Please Love Me

Please Love Me
Bab 165


__ADS_3

Jason baru saja selesai rapat, tubuhnya terasa begitu lelah, karena sudah empat hari ini dia bekerja tanpa henti, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa bertemu dengan istri dan mengelus anaknya yang masih di dalam kandungan.


Begitu mengingat anak, Jason langsung tersenyum, rasa lelah yang tadi sempat dirasakan menguap begitu saja, saat mengingat jika kerja kerasnya empat hari ini demi orang-orang yang dicintainya.


Dan senyum Jason itu tidak luput dari perhatian Liora. Liora menatap Jason dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Liora merasa kasihan yang melihat Jason tiap pagi selalu mual dan muntah, dan itu hanya terjadi pagi hari saja, setelah jam sembilan, pria itu sudah kembali baik-baik saja dan akan memakan banyak makanan, saat ditanya, Jason hanya menjawab jika itu  semua untuk mengganti makanan yang tadi pagi sudah dikeluarkan, dan Liora hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban pria yang pernah dia cintai itu.


Liora kemudian menyodorkan sebotol air mineral kepada Jason begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil, "Minum dulu Kak," kata gadis itu.


"Terima kasih," kata Jason yang kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri yang sampai saat ini masih betah tinggal di rumah ibunya.


Selama empat hari ini, Jason selalu menghubungi Lily di tengah-tengah kesibukannya, jika tidak bisa menelpon, Jason pun mengirim pesan singkat kepada wanita yang dia cintai itu, menanyakan apa yang wanita itu inginkan dan Jason akan segera memenuhinya lewat pelayan yang bekerja di rumah mertuanya, atau kalau tidak, Jason tidak segan-segan untuk menyuruh Kakak Iparnya.


"Sudah tidur? Sudah minum su*su belum? Ingin makan sesuatu tidak?" Jason mengetik itu dan langsung mengirimnya pada sang istri.


Tak lama pesan dibalas, "Belum, aku tidak bisa tidur, hmm tadi sudah,  sepertinya aku tidak ingin apa-apa, kamu sudah selesai kerjanya?"


Jason kemudian menatap Liora yang duduk di sampingnya. "Setelah ini ada jadwal rapat lagi tidak?" Tanyanya pada gadis itu.


Jason berharap sudah tidak ada jadwal lagi, hingga dia bisa segera pulang dan menemui istrinya.


Liora menyalakan dan membuka layar ipad, menggeser-geser layar untuk melihat jadwal Jason selanjutnya.


"Satu jam lagi kita akan ada rapat lagi Kak," jelas Liora.


Jason hanya menghela nafasnya dan membuka botol untuk meminum air yang tadi diberikan oleh Liora.


"Kenapa Kak?" Tanya Liora yang melihat  wajah murung Jason, dulu Jason memang terbiasa dengan wajah seperti itu, tapi belakangan ini, pria itu sudah tampak manusiawi bisa mengekspresikan wajahnya sesuai dengan suasana hatinya, dan Liora yang melihat wajah Jason yang seperti itu, agaknya membuat gadis itu yakin jika ada yang mengganggu pria itu.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku sangat merindukan istriku, rasanya aku cepat-cepat pulang dan menemuinya," ucap Jason  menceritakan pada Liora apa yang dirasakannya.

__ADS_1


Liora hanya tersenyum kecut mendengarnya, sepertinya Liora harus benar-benar mundur, karena terlihat sekali jika Jason sangat mencintai Lily.


"Belum selesai sayang, ya sudah lebih baik kamu tidur, disana sudah lewat tengah malam kan," balas Jason tapi tidak juga mendapat pesanan balasan dari Lily, mungkin saja istrinya itu sudah ketiduran.


"Katanya tidak bisa tidur," gumam Jason dengan senyumannya.


*


*


Ini hari kelima, Lily jauh dari suaminya, semua yang dia inginkan dituruti oleh Ibu dan Kakak-kakaknya, terkadang juga oleh pelayan yang bekerja di kediaman ayahnya. Dan hari ini juga, Lily akan pulang ke rumah orang tua kandungnya. Alan bilang sudah sangat merindukan putrinya itu.


"Padahal Ibu ingin kamu terus tinggal disini sebelum Ibu dan kakakmu pergi," kata Vega yang belum rela, Lily kembali ke rumah ayahnya.


"Ibu, tidak boleh bicara seperti itu," ujar Dahlia menegur ibunya, dia khawatir hal itu akan membuat adiknya bimbang, memilih antara mau menetap lagi atau kembali.


"Kan Lily bisa sering-sering datang kesini," jawab Lily yang kini langsung memeluk ibunya.


"Tidak kamu jangan sering-sering kesini," ucap Vega tegas membuat Dahlia langsung menatap ibunya.


"Bukan...bukan seperti maksud ibu sayang, maksud Ibu sekarang kamu sedang hamil, dan ibu tidak mau terjadi sesuatu dengan cucu ibu nantinya, jika kamu kelelahan karena harus bolak-balik kesana kemari," ucap Vega menjelaskan maksud perkataannya tadi.


"Terus bagaimana kalau aku kangen sama Ibu?"


"Nanti biar Kakak dan ibu yang akan datang ke rumah ayahmu, jadi kamu jangan sedih," kata Dahlia yang menghapus air mata adiknya yang entah sudah sejak kapan menetes.


"Janji, jika Kakak dan Ibu akan sering-sering main?" Tanya Lily memastikan jika apa yang kakaknya katakan bukan kebohongan semata.


"Iya janji," jawabnya dan Vega mengangguk.


Ketiganya menoleh saat mendengar suara deru mobil, seorang pria paruh baya turun dan menghampiri ketiga perempuan itu.

__ADS_1


"Ayah,"


"Dokter Alan," kata Vega dan Dahlia bersamaan begitu melihat Alan.


"Bu Vega, Dahlia," balas Alan menyapa.


"Aku tidak disebut," protes Lily yang sudah menekuk wajahnya.


"Putri Ayah," kata Alan dan Lily pun langsung berhambur ke pelukan sang Ayah.


"Ayah, Ale kangen," katanya manja.


Vega dan Dahlia tersenyum, baru kali ini mereka melihat Lily bersikap begitu manja.


"Ya sudah ayo kita pulang," ucap Alan mengurai pelukannya.


"Bu Vega, Nak Lia, makasih sudah menjaga Lily selama tidak bersamaku, bagaimana jika kita kapan-kapan makan malam bersama," kata Alan menatap kedua perempuan yang masih tersenyum melihat interaksinya dengan sang putri.


"Tidak perlu berterima kasih dokter Alan, bagaimanapun Lily mm maksudku Ale tetaplah keluarga kami," kata Vega tulus.


"Baiklah kami permisi dulu, ayo sayang!" Kata Alan berpamitan kepada Vega dan Dahlia setelah menggamit tangan putrinya meninggalkan rumah sederhana tempat dimana putrinya di besarkan.


"Lily pulang dulu ya Bu, Kak, kalian harus menepati janji, harus sering main ke rumah Ayah," ucap Lily kepada ibu dan kakaknya, sebelum dirinya dan Alan pergi dan masuk ke mobilnya.


"Ayah tidak sibuk kan?" Tanya Lily begitu ayahnya sudah menjalankan mobilnya.


"Hmm tidak, kenapa sayang?" Alan menoleh ke arah putrinya.


"Kak Al kan sedang sibuk, dan hanya kita berdua bagaimana kalau kita pergi berkemah, kan Ayah jarang-jarang di rumah," ucap Lily.


"Baiklah, kita pergi berkemah, apapun akan ayah lakukan seperti apa yang putri ayah mau," kata Alan yang kini melajukan mobilnya ke tempat yang diinginkan putrinya dengan lokasi cukup jauh dari kediamannya. 

__ADS_1


"Segarnya," kata Lily begitu turun dari mobil merentangkan kedua tangannya menikmati udara sejuk sesampainya di sana.


Alan pun tersenyum bahagia melihat putrinya yang terlihat senang. Tapi senyuman Alan pudar begitu melihat seseorang juga berada di tempat itu.


__ADS_2