Please Love Me

Please Love Me
Part 144


__ADS_3

"Bibi!" 


Semua orang memandang ke arah sumber suara.


"Bibi tidak apa-apa?" Tanya seorang pria yang menangkap tubuh wanita paruh baya yang hampir terjatuh.


"Vega!"


"Al!"


Ucap Banu dan Alan bersamaan yang langsung bangun dari duduknya.


"Banu ada apa ini? Apa maksud yang kau katakan? Apa...apa semua itu benar?" Ucap Vega dengan suara bergetar.


Dahlia menangis memeluk tubuh Ibunya yang langsung rapuh mendengar kenyataan yang baru saja di dengarnya. Dahlia saja tidak menyangka dengan hal itu, rasanya begitu sesak Dahlia rasakan. Dahlia menatap Ibunya yang wajahnya banjir penuh air mata.


Jika perasaan Dahlia saja sesakit ini begitu mendengar kenyataan yang sebenarnya lantas bagaimana dengan perasaan Ibunya yang baru tahu kenyataan itu. Membayangkan saja Dahlia rasanya tidak sanggup.


"Ibu," Dahlia semakin mengeratkan pelukannya.


"Vega, kamu tenang dulu ya, aku akan jelasin semuanya ke kamu," Banu membantu Vega untuk duduk di kursi tempatnya tadi duduk.


Tampak Banu menjelaskan semuanya pada Vega dan Dahlia, Alan dan Jason justru sibuk mengejar Al yang langsung berlari menjauh.


"Al!" Alan tidak henti-hentinya memanggil sang putra. Tapi terlihat jika Al tidak menggubris sama sekali.


"Ayah, biarkan aku yang menyetir," Jason menawarkan dirinya, dia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu karena Ayah mertuanya menyetir dalam keadaan kalut.


Mobil keduanya sudah seperti mobil yang sedang berbalap kadang mobil Al yang di depan, kadang mobil Alan menyalip dan berada di depan, sampai pengguna jalan yang lain mengumpat kasar pada dua mobil mahal itu.


 Beberapa menit kemudian Alan dan Jason bernafas lega, saat ternyata Al berhenti di depan rumahnya sendiri.


Alan lebih dulu turun dan mengejar putranya yang sudah masuk.

__ADS_1


"Al dengarkan Ayah," ucap Alan menahan tangan Al.


"Ayah mohon Al, maafkan Ayah, Ayah..Ayah tahu Ayah salah, Ayah mohon Al.


Rahang Al mengeras, bahkan kedua tangannya juga mengepal merasakan rasa marah, kecewa, sedih di


dalam dadanya yang membuncah, dan melebur jadi satu.


Al menepis tangan Ayahnya dengan kasar.


Lily yang kebetulan lewat hendak ke dapur begitu terkejut melihat perlakuan Kakaknya terhadap sang ayah.


"Apa yang Kak Al lakukan?" Teriak Lily hendak menghampiri mereka, tapi dengan cepat Jason menarik tubuh istrinya.


Istrinya tidak boleh diantara kedua orang yang dia begitu sayangi. Apalagi mereka dalam kondisi yang tidak baik.


"Al!" Tubuh Alan merosot ke lantai, duduk bersimpuh.


Sementara Jason masih berusaha menahan Lily di dalam pelukannya, mencoba membuat pikiran istrinya tenang, tapi Lily terus berontak. Lily bukan tidak tahu jika saat ini mereka dalam suasana buruk, tapi Lily tidak ingin kedua pria yang disayanginya harus bertengkar satu dengan yang lainnya entah karena apa yang Lily tidak tahu.


"Tapi…" kata Lily yang tidak tega melihat Ayahnya bahkan sampai berlutut.


"Sudah sayang, biarkan dulu mereka," bisik Jason pada istrinya yang sudah mulai tenang, tidak memberontak lagi.


"Al…"


"Kenapa Yah? Kenapa?" Al memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Ayahnya untuk saat ini.


"Al…"


"Kenapa Ayah berbuat seperti itu kepada Ibu?" Kini suara Al terdengar meninggi.


"Al maafkan Ayah,"

__ADS_1


"Kenapa Ayah tidak tahu jika Ibu sakit? Bukankah Ayah seorang dokter? Seharusnya Ayah lebih mengerti kondisi Ibu, sekarang Al tanya sama Ayah, apa Ayah juga selama ini terpaksa membesarkan kami?"


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Al.


Lily menatap geram pada Al yang sudah keterlaluan menurut Lily.


Ketiga orang lainnya terkejut, begitu pula Jason yang tidak menyadari dan tiba-tiba saja istrinya sudah terlepas dari dekapannya.


"Apa yang Kakak lakukan?" Tanya Lily menggenggam tangan kanannya yang gemetar dengan tangan kirinya.


"Sayang," ucap Alan yang bangun dan memeluk putrinya, tapi dengan cepat Al menarik Lily dari Alan.


"Bukankah Ayah dulu menyia-nyiakan kami? Tidak pernah ada di saat kami benar-benar membutuhkan Ayah?" 


"Al!"


"Jujur Al kecewa sama Ayah, sangat-sangat kecewa, oke selama ini Al memaklumi Ayah yang selalu sibuk, Al mencoba mengerti di usia Al yang seharusnya tidak memikirkan tentang hal seperti itu, tapi Yah, bahkan di saat Ibu sakit, ayah benar-benar tidak tahu sama sekali? Terus apa yang Ayah lakukan selama ini. Pantas saja, pantas Ibu ingin berpisah sama Ayah, karena Ayah egois, Ayah selalu mementingkan hidup Ayah sendiri, sampai melupakan kami, melupakan istri Ayah yang sudah melahirkan kami. Untung saja saat itu aku menyetujui keinginan Ibu untuk berpisah dengan Ayah, yang aku sesalkan kenapa aku harus menuruti Ibu untuk tinggal bersama Ayah, Seharusnya saat itu aku ikut Ibu saja, ikut Ibu  bersama Ale," rasanya begitu sesak Al rasakan mengingat saat Ibunya memintanya untuk tinggal bersama ayahnya dan menemani ayahnya agar merasa tidak kesepian.


Al menarik nafasnya, "Bahkan disaat perpisahan dengan Ayah pun Ibu masih memikirkan Ayah, tapi ayah…" rasanya Al sudah tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya.


"Ale ayo ikut Kakak, kita pergi dari sini, karena mungkin sebenarnya kehadiran kita tidak diinginkan oleh Ayah," ucap Al sebelum meninggalkan Alan yang berdiri kaku seperti patung, bahkan untuk melangkah mengejar putra-putrinya saja rasanya amat berat.


"Tunggu Kak, sebenarnya ada apa ini?" Lily menghempaskan tangan Al yang menarik tangannya.


"Kenapa? Kenapa kalian ribut sendiri? tiba-tiba seperti ini dan tanpa menjelaskan apa masalahnya kalian memintaku untuk ini dan itu? Apa aku tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga ini? Ya, aku tahu dari kecil aku memang tidak tinggal disini, mungkin itu yang membuat kalian semua tidak menghargai keberadaanku disini, kenapa kalian selalu menyembunyikan semua hal yang seharusnya aku pun perlu tahu," Teriak Lily dengan tubuh yang sudah merosot ke lantai memegang dadanya yang terasa sesak, karena sebagai bagian keluarga mereka, Lily benar tidak tahu apa-apa, dialah orang yang selalu tahu terakhir, dan itu pun bukan dari penjelasan keluarganya sendiri.


Al, Alan terdiam bahkan Jason yang hendak menghampiri istrinya yang tadi ditarik Al, langkahnya terhenti. Mereka baru sadar, keputusan mereka untuk tidak menjelaskan kepada Lily ternyata salah, mereka pikir, Lily tidak perlu tahu, karena takut dia akan banyak pikiran, ternyata dengan tidak tahunya Lily, dirinya merasa sudah tidak dianggap keberadaannya di keluarga dia sendiri. 


"Ale, bukan seperti itu maksud kami sayang, kami hanya tidak ingin kamu cemas, makanya kami tidak, bukan tidak tapi belum memberitahukan masalah yang terjadi, jika sudah selesai kami juga akan menceritakannya," kata Alan penuh sesal.


"Oh ya? Apa kalian semua yakin?" Tanya Lily menatap ketiga pria yang disayanginya.

__ADS_1


__ADS_2