Ayah anggap seperti putri sendiri dan Ayah tidak ingin kamu tersakiti," lirih Alan yang sebenarnya juga merasakan kekalutan yang sama seperti yang dirasakan putra dan gadis yang dianggap sebagai putrinya itu.


__ADS_2