
Lily menatap putrinya dengan senyuman lembut.
"Kita masuk dulu!" Ajaknya pada Jason yang menggendong putri mereka.
Jason pun menurut, mereka masuk, Lily lebih dulu duduk di sofa ruang tamu, disusul Jason yang menurunkan Cinta duduk di samping istrinya, lalu dirinya berpamitan untuk membawa masuk koper mereka yang tadi dibawakan sopir ke dalam.
"Cinta sebentar lagi punya adik, jadi Cinta akan dipanggil kakak," ucap Lily pada putrinya begitu keduanya kini telah duduk, tampaknya Cinta masih penasaran dengan ucapannya tadi, bagaimanapun ini pertama kalinya dia akan dipanggil kakak. Karena anak-anak di sekelilingnya, hanya Cinta lah yang paling muda.
"Telus adik Nta mana? Kata ayah ada di dalam pelut ibu, tenapa tidak kelual-kelual, maca adiknya macih malu-malu cama kak Nta."
"Bentar lagi keluar kok, nunggu sampai perut ibu segede gini dulu," Lily menggambarkan sebesar apa perutnya nanti jika akan melahirkan putrinya.
"Yeah! Bental lagi Nta punya temen." Teriaknya antusias.
Lily tersenyum melihat wajah bahagia putrinya. Pandangan Lily kini beralih pada Bibi yang dia lihat bersama putrinya sejak tadi. Dan saat itu pula Lily menyadari jika dia belum melihat ayah dan ibunya.
"Oh ya Bi, ayah dan ibu kemana?"
"Tuan dan Nyonya pergi Nona."
"Sudah lama?"
"Belum kok, baru saja pergi, dan Tuan menitipkan Cinta pada saya."
"Baiklah Bi, terima kasih, Bibi bisa istirahat, Cinta biar sama saya."
"Iya Nona, kalau begitu saya permisi."
Lily mengangguk, kemudian beralih menatap putrinya begitu pelayan tadi sudah tidak terlihat dari pandangan.
"Ayo kita ke kamar, mandi dulu."
"Nta uda mandi, tadi cama nenek, cebelum pelgi."
"Ibu sayang, yang mau mandi. Sudah ayo!" Lily kemudian bangun dan menggandeng tangan putrinya mengajaknya ke kamar.
*
*
Liora membuka mata, dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah sang suami yang tampak tenang dalam tidurnya. Tangannya terulur menyentuh wajah Ronald dengan lembut, tapi gadis itu spontan menarik tangannya, saat merasakan pergerakan suaminya.
Liora kembali memejamkan mata, berpura-pura tidur, dia masih malu berhadapan dengan suaminya, apalagi mengingat apa yang terjadi tadi.
__ADS_1
Dapat Liora rasakan, tangan yang tadi melingkar di perutnya terangkat. Perlahan kepalanya juga sedikit terangkat dan kembali diturunkan, yang tadinya berbantalkan lengan suaminya kini Liora merasa jika sekarang benda empuk yang jadi bantalannya. Selimut dinaikan sebatas leher, beberapa menit kemudian, Liora membuka sedikit matanya, saat dia tidak merasakan pergerakan lagi, yang berarti menandakan jika suaminya mungkin saja sudah turun dari ranjang. Apalagi saat setelah Liora mendengar suara pintu yang tertutup dari arah kamar mandi.
Dan benar saja, saat membuka mata kembali, Liora sudah tidak melihat lagi suaminya disana. Buru-buru Liora bangun dari tidurnya dengan kedua tangan yang mengeratkan selimut agar tidak terjatuh. Tapi saat akan turun, Liora kembali duduk, dirinya meringis merasakan perih.
"Baby kamu baik-baik saja?" Suara Ronald yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Liora mengejutkannya.
"A...aku tidak apa-apa, hanya saja…" Liora menggantung ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa lagi.
Sibuk berpikir menyusun kata-kata yang tepat, dirinya sampai terpekik kaget saat tiba-tiba saja, tubuhnya kini melayang di udara. Bahkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya yang polos, terjatuh begitu saja di lantai kamarnya.
"Ronald selimutnya," ucap Liora pelan, menyembunyikan wajahnya merasa malu.
"Kenapa hmm? Aku bahkan sudah melihat semuanya."
Tentu saja perkataan Ronald yang begitu gamblang membuat Liora merasa ingin dirinya di tenggelamkan saja.
"Ronald mau apa?"
"Mandi, memangnya mau apalagi? Atau mungkin kamu mau kita..."
"Tidak," jawab Liora cepat, hingga Ronald terkekeh dibuatnya.
Ronald membawa Liora masuk ke kamar mandi. Pria itu kini menurunkan tubuh Liora di bath up dengan sangat hati-hati.
"Kamu mau apa?" Liora spontan menyilangkan kedua tangan di depan dada, saat melihat Ronald yang akan membuka handuk yang hanya menutupi bagian tubuh bawahnya.
"Mandi."
"Ronald, aku…"
Terlambat sudah, karena kini Ronald sudah ikut berendam di dalam bath up, tepatnya di belakang Liora, bahkan pria itu mengangkat tubuh Liora hingga akhirnya kini Liora duduk di atas tubuhnya.
"Kenapa? Kamu tenang saja, kita hanya akan benar-benar mandi kali ini, karena setelah ini kita harus bersiap, aku akan mengajakmu keluar setelah ini. Kamu bisa kan? Maksudku, hmm itu... tidak sakit lagi kan?" Ronald menatap sang istri yang kini hanya diam menunduk.
"Tapi bagaimana jika masih sakit? kalau memang masih sakit kan aku bisa menggendongnya, lagian nantinya El juga akan duduk saja, ya seperti itu saja, jadi rencanaku tetap akan berjalan," monolog Ronald dalam hatinya.
"Ya, aku baik-baik saja kok," jawab Liora yang sama sekali tidak di respon oleh Ronald bahkan suaminya itu.
Liora bergerak dan mendongak menatap suaminya, untuk memastikan jika Ronald baik-baik saja. Dan hal itu sukses membuyarkan pikiran Ronald.
"Baby kamu membangunkannya," ucap Ronald dengan suara beratnya.
Liora melotot saat merasakan sesuatu. Hingga tiba-tiba Ronald menarik dagunya dan bibir Ronald kembali menyapa bibir Liora.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab baby!" Ucap Ronald lagi dengan nafas yang memburu, dan hal yang sebelumnya terjadi kini terjadi lagi, niat mereka yang hanya ingin mandi saja, ternyata gagal sudah.
*
*
Ronald menatap ponsel dengan ekspresi yang susah dibaca. Dirinya akhirnya terpaksa membatalkan rencananya untuk keluar bersama sang istri. Padahal Ronald ingin menghabiskan waktu di suatu tempat berdua dengan Liora hari ini.
Liora yang baru keluar dari walk in closet, berjalan ke arah jendela dan membuka gorden kamar yang belum juga dibuka padahal hari sudah mulai siang.
"Kenapa?" Liora kemudian menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Kamu yakin tidak mau keluar hari ini? Ayolah baby, kita belum jalan-jalan bersama lagi kan setelah menikah!"
"Mager, sudah siang juga, mending kita di rumah saja, jalan-jalan kan bisa lain kali." Kata Liora mengambil laptop yang ada di meja, melipat kedua lututnya duduk bersila, dan meletakkan laptop di atas pangkuannya.
"Mending kita nonton saja," kata Liora yang kini sibuk dengan laptopnya.
"Kamu tidak mau makan?"
"Aku sudah meminta Bibi untuk mengantarkannya kemari."
Liora kini sudah mulai fokus pada film yang ditontonnya.
"Baby!"
"Hmmm."
"Kamu tidak bosan di rumah saja?"
"Tidak."
"Baby!"
"Kita nonton ini saja, seru banget ini filmnya."
Ronald hanya menghela nafasnya. Pria itu bangun saat mendengar ketukan pintu. Sementara Liora, dia langsung mengambil ponselnya, mengetikan sesuatu, dan segera meletakkan ponselnya kembali saat ekor matanya melihat Ronald yang berjalan ke arahnya dengan nampan di tangan.
"Ayo kita makan dulu!" Ucap Ronald yang kini meletakkan makanan di atas meja. Melihat istrinya yang sama sekali tidak bereaksi, Ronald mendekat menutup laptop Liora dan mengambilnya paksa, hingga Liora mengerucutkan bibirnya kesal.
"Makan dulu, nontonnya ntar lagi," ucap Ronald yang kembali duduk setelah tadi meletakkan laptop Liora di atas tempat tidur mereka.
Liora mulai mengambilkan makanan untuk suaminya dilanjutkan untuk dirinya sendiri. Keduanya kini tengah menyantap makanan mereka dengan lahap. Saat tengah menikmati makan mereka, tiba-tiba saja, ponsel Liora berbunyi, dan gadis itu segera menjawabnya saat melihat siapa nama orang yang menghubunginya. Sementara Ronald menatap sang istri yang kini justru sibuk mengobrol dengan seseorang di seberang telepon, membicarakan entah apa yang Ronald tidak tahu.
__ADS_1