Please Love Me

Please Love Me
Bab 314


__ADS_3

Jason meregangkan tubuhnya setelah berkutat dengan laptop di pangkuannya. Dirinya tidak bisa tidur, dan penyebabnya karena tidak ada sang istri di sampingnya.


Jason menutup laptop dan meletakkannya di atas kasur, kemudian turun dan berlalu keluar. Jason menaiki anak tangga, kembali ke kamarnya, berharap kedua anak serta istrinya sudah tertidur. Dengan perlahan Jason membuka pintu kamarnya, dirinya tersenyum lalu berjalan mendekat, dipandanginya ketiga perempuan yang sangat sangat berharga di hidupnya.


Dengan pelan Jason mencoba mengangkat Cinta, lalu dia membawa putrinya itu keluar memindahkannya ke kamar Cinta sendiri. Setelahnya Jason juga memindahkan Aulia. 


"Maafkan ayah sayang, tapi ayah tidak bisa tidur jika tidak bersama ibu." Ucap Jason mengecup kening kedua putrinya bergantian, mengganti lampu utama dengan lampu tidur, lalu dia berjalan ke arah pintu dan tidak lupa menutupnya, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri.


Jason dengan hati-hati naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Mengangkat sedikit kepala istrinya mengulurkan tangan menjadikan lengannya sebagai bantalan sang istri.


Lily yang tadi tidurnya terlentang, kini langsung merubah posisinya miring dan memeluk tubuh Jason, seperti guling.


"Kamu juga pasti tidak bisa tidur kan tanpa aku," ucap Jason tersenyum.


Lily hanya bergumam, memeluk Jason semakin erat dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Jason pun tak kalah erat memeluk sang istri, dan tanpa henti mengecup puncak kepala Lily. Menghirup aroma rambut istrinya yang begitu menenangkan.


"Jangan mendiamkan aku seperti ini terus sayang, jujur aku tidak terbiasa didiamkan seperti ini olehmu, itu sangat menyiksaku," ucap Jason lirih.


Tak lama pria itu akhirnya bisa memejamkan mata, setelah jam menunjuk pada pukul dua dini hari.


*


*


Lily membuka matanya, kala merasa sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Dan gelap, itu yang pertama kali dilihatnya. Lily yakin dirinya saat ini berada di pelukan seseorang, dan Lily sangat mengenali aroma tubuh pria yang saat ini memeluknya.


Lily berusaha melepaskan pelukan pria itu, yang berakhir mengejutkan Jason yang belum lama ini memejamkan mata,  memaksa pria itu untuk segera mengakhiri mimpi indahnya yang baru saja dimulai.


"Lepaskan!" Ucap Lily dan tak sengaja membuat Jason sampai jatuh dari ranjang, karena Lily yang mendorong suaminya terlalu kuat.


"Akh!" Ringis Jason memegang pinggangnya yang sakit karena terbentur lantai.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Panik Lily, wanita itu menyalakan lampu dan buru-buru turun menghampiri suaminya.


"Sakit," ucap Jason lirih, dorongan Lily benar-benar tidak main-main.


"Maaf, habisnya kamu memelukku seperti itu, saat aku meminta lepas harusnya kamu langsung melepaskan, begini kan jadinya," Lily membantu Jason untuk duduk, merasa bersalah.


"Biar aku cek dulu," kata Lily tapi Jason menahannya dan justru menarik Lily hingga terjatuh di atas pangkuannya, memeluk erat wanitanya. Lily jangan tanyakan, dia terpekik kaget dengan aksi tiba-tiba suaminya itu.

__ADS_1


"Katanya sakit," ucap Lily dengan suara teramat pelan, tapi masih di dengar jelas oleh Jason.


Jason menguraikan pelukan, mengangkat dagu Lily yang menunduk agar bisa menatap mata wanitanya itu.


"Lukaku karena jatuh tidak seberapa, karena saat ini hatiku yang jauh lebih sakit karena kamu yang terus mengabaikanku, aku tidak bisa sayang, aku tidak tahan jika kamu terus mendiamkanku. Aku tahu kamu pasti marah, tapi sayang, karena jika aku jadi kamu, aku pasti juga akan marah sepertimu, tapi, ini hanya salah paham, aku bisa jelaskan semuanya," kata Jason sendu.


"Sayang, kamu mau mendengar penjelasanku kan?"


Lily justru memalingkan wajahnya, dan itu membuat Jason sedih.


"Sayang!"


"Ya sudah, jelaskan!" Kata Lily tanpa mau menatap Jason. 


Jason pun menjelaskan dari awal sampai akhir, tidak ada yang terlewat sedikitpun. 


"Seperti itu sayang, kejadiannya, kamu percaya kan? Dan itu buktinya," Jason menunjuk ke arah meja.


"Loh, kok tidak ada, kemarin aku meletakkan bunganya disana sayang, beneran aku tidak bohong." 


Jason menatap istrinya yang akhirnya mau menatapnya.


"Sungguh sayang, aku tidak bohong, aku…"


"Sayang, itu berarti kamu…"


"Hmm, lain kali pastikan dulu itu aku atau bukan, jangan main peluk-peluk sembarangan."


"Iya, maaf soal tadi siang, juga ucapanku yang…" Jaso tidak bisa melanjutkan ucapannya, merasa jika tadi siang dirinya sudah keterlaluan.


"Intinya aku benar-benar minta maaf, maaf karena egois memikirkan diri sendiri, maaf juga karena tidak mengerti posisi kamu. Maaf karena membuat kamu marah, maaf karena membiarkanmu dan anak-anak harus pergi dan pulang sendiri.


"Aku maafkan karena kamu sudah mau jujur sama aku, dan aku juga perlu jelaskan jika aku menolak ajakan kamu karena aku…"


"Tunggu, maksud kamu…"


"Kak Dahlia menelponku dan menjelaskan semuanya, dan juga Jasmine tadi bercerita apa saja yang kalian bicarakan saat kamu berada disana."


"Lalu kenapa kamu tadi masih marah dan tetap ingin mendengarkan penjelasanku?"


"Ya ingin tahu saja, barangkali ucapan kalian berbeda." Ucap Lily yang tiba-tiba mencubit tangan Jason membuat suaminya itu meringis karena  cubitan Lily yang terasa panas.


"Kenapa sayang? Bukannya tadi bilang sudah memaafkanku, lalu kenapa malah aku  dicubit, sakit tau," kata Jason dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Jason kembali meringis, saat merasakan kembali cubitan di kedua pipinya.


Lily terkekeh, melihat wajah cemberut Jason yang kini tengah mengusap-usap pipi.


"Malah tertawa lagi."


"Hehe, habisnya kamu menggemaskan jika cemberut seperti itu, jadi pengen cium."


Cup


Jason segera saja mengecup bibir Lily.


Cup


Cup


Jason mengecup bibir Lily singkat tidak hanya sekali.


Gantian Lily yang kini mencebikan bibir kesal.


Jason terkekeh, sambil mengusap bibir sang istri. Dia lalu menarik tengkuk Lily kembali menyambar bibir yang kini sudah menjadi candu.


"Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Jason seusai ciuman mereka yang terjadi tiga menit lamanya.


"Aku takut kebablasan istriku," Jason tiba-tiba berucap seperti itu, kala mendapati wajah Lily yang juga mendadak tak enak dipandang.


Saat Jason akan melangkah, Lily memeluk tubuh suaminya itu dari belakang, membalik tubuh Jason, berjinjit dan mendaratkan bibir yang sudah membuat bibirnya bengkak. 


Tangan Lily juga tak tinggal diam,  menaikkan kaos yang dipakai Jason dan melepasnya, membuangnya asal.


Kedua pasang netra itu saling bertemu, berlomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya begitu pagutan bibir mereka terlepas.


Wajah Jason kembali mendekat dan memiringkannya, hendak kembali mencium Lily, tapi tiba-tiba Lily menahan dadanya.


"Pintunya sudah dikunci belum?" Tanya Lily.


"Ah iya," Jason berjalan cepat menuju pintu menguncinya, lalu kembali berbalik dan langsung menyambar bibir sang istri, menggiringnya ke tempat tidur.


Jason mendorong perlahan Lily hingga terjatuh di atas kasur. Dia ikut naik, menindih tubuh Lily, mendaratkan kecupan di seluruh wajah wanitanya dan terakhir pada bibir yang sedari tadi seperti tengah menggodanya.


Tangan Jason melepas pakaian sang istri tanpa melepas pagutan bibir mereka.


"Aku mencintaimu istriku," ucap Jason yang kemudian beringsut menanggalkan pakaian yang tersisa di tubuhnya, lalu kembali pada sang istri yang siap memadu kasih dengannya.

__ADS_1


__ADS_2