
Liora dengan berat hati menjawab panggilan itu, sebenarnya dia begitu malas, mengira jika pasti ada yang sesuatu yang akan dibicarakan, yang mungkin saja membuat mood Liora menjadi buruk.
"Halo kenapa Kak?" Tanya Liora kepada orang yang menghubunginya yang ternyata adalah kakaknya Max.
"Ada yang ingin kakak bicarakan, nanti sepulang mengantar papi dan mami, kakak akan mampir ke rumah," Ucap Max.
"Kak Max juga tahu, jika mami dan papi akan pergi?" Tanya Liora karena merasa jika dirinya yang tidak tahu apapun.
Mereka pun melanjutkan berbicara, dan Max tiba-tiba mengakhiri pembicaraan saat Liora mendengar suara kakak iparnya. Liora hanya mengedikan bahu, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar keponakannya.
"Kak," panggil Liora dan Jasmine menoleh lalu tersenyum.
"Sudah tertidur?" Tanya Liora melihat ketiga keponakannya yang sudah terlelap.
"Iya, sepertinya mereka kelelahan bermain," jawab Jasmine kemudian menatap adik iparnya itu.
"Kemarilah!" Jasmine menepuk sisi ranjang kosong sampingnya.
Liora hanya menurut, dia duduk di samping Jasmine sambil menatap kakak iparnya itu, dia tidak menyangka, awal pertemuan mereka yang penuh perdebatan, tapi dia sekarang justru lebih dekat dengannya. Kadang takdir itu memang lucu, yang jauh bisa jadi dekat, yang benci bisa jadi cinta begitupun sebaliknya.
"Bagaimana kamu mau kan tinggal disini selama papi dan ibu pergi?"
"Sepertinya tidak kak, aku tadi juga sudah bilang Kak Vano."
Jasmine mengangguk mengerti, dia meraih kemudian menggenggam tangan adik iparnya itu, tapi pandangannya lurus ke depan, "Kakak tahu perasaanmu, bagaimanapun kakak dulu juga pernah merasakannya, kakak dulu juga begitu keras menolak perjodohan dengan kakakmu, tapi siapa sangka, hal itu tetap terjadi yang berbeda hanya mempelai prianya, kakak tidak bisa membayangkan bagaimana pernikahan kami kedepannya, kami sangat berbeda, tidak saling mengenal, tapi siapa sangka jika hal itu mengikat takdir kami, kami sudah saling mengenal sebelumnya dan waktu yang menjawab itu semua, kakak bahagia, dan kakak tidak menyesal sedikitpun."
__ADS_1
Liora menatap Jasmine, "Aku kadang merasa kamu lebih dewasa dariku Kak, padahal usia kita jauh berbeda, ternyata benar apa kata orang, usia tidak bisa mengukur kedewasaan seseorang," gadis itu tersenyum merasa malu pada Jasmine di usianya jauh lebih muda 5 tahun darinya justru pemikirannya jauh lebih dewasa darinya.
"Entahlah, mungkin kehidupan yang membuat kita bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Jadi aku harus bagaimana kak?"
"Apa kamu menyayangi papi?"
"Tentu saja kak, aku sangat menyayangi mereka walaupun aku belum lama hidup di keluarga ini."
"Apa kamu percaya jika apa yang papi lakukan adalah demi kebaikanmu? Apa kamu tidak ingat waktu dulu, papi ingin menikahkan kamu dan Jason? Itu karena papi tahu apa yang kamu rasakan, dan mungkin papi melakukan ini juga karena dia tahu perasaanmu."
"Tapi kak aku merasa…"
"Kakak tahu, waktu papi berniat ingin menyatukan kamu dan Jason semua tidak seperti yang kamu harapkan, karena saat itu hati Jason sudah memilih orang lain, tapi Liora karena itu, kamu bisa tahu bahwa tanpa kamu mengatakan perasaanmu pada papi, nyatanya papi tahu, dia ingin kamu bahagia, bersatu dengan orang yang kamu cintai, hanya saja, takdir berkata lain, karena apa? Karena Jason memang bukan takdirmu. Jika orang itu bukan jodoh kita, berusaha seperti apapun kita tidak akan pernah mendapatkannya, tapi jika orang itu jodoh kita, seberapa keras kita menjauh dan menghindar, tentunya kita akan kembali di dekatkannya, sampai sekarang, kamu tahu kan apa yang harus kamu putuskan? Kamu tanyakan pada hatimu sendiri, karena hatimu lebih tahu apa yang bisa membuatmu bahagia, walaupun mungkin prosesnya menyakitkan terlebih dahulu."
"Tidak masalah, ya sudah, kakak bersiap dulu, untuk pulang ke rumah, nanti sepertinya Kak Vano akan mengantarkan papi dan ibu ke bandara..
"Kakak tidak ikut?"
"Kakakmu tidak ikut, kakak tidak ingin dia kelelahan, kasihan juga anak kita nanti keluar malam-malam," ucap Stevano yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
"Jiwa posesifnya keluar tuh Kak."
Jasmine hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparnya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo sayang, kita bersiap dulu, biar Liora yang menjaga anak-anak," kata Stevano mengajak istrinya untuk kembali ke kamar mereka.
*
*
Lily terkejut saat tiba-tiba sepasang melingkar di perutnya ketika dia sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Tanpa menoleh, Lily tahu siapa orang yang memeluknya saat ini, siapa lagi jika bukan suaminya.
"Kenapa melamun disini? Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Jason.
Tangan Lily berada di atas tangan suaminya, menikmati kehangatan dalam dekapan pria yang sudah dua tahun menemaninya.
"Aku merindukan Ibu," ucap Lily sendu, seberapa keras dia berusaha ikhlas, nyatanya jauh di dalam hatinya, dia masih tidak rela.
"Besok kita akan mengunjunginya," jawab Jason membalik tubuh Lily dan memeluknya.
"Aku tahu perasaanmu sayang, ingat kata Ibu, kamu tidak boleh bersedih, ibu pasti akan sedih jika kamu terus seperti ini."
Lily tiba-tiba menangis. "Kenapa secepat ini? Aku bahkan belum bisa membahagiakannya, tapi kenapa ibu buru-buru pergi meninggalkanku? Kenapa?"
"Sayang, kita harus ikhlas, ibu sudah tenang disana. Dan lagi, kamu sudah janji kan, tidak akan menangis lagi karena ibu, hari itu, saat kepergian ibu, kamu sudah berjanji, itu untuk yang terakhir kalinya," Jason mengusap punggung Lily menenangkannya.
Setiap malam, istrinya selalu menangis seperti ini, tepatnya jika semua orang sudah tertidur, Lily berusaha tegar, tapi nyatanya dia rapuh, dia tidak bisa setegar itu, apalagi di hadapan suaminya. Dan Jason tahu itu, tapi Jason membiarkannya, dia ingin Lily meluapkan apa yang dirasakannya, tapi hal itu terus berlanjut, setelah tiga bulan berlalu, Jason juga sedih, bagaimana tidak, dia juga menemani wanita yang membesarkan istrinya di saat-saat terakhirnya, mereka sudah melakukan apapun, tapi kembali lagi, semua itu diluar kuasa mereka. Takdir berkata lain, setelah Vega melihat cucunya, dia pergi, bukan sebentar tapi untuk selama-lamanya, meninggalkan kedua putrinya yang rapuh.
Lily menghapus air matanya, mencoba tersenyum, walaupun terlihat jelas senyumannya begitu dipaksakan.
__ADS_1
"Ibu maaf, karena Lily masih saja terus menangis, Lily tidak bermaksud membuat Ibu sedih, Lily hanya…" pertahanan Lily kembali runtuh, dia kembali menangis, bahkan kini tangisannya begitu pilu.
Jason tidak tega melihat istrinya menangis seperti itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia cintai, apalagi saat itu usia Jason masih kecil, kata-kata menghibur bahkan tidak ampuh dan bisa membuatnya sedikit saja tersenyum, karena rasanya memang menyesakkan, Jason tidak pernah melupakan apa yang dia rasakan saat itu, dan sekarang seperti itulah yang saat ini sedang istrinya rasakan.