
"Kak, Kak Lia kenapa? Kak jawab aku! Jangan buat aku khawatir," kata Lily yang jadi cemas mendengar kakaknya menangis.
Lily menatap ponselnya, kemudian mengalihkan panggilan suara itu menjadi panggilan video, agar Lily bisa melihat keadaan kakaknya sekarang.
"Kak jawab please!"
Jason yang melihat Lily panik, mengelus bahunya.
"Sayang Kak Lia…" Lily mendongak menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Itu Lia!" Jason menunjuk layar ponsel istrinya yang kini menampilkan wajah Lia. Gadis itu sudah tidak menangis, tapi sangat jelas jika dirinya habis menangis, terlihat dari matanya yang sembab.
"Kak Lia kenapa? Kakak tahu, aku khawatir takut terjadi apa-apa sama Kakak."
Lia memencet hidungnya hingga memerah, "Hah tidak kok, Kakak tidak apa-apa, tadi hanya kangen saja sama kamu, maafkan Kakak ya, baru bisa menghubungi kamu sekarang, oh ya minggu depan Kakak libur, Kakak akan pulang bersama Ibu, Ibu bilang kangen banget sama kamu," kata Lia tersenyum.
"Benar, Kakak dan Ibu baik-baik saja?" Tanya Lily yang kurang yakin dengan jawaban kakaknya.
"Iya adikku sayang, lihatlah Kakak baik-baik saja kan?" Tampak di seberang telepon Dahlia menjauhkan ponselnya agar Lily bisa melihat seluruh tubuhnya yang memang baik-baik saja.
"Kakak tidak bohong?"
Dahlia menggeleng, "Oh ya bagaimana kabar keponakan Kakak? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Dahlia yang kini mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baik-baik saja Bibi, lihatlah Kak! Perutku sudah mulai membesar." Kata Lily menunjukkan perutnya.
Obrolan mereka mengalir begitu saja, Jason pun kini meninggalkannya istrinya membiarkan istrinya melepas rindu dengan kakaknya yang sudah hampir sebulan ini tidak memberi kabar.
Jason kemudian mengambil laptopnya dan memilih duduk di ranjangnya, bersandar pada headboard, menyelesaikan pekerjaan untuk besok karena dia akan berangkat agak siang, menemani istrinya untuk memeriksakan kandungan ke dokter. Sesekali dia melihat ke arah istrinya yang kini tertawa riang saat bercengkrama dengan kakaknya membuat Jason tersenyum. Rasanya dia merindukan tawa lepas istrinya yang dulu menjadi ciri wanita itu di awal pertemuan mereka. Tapi di lain sisi, Jason merasa lega karena sekarang istrinya bisa menunjukkan apa yang dirasakannya, dulu istrinya memang sering tertawa lepas, hingga selama mereka menikah akhirnya Jason tahu jika tawa itu hanya untuk menutupi kesedihan yang dirasakan istrinya.
Jason mengambil ponsel kemudian merekam apa yang dilakukan istrinya secara diam-diam. Jason kemudian tersenyum melihat hasil rekamannya.
"Apa yang kau lihat sampai tersenyum hingga kering seperti itu," kata Lily mengintip apa yang sedang dilihat suaminya.
Jason yang baru tersadar langsung meletakkan ponselnya di atas kasur dengan posisi tertutup membuat Lily tidak bisa melihatnya.
Lily menatap Jason curiga, dia mengulurkan tangan berusaha mengambil ponsel suaminya. Tapi Jason dengan cepat menahan tangan istrinya.
"Sayang, apa yang kamu lihat? Kamu tidak melihat yang…"
__ADS_1
"Tidak," jawab Jason yang seakan tahu kemana arah bicara istrinya.
"Bohong."
"Tidak sayang, serius aku tidak melihat yang aneh-aneh."
"Tapi kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?"
"Ya ingin tersenyum saja, karena memang lucu," jawab Jason menyingkirkan laptop yang ada di pangkuannya, lalu meminta istrinya untuk menggantikan posisi laptop tadi, Jason menarik sang istri agar duduk di pangkuannya.
"Sudah selesai ngobrolnya? Kok cepat sekali?"
"Sudah, kenapa memangnya jika cepat? Kamu ingin aku lama," ucap Lily dengan bibir yang mengerucut.
Cup
Jason mengecup bibir itu dan terkekeh melihat ekspresi istrinya yang kesal.
Cup
Cup
Cup
"Kenapa seperti itu wajahnya, sengaja ingin aku menciummu lagi?" Tanya Jason menggoda.
"Mencium lagi, mencium saja tidak." Jawab Lily ketus.
"Tadi, memangnya tidak cukup?"
"Tadi hanya kecupan bukan ciuman." Kata Lily meralat ucapan suaminya.
"Oh ya? Terus seperti apa?" Pancing Jason sengaja.
Lily mendekatkan wajahnya dan tak lama bibir Lily sudah menempel di bibir pria itu. Mencium bahkan melu*matnya.
Tentu saja hal itu disambut senang oleh Jason, Jason bahkan kini menarik tengkuk istrinya dan satu tangannya lagi menarik pinggang Lily, memperdalam ciuman mereka.
Dan Kedua tangan Lily pun kini bahkan sudah melingkar dan memeluk leher Jason.
__ADS_1
Pagutan bibir mereka terlepas, dua pasang mata itu saling menatap, sama-sama memburu udara yang seakan bisa saja habis jika tidak cepat-cepat mereka meraupnya.
Jason kemudian menempelkan hidungnya, di hidung sang istri, lalu menggesek-gesekkannya dan Lily hanya tersenyum saat suaminya melakukan itu.
"Ya sudah katanya mau mandi, aku sudah siapkan air hangat untukmu, nanti keburu dingin, hmm atau mungkin kau ingin aku membantu mandi?" Tanya Jason sambil mengerlingkan matanya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," kata Lily yang segera turun dari pangkuan suaminya.
"Baiklah, hati-hati di kamar mandinya," pesan Jason sebelum istrinya berjalan menjauh.
Jason menguap, tiba-tiba dirinya begitu mengantuk, hingga Jason pun membenahi laptop dan ponselnya meletakkannya di atas nakas, kemudian dia pun merebahkan dirinya, dan memejamkan mata, dan tak lama pria itu pun sudah pergi ke alam mimpi.
*
*
"Darimana saja kau?" Sepasang mata menatap seorang gadis yang baru saja masuk dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Aku dari rumah Lily, kenapa Kak Max ada disini?" Jawab Liora yang memang tidak sepenuhnya berbohong, karena memang dirinya baru pulang dari sana.
Max menatap mata Liora, mencari kebohongan disana, dan Max tidak menemukan kebohongan di mata gadis itu.
"Kak? Kenapa Kakak disini? Terus Mami mana? Tadi Kak Jason bilang jika Mami pasti mencariku."
"Memangnya tidak boleh Kakak disini?" Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, pria itu justru melemparkan pertanyaan.
"Kak aku serius."
"Menurutmu Kakak tidak serius tadi?"
"Ya bukan seperti itu juga," jawab Liora yang kini melirik ke arah Kakaknya.
"Kakak kemari karena tidak bisa menemuimu sejak hari itu," jawab Max sekenanya.
"Iya, tapi bukankah Kak Max menyuruh seseorang untuk mengawasiku? Jadi jika tidak bisa bertemu pun Kak Max pasti tahu apapun tentangku," jawab Liora yang tiba-tiba kesal kepada kakaknya saat mengingat hal itu.
"Kenapa kamu keberatan? Kamu takut tidak bisa bebas lagi?" Max menatap Adiknya dengan tatapan mengintimidasi.
"Sudahlah Kak aku lelah, aku tidak ingin memperdebatkan ini lagi," ucap Liora yang kemudian memilih pergi ke kamarnya meninggalkan Max yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Begitu sampai di kamarnya, Liora langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur, memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya yang merasa lelah.
Liora kemudian mengambil ponselnya, gara-gara kakaknya yang tadi berbicara panjang lebar, membuat dirinya lupa, jika sampai saat ini, dia belum memberikan kabar pada Ronald jika dirinya sudah sampai.