Please Love Me

Please Love Me
Bab 153


__ADS_3

"Wah baby kau tahu, kau mengejutkan aku saja, bagaimana jika tadi aku benar-benar jatuh? Apa kau mau tanggung jawab?" Tanya Ronald menatap Liora kemudian berakhir menatap pelayan yang ada disana mengantarnya, "Bisakah Anda pergi tinggalkan kami? Saya ingin berbicara dengan kekasihku empat mata dengannya," seperti itulah arti tatapan Ronald saat itu.


Pelayan kemudian membungkukan badannya, "Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan dan Nona," ucapnya yang kemudian keluar dari kamar Liora.


"Tunggu lebih baik Anda disini saja!" Pinta Liora pada pelayan yang tentunya lebih tua darinya.


Tapi pelayan itu justru menatap Ronald, seakan meminta persetujuannya.


"Anda lebih baik…"


Tring


Tring


Ponsel Ronald berbunyi mengurungkan niatnya untuk berbicara. Ronald mengambil ponsel yang kemudian sedikit menjauh dari Liora untuk menjawab panggilan yang masuk ke nomornya.


"Baiklah, saya akan segera kesana," jawab Ronald pada seseorang di seberang telepon.


Setelah memutus panggilan tadi, Ronald pun langsung pergi meninggalkan Liora begitu saja, bahkan tanpa berpamitan kepada gadis yang saat ini tengah menatap kepergiannya.


"Nak Ronald, ini diminum dulu!" Kata Tiffa yang datang dari dapur, tepat berpapasan dengan Ronald yang berjalan dengan terburu-buru.


"Maaf Bibi," Ronald kemudian melihat wajah Tiffa dan merasa tidak tega karena sudah menyiapkan minuman untuknya, Ronald pun menghampiri wanita itu.


"Aku minum ya, Bi?" ijin Ronald kemudian mengambil gelas dan meminum minuman yang sudah Tiffa siapkan, setelah Tiffa mengangguk memberi persetujuan.


"Sudah habis, makasih ya Bi, tapi maaf, kurasa  harus pergi sekarang, ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan.


"Hmm baiklah, tapi tunggu Nak Ronald bukankah mobilmu tadi masih…"


Ronald menepuk keningnya, "Ya ampun, aku lupa Bi, hmm tapi tidak apa-apa aku bisa naik taxi dari sini, dan Bibi tidak perlu khawatirkan itu," kata Ronald kemudian kembali berjalan tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba mendengar suara gadis yang mengakui dirinya sebagai pacar di depan keluarganya.


"Kamu bisa memakai mobilku," kata Liora yang entah sejak kapan, tiba-tiba sudah ada di lantai bawah dan bergabung dengan mereka.


"Tidak perlu, aku bisa naik taxi," ucap Ronald menolak tawaran Liora yang menyuruh dirinya membawa mobil milik gadis itu.

__ADS_1


"Sudah deh bawa saja, Liora meraih tangan Ronald dan memberikan kunci mobilnya secara paksa.


"Baiklah," kata Ronald. Kemudian dia mendekat ke arah Liora.


"Tapi kamu yakin, tidak takut jika aku membawa mobilmu?" Bisiknya pada Liora.


"Tidak, jika sampai itu terjadi, aku akan melaporkanmu ke kantor polisi," Liora menjawab Ronald dengan berbisik mengikuti apa yang tadi dilakukan pria itu.


"Berarti jika kamu tidak takut membawa mobilmu, kamu pasti ingin kembali bertemu denganku bukan?"


"Tidak, siapa juga yang ingin kembali bertemu denganmu lagi?" Liora menyangkal pada pertanyaan Ronald tadi.


"Sembarangan saja kalau ngomong," tambahnya yang kemudian berjalan keluar.


*


*


"Sedang apa melamun disini sendirian sayang?" Tanya Alan kepada Lily yang duduk diam di gazebo yang memang ada di rumah ayahnya.


Lily menatap Ayahnya dan tersenyum.


"Tidak apa-apa Yah, hanya mencari udara segar saja," jawab Lily yang pandangannya kembali fokus ke depan.


"Apa kamu bahagia?" Tanya Alan tiba-tiba, Lily langsung menoleh ke arah ayahnya.


"Kenapa Ayah bertanya seperti itu? Bukankah hanya dengan Ayah melihat saja, Ayah pasti tahu aku bahagia atau tidak?"


"Iya, Ayah melihat kamu memang bahagia, dan Ayah bertanya seperti itu, hanya untuk memastikan saja, Ayah bahagia jika kamu bahagia sayang, maafkan Ayah ya, maaf karena baru berusaha membuatmu bahagia, dan terima kasih sudah bertahan walaupun sulit, hingga akhirnya bisa bertemu dengan ayah."


Lily menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah. Alan pun mengelus lembut rambut putrinya.


"Ayah, apa ayah juga bahagia?" Tanya Lily memainkan jari-jari ayahnya yang bebas.


"Kenapa kau jadi ikut-ikutan Ayah bertanya seperti itu?" Alan menunduk agar bisa lebih leluasa menatap wajah putrinya.

__ADS_1


"Ayah ditanya bukannya menjawab malah balik bertanya," Lily menegakkan kembali kepalanya dan menatap ayahnya. Alan pun balas menatap putrinya.


"Ayah bahagia, sangat-sangat bahagia, apalagi ayah memiliki kalian berdua menjadi anak-anak Ayah," Alan memeluk putrinya dan mengecup berkali-kali puncak kepalanya.


"Aku tahu Ayah sudah memiliki kami, tapi Ayah, Ayah juga harus memikirkan diri Ayah, Ayah jangan salah paham maksudku, bukan aku tidak mau merawat Ayah atau apapun itu, tapi Ayah butuh seseorang yang bisa selalu ada di samping Ayah, menemani Ayah di masa-masa Ayah yang sekarang. Ale sudah memiliki suami, memang Ale akan tinggal disini, tapi Ale tidak bisa terus menemani Ayah, ada suami Ale, atau mungkin jika nanti Ale punya anak, Ale akan sibuk dengan kehidupan keluarga kecil Ale, dan Kak Al juga pasti akan seperti itu kedepannya. Jadi Ayah, carilah sosok wanita yang memang mencintai Ayah dengan tulus, bukan kita melupakan Ibu, Ibu tetap akan di hati kita," kata Lily menatap Alan dan menggenggam tangannya.


"Sayang, kamu tidak perlu khawatirkan Ayah, Ayah bisa mengurus diri Ayah sendiri, lagian Ayah sudah tua, bagaimana mungkin Ayah masih memikirkan hal-hal seperti itu, cukup dengan anak-anak Ayah, Ayah akan merasa bahagia."


"Tapi Ayah…"


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, Ayah masuk dulu, kamu juga lebih baik masuk, sebentar lagi suamimu juga akan pulang," kata Alan mengingatkan putrinya setelahnya dia pun masuk ke dalam rumah.


Bukannya menurut perkataan ayahnya, Lily justru tetap diam di tempatnya memikirkan sesuatu yang hanya dirinya saja yang tahu.


Sibuk dengan pikirannya, Lily terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.


"Sedang apa?" 


Lily menjawab hanya dengan mengedikkan bahunya.


"Kapan Kakak datang? Kenapa tidak mengabariku dulu? Kaki Kakak bukannya masih sakit?" Tanya Lily menggeser duduknya membiarkan seseorang yang dipanggilnya kakak, duduk di sampingnya.


"Baru saja, bukan kejutan dong jika Kakak beritahu kamu jika kakak akan datang, dan untuk masalah kaki Kakak sudah mulai membaik kok, jadi kamu jangan khawatir."


"Kejutan? Kejutan buat siapa nih? Yakin jika buat aku? Tidak sama dia nih,"


"Kamu suka benar kalau ngomong," Dahlia segera menutup mulutnya saat keceplosan berbicara.


"Cie, cie, jadi ceritanya nyamperin kekasihnya nih," ucap Lily sukses menggoda gadis itu.


"Apaan, kekasih darimana? Jangan bicara sembarangan!" Protes Dahlia.


"Oh jadi belum jadi kekasih, berarti masih pdkt dong, pokoknya jangan lupa ya Kak makan-makannya, jika nanti kalian benar-benar sudah jadian. Aku tunggu deh pokoknya.


"Hmm sudah jangan bicarakan hal seperti itu lagi," kata Dahlia yang memang tidak ingin membahas hal yang menurutnya membuatnya pusing.

__ADS_1


__ADS_2