
Jason mengerjapkan matanya terus menatap ke sekeliling, istrinya tidak ada disana. Buru-buru Jason turun dari ranjang, dan segera keluar kamar mencari Lily. Ke ruang keluarga, dapur bahkan taman tidak ada dimanapun. Bahkan tak hanya Lily, mertuanya, anak-anak dan juga kakak iparnya juga tidak ada. Rumah tampak begitu sepi. Jason memutuskan keluar hendak bertanya pada satpam yang pasti tahu.
Baru saja Jason melangkah dua mobil kini memasuki gerbang, dan Jason mengenali mobil itu, mobil yang biasa ayah mertuanya pakai juga milik Al.
Mobil pun berhenti, Lily turun dari kursi belakang mobil ayahnya, sementara di mobil Al, Cinta dan Aulia juga ikut turun bersama Al.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Lily pada Jason dengan muka bantal.
"Tidak kemana-mana," Jason kemudian meninggalkan Lily dan menghampiri kedua putrinya. Mengangkat keduanya di sisi kiri dan kanan. Mendengar celotehan mereka yang tampak bersemangat menceritakan jika mereka habis jalan-jalan.
"Kenapa?" Tanya Alan yang baru turun.
Lily mengangkat kedua bahunya, kemudian kembali ke mobil, untuk mengambil hasil belanjanya.
Alan dan Dea saling pandang kemudian melangkah masuk lebih dulu, saat melihat jika Al sudah membantu Lily.
"Kamu temui dulu sana suami kamu, sepertinya dia marah," ujar Al saat mereka sudah sampai dapur dan meletakkan belanjaannya.
"Biar kakak yang beresin."
Lily menghela nafas, lalu melangkah pergi mencari suaminya yang ternyata sedang berada di kamar putri mereka.
"Ibu sini!"
Lily pun mendekat saat Cinta memanggilnya. Lily duduk di antara kedua putrinya yang memang sedang duduk melingkar di atas karpet bulu tentunya bersama dengan ayah mereka. Mereka tengah membongkar paper bag yang Lily yakin jika kakaknya yang telah membelikannya.
Pandangan Lily tertuju pada Jason yang hanya diam saja, sibuk berbicara dengan Uli.
"Bagus kan bu?"
"Hmm, iya bagus. Paman Al yang membelikannya?"
"Bukan aunty Ve."
__ADS_1
"Aunty Ve?"
"Hmm. Tu punya adek juga sama, tapi adek milihnya warna pink, kalau kak Cinta warna biru."
"Ayah mau ambil minum dulu ya?" Jason tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.
Lily ikut bangun setelah berbisik pada kedua putrinya, dan segera saja melangkahkan kaki menyusul sang suami yang entah kenapa sejak pulang dari rumah Stevano terasa aneh.
Lily terus mengikuti Jason, tapi bukan mengambil minum seperti yang dikatakannya tadi, pria itu justru melangkah masuk ke dalam kamar. Lily membuka pintu perlahan, dan begitu masuk, tiba-tiba bunyi pintu yang terkunci terdengar, hingga spontan Lily pun segera memutar kepalanya, di sana Jason tengah melipat kedua tangan di depan dada, bersandar pada pintu, tidak lupakan wajah yang kini memberengut.
Lily berbalik dan mendekat, wajahnya mendongak karena memang Jason lebih tinggi darinya, kedua tangannya terulur dan menangkup wajah suaminya, bahkan Lily sengaja menekan-nekan pipi suaminya yang spontan membuat bibir Jason mengerucut lucu.
"Kenapa sayang?" Tanyanya layaknya seorang ibu yang sedang bertanya pada anaknya.
Jason menggeleng, dan Lily semakin menekan pipi Jason hingga bibirnya seperti mulut ikan. Lily tahu suaminya seperti itu ada alasannya.
"Kenapa? Jawab atau aku pakein karet nih bibir biar semakin mancung seperti hidung kamu."
Lily kemudian melepaskan tangannya dan mengecup bibir suaminya singkat.
Kemudian menarik tangan pria itu, memintanya untuk duduk di atas ranjang mereka.
"Sekarang katakan apa yang membuat kamu marah!" Lily menatap mata suaminya sambil menunggu jawabannya.
Jason menghela nafas panjang, "Aku tidak marah," jawabnya kemudian.
"Lalu?"
"Aku kesal karena kamu meninggalkan aku, kamu juga tidak bilang padaku, kamu tidak mengajakku, kamu biarkan aku di rumah sendiri."
"Karena itu?"
Lily kemudian bangun lalu mengambil secarik kertas yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Ini!" Lalu Lily menyerahkan kertas itu pada suaminya.
Jason menatap Lily setelah membacanya.
"Aku sudah bilang, dan lagian aku pergi ke supermarket dekat sini, kita juga biasa kesana, dan nanti juga kita akan kesana lagi, dan sayang kamu di rumah tidak sendiri, ada bibi dan juga ada satpam, juga sopir karena tadi pergi tidak sama sopir."
Jason pun justru masuk ke dalam pelukan istrinya. Lily melingkarkan kedua tangan pada tubuh suaminya, menepuk punggung Jason lembut.
"Maaf, kamu pasti terkejut saat bangun tidak ada orang di rumah."
Jason hanya mengangguk. Lily melepas pelukan lalu segera beranjak mengulurkan tangannya, mengajak Jason untuk kembali ke kamar putri mereka.
*
*
Pagi-pagi sekali, Jason sudah bersiap, kopernya bahkan sudah dinaikkan ke mobil, pria itu kini sedang memeluk Lily erat, bilang jika sebenarnya tidak mau pergi, pagi itu benar-benar penuh drama, ada-ada saja yang Jason lakukan, bilang jika agar dirinya tidak jadi pergi. Tapi dering ponsel mengingatkan pria itu agar dia segera datang ke bandara karena sekretarisnya sudah menunggu disana, dan jangan lupakan jika satu jam lagi jam terbangnya.
"Sayang!"
"Ya uda aku berangkat sekarang."
"Iya, kamu hati-hati ya, maaf tidak bisa mengantar kamu sampai bandara, hari ini di sekolah Cinta orang tua harus hadir, ayah dan ibu juga tadi sudah pergi ke rumah sakit, katanya rapat penting. Dan Kak Al dia bilang akan mengurus studinya disini.
"Hmm tidak apa-apa, kamu jaga diri baik-baik, jaga juga kedua putri dengan baik, aku janji akan pulang secepatnya, agar kita bisa berkumpul lagi."
"Iya sayang, lagian kamu juga pergi tiga hari, aku akan baik-baik saja dan selalu menunggu kamu sampai kembali, kamu juga jaga diri baik-baik, jangan dekat-dekat sama sekretarismu."
Jason tersenyum dan mengangguk, wajah pria itu mendekat lalu mengecup kening, kedua pipi Lily terakhir pada bibir wanitanya. Setelah itu Jason melangkah dan masuk ke dalam mobil karena sopir sudah sedari tadi menunggu. Jason menurunkan kaca mobil membalas lambaian tangan istrinya.
Begitu mobil yang membawa Jason sudah menghilang dari pandangan, Lily pun segera masuk, dia akan bersiap ke sekolah Cinta, sebelumnya dia akan menitipkan Aulia di rumah Jasmine, tadi pagi dia sudah menghubungi sahabatnya itu, dan Jasmine dengan senang hati mengiyakan karena rumahnya akan semakin ramai. Lily juga tidak khawatir karena, setiap di rumah Jasmine, putrinya yang biasa membuat rumah bak kapal pecah, tapi saat di rumah Jasmine, Aulia begitu anteng, hingga dia mengira, putrinya itu kemasukan penghuni disana.
Lily buru-buru menepis pikiran ngawurnya, dia mempercepat langkah saat melihat jam di dinding. Terlebih dulu dia masuk ke kamar anak-anaknya, keduanya masih asyik bermain, padahal Cinta bahkan sudah mengenakan seragamnya. Lily menegur putrinya dengan lembut yang langsung diiyakan gadis kecil itu. Keduanya membereskan bekas main mereka, sementara Lily berpamitan ke kamar untuk mengganti pakaiannya dulu sebelum berangkat.
__ADS_1