
Liora langsung masuk begitu selesai menekan beberapa angka password untuk membuka pintu apartemen milik suaminya. Gadis itu duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya merasa sedikit pusing karena jalanan yang begitu macet tadi.
"Ini minum dulu."
Suara Ronald membuat Liora membuka mata, pria itu memberikan minuman untuknya, dan kemudian duduk di sampingnya.
"Pusing banget?"
Liora mengangguk, itu mungkin juga karena dirinya yang kemarin-kemarin kelelahan mengurus segala persiapan pernikahannya.
Gadis itu kini menyandarkan kepalanya di bahu Ronald, dan suaminya spontan melingkarkan tangan di tubuhnya mengelus lembut rambut panjang Liora.
"Apa sebaiknya kita istirahat disini saja, lagian ayah tidak mungkin kesini karena beliau menginap di rumah Paman Davian, dan juga mami sapa papi pasti mengerti, aku akan memberitahu mereka nanti," kata Ronald.
Liora mendongak menatap Ronald, tapi sama sekali tidak melepaskan pelukan mereka.
"Jangan beritahu mami kalau aku seperti ini, nanti mami khawatir, bilang saja…"
"Ya aku tahu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," Ronald mengecup puncak kepala Liora.
"Ini minum dulu!"
Liora segera menerima gelas yang Ronald berikan dan meneguknya.
"Sebaiknya kamu istirahat di kamar," tambah pria itu, yang kini mengangkat tubuh istrinya membawa ke dalam kamar miliknya.
Ronald membaringkan tubuh Liora perlahan dan sangat hati-hati. Dia kemudian menyelimuti Liora dan berbalik hendak meninggalkan sang istri yang kini tampak memejamkan matanya.
Tapi baru satu langkah, Ronald merasakan tangannya ditahan, pria itu menoleh dan melihat bahwa Liora kini sedang memegangi tangannya.
"Kenapa?" Tanya Ronald dengan suara yang terdengar begitu lembut.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau beresin barang-barangku, kamu istirahat saja.
"Jangan kemana-mana, disini saja," pinta Liora lirih.
Ronald tersenyum dan mengangguk, "Baiklah," ucapnya yang kemudari memutari ranjang dan berbaring di samping Liora.
Tangan Ronald menyusup ke belakang kepala Liora menjadikan bantalan istrinya kemudian menarik tubuh gadis itu agar lebih mendekat, dan Ronald langsung memeluknya erat.
*
__ADS_1
*
"Sedang masak apa?" Tanya Jason yang kini tiba-tiba ada di belakang Lily memeluk perut istrinya dengan dagu yang ada di pundak Lily.
"Makanan kesukaanmu, kamu baru pulang?" Tanya Lily tanpa berbalik badan membiarkan suaminya memeluknya seperti itu.
"Hmm baru saja."
"Ayah mana? Kamu tidak bareng sama ayah?"
"Sepulang mengantar Al, tadi Ayah minta diantar ke rumah sakit."
Lily mengangguk mengerti, wanita itu mematikan kompor, berbalik dan wajahnya tepat berada di depan wajah Jason yang memang sedikit membungkuk. Bahkan Lily bisa merasakan hembusan nafas Jason menerpa di kulitnya.
Lily yang terkejut spontan memundurkan wajahnya. Tapi Jason justru menarik tengkuk Lily dan tak lama Lily merasakan benda kenyal mendarat di bibirnya.
"Ini lebih enak," ucap Jason begitu ciuman mereka terlepas.
"Sayang!" Lily menepuk dada Jason pelan dengan wajah yang kini tampak merona.
"Hahaha, wajahmu memerah sayang," kata Jason menyentuh pipi istrinya dengan penuh kelembutan dan hal itu justru semakin membuat wajah Lily semakin merah.
Lily menunduk tersipu, padahal dia sebentar lagi sudah akan memiliki dua anak, tapi dirinya masih saja merona saat suaminya selalu menggoda seperti itu, dan Jason juga sangat menyukainya.
"Kamu mau makan sekarang kan?" Tanya Lily berusaha mendorong tubuh suaminya berjalan untuk mengambil piring untuk menempatkan masakannya.
"Hmm, tapi makan kamu saja sepertinya, boleh kan?"
Lily melotot sambil memegang dadanya, selain terkejut dengan ucapan suaminya dia juga begitu kaget saat mendapati Jason tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Sayang, kamu mengejutkanku saja." Omel Lily yang kini sudah berbalik dan menatap Jason kesal.
"Apa yang membuatmu terkejut? Aku atau ucapanku tadi?"
"Dua-duanya," ucap Lily meninggalkan Jason dan Jason hanya terkekeh sambil terus memandangi gerak-gerik sang istri.
Dan saat Lily akan membawa makanan ke meja makan, barulah Jason mendekat dan mengambil alih dua piring yang ada di tangan Lily.
"Biar aku saja!" Kata Jason dan Lily pun hanya membiarkannya dan berjalan mengikuti langkah Jason.
Jason meletakkan piring kemudian duduk di samping Lily yang kini sudah duduk lebih dulu.
"Cinta sama ibu belum pulang?" Tanya Jason yang tidak mendengar celotehan putrinya.
__ADS_1
Ya setiap pagi, Dea selalu mengajak Cinta keluar ke taman, wanita itu bilang ingin cucunya menghirup udara yang masih segar sebelum banyak kendaraan yang berlalu lalang. Selain itu, agar Cinta tidak melihat keberangkatan Al yang mungkin saja bisa membuat Cinta menangis dan ingin ikut dengan pamannya itu, melihat dari Cinta yang selalu lengket sama Al dan selalu ikut kemanapun Al pergi.
"Be…"
Belum juga selesai menjawab pertanyaan suaminya, Lily dan Jason dikejutkan dengan suara putri mereka yang tengah memanggil.
"Yayah, Ibu!"
"Yayah, Ibu!"
Tak lama muncullah seorang gadis kecil yang kini berjalan mendekat.
Jason yang melihat itu tersenyum, mendorong kursi yang dia duduki kemudian berjongkok, menyambut putrinya yang kini berjalan cepat ke arahnya dengan tawa.
"Pelan-pelan sayang!" Peringat Lily melihat putri kecilnya itu mulai berlari.
Tapi tampaknya antusias Cinta yang ingin segera menggapai ayahnya membuat peringatan sang ibu tidak dilakukan. Gadis kecil tetap berlari hingga hap…
Jason menangkap tubuh putrinya dan langsung mengangkatnya.
"Mmm putri ayah bau acem," kata Jason dengan pura-pura menutup hidung dengan satu tangannya.
"Ha ah ah, yayah! Nta bau wangi au!" Rupanya Cinta tidak terima saat ayahnya bilang dirinya bau asem.
"Cinta makan dulu sini nak, Ibu sudah buatkan makanan untuk Cinta," kata Lily yang entah sejak kapan wanita itu tiba-tiba sudah membawa mangkuk berisi makanan putrinya.
"Hmm, Nta uga uda lapal," jawabnya sambil mengelus perut.
Jason kemudian duduk dan membiarkan putrinya itu duduk di pangkuannya.
"Aku saja, kamu lanjutkan makan!"
Lily pun memberikan sendok yang tadi di pegangnya membiarkan Jason yang menyuapi Cinta. Melihat piring milik suaminya yang masih utuh, Lily pun berinisiatif sekalian dirinya makan, wanita itu juga bergantian menyuapi Jason.
"Aaa!"
Dengan senang hati, Jason tentu langsung membuka mulut dan menerima suapan Lily. Keluarga kecil itu pun kini tengah menikmati makan pagi mereka diselingi tawa, sambil mendengar dan melihat tingkah putrinya.
"Minum dulu sayang!" Begitu selesai makan Lily memberikan segelas air membantu Cinta meminumnya.
"Habis ini Cinta mandi ya? Mau sama ayah apa sama ibu?"
Cinta menatap ayah dan ibunya bergantian kemudian memeluk Jason.
__ADS_1
"Sama yayah aja," jawabnya dan Lily pun mengangguk.
"Ya sudah aku bawa Cinta ke kamarnya dulu ya sayang, atau kamu juga mau ikut?" Jason sudah bangun dari duduk dengan Cinta yang masih di gendongannya sambil memeluk leher ayahnya erat.