Please Love Me

Please Love Me
Bab 247


__ADS_3

Liora kini bernafas lega, mendengar apa yang kakaknya ingin bicarakan, dia kira hal itu menyangkut dirinya, ternyata bukan. Setelah semalam Max gagal berbicara dengannya karena dia yang sudah tertidur, pagi-pagi sekali Max sudah datang ke rumah dan mengatakan maksud kedatangannya. Max meminta Liora dan juga Jasmine untuk membantunya membuat pesta kejutan untuk Bunga. Dan tentunya dengan senang hati Liora melakukannya, bahkan Liora mengajukan diri untuk mendesain gaun khusus untuk kakak iparnya itu. Max sangat setuju, apalagi mengingat adiknya juga pernah membuat gaun untuk Jasmine, hingga Max tidak meragukan lagi, kemampuan Liora. Sehabis mengatakan rencananya, Max pun berpamitan ke kantor, bersama dengan Stevano yang kini juga akan berangkat.


"Sepertinya aku juga harus bersiap Kak, sudah siang," kata Liora setelah melihat jam di ponselnya.


"Ya sudah sana, nanti jangan lupa sarapan, Kakak sudah siapkan untukmu."


"Baiklah, terima kasih, kau yang terbaik Kak," ucap Liora mencium pipi Alno yang sibuk dengan mainannya, dan juga Vier dan Vira sedang makan disuapin mamanya.


"Bibi El!" Vier langsung menghapus bekas ciuman di pipinya.


Liora dan Jasmine hanya terkekeh, melihat tingkah Vier yang memang tidak ingin dicium oleh siapapun, hanya mama dan papanya juga nenek dan omanya, selain itu, Vier akan dengan segera menghapusnya.


"Pelit," ucap Liora yang suka menggoda bocah kecil itu.


"Biarin wkwkwk!" Vier terlihat menjulurkan lidahnya.


"Vier tidak boleh seperti itu dong sayang sama Bibi."


"Iya Mama, maaf," ucapnya menunduk.


Dan Liora yang gemas mengacak rambutnya kemudian segera berlari, saat melihat wajah keponakannya yang kesal karena ulahnya.


"Wkwkwk!"


Kini giliran Liora yang sengaja meledek ponakannya itu.


"Mama, itu bibi El nya!" Adu Vier pada mamanya dan Jasmine hanya menghela nafasnya.


"Liora sudah siang, katanya mau bersiap nanti kamu terlambat," ucap Jasmine dan Liora hanya menunjukkan deretan giginya yang rapi, serta menunjukkan jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.


Jasmine hanya menggelengkan kepala, melihat Liora yang suka sekali menggoda putranya.


Liora memasuki kamarnya dan segera bersiap, tadi dia sudah mandi, tinggal ganti dan berdandan saja.

__ADS_1


Setelah selesai, Liora kini buru-buru keluar, dirinya takut terlambat karena setengah jam lagi, dia ada janji dengan klien.


Liora menolak tawaran Jasmine yang meminta dirinya untuk makan dulu. Liora masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya. 


Sesampainya di butik, begitu keluar langkah Liora berhenti saat melihat seorang pria yang belakangan ini selalu ia hindari. Liora menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Yang membuat Liora heran, kenapa laki-laki itu bisa ada disana, darimana dia tahu jika Liora sekarang bekerja disitu.


"El tunggu, aku perlu bicara," orang itu menghadang langkah El yang akan masuk.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," kata Liora dingin.


"El aku bisa jelaskan semuanya, termasuk tentang foto-foto itu, aku…"


"Ronald please, aku mau kerja, jadi tolong jangan ganggu aku."


"Baiklah, tapi kita bisa ketemuan kan nanti malam?" Tanya Ronald penuh harap.


"Aku tidak bisa."


"Jika kita tidak bisa bertemu, aku akan menunggu disini."


"Baiklah, tapi aku tidak akan menyerah sampai kamu mau dengerin penjelasan aku, ya sudah aku pergi dulu," kata Ronald mengusap rambut Liora dan pergi dari sana.


Liora memegang rambutnya yang tadi disentuh Ronald, jantungnya masih berdebar kencang walau pria itu kini sudah pergi. Dia tidak menyangka kedatangan Ronald benar-benar mempengaruhi hidupnya. Walau belum lama, Ronald berhasil membolak-balikkan hati Liora yang awalnya sudah mati karena rasa cintanya pada Jason dulu.


"Liora ada apa?" Tanya seorang wanita yang sudah lama bekerja di butik itu, bisa dikatakan dia senior Liora, lebih tepatnya orang kepercayaan Liliana.


"Tidak apa-apa Bu."


"Siapa tadi? Pacarnya? Lagi berantem?" Wanita itu menyenggol Liora menggoda gadis itu hingga muncul semburat merah di pipinya.


"Hmm tampan, hati-hati, harus dijagain baik-baik, berantemnya jangan kelamaan, takutnya direbut orang, beruntung loh kamu Liora, punya kekasih setampan itu, dia juga kelihatannya baik dan sayang banget sama kamu, dan melihat tatapannya tadi…" wanita itu tiba-tiba senyum-senyum sendiri.


"Jadi ingat ibu waktu muda dulu," tambahnya menepuk bahu Liora dan masuk ke dalam masih terus tersenyum.

__ADS_1


"Tunggu Bu, maksud ibu, tatapan dia kenapa?" Liora berlari mengejar wanita itu, belum puas karena wanita itu tadi tidak menyelesaikan ucapannya.


Wanita itu berhenti dan berbalik.


"Kamu tidak merasakannya?" Tanyanya kemudian.


Liora menggeleng, menatap bingung seniornya itu.


"Tatapan dia itu…" wanita itu sengaja menggantung ucapannya, sengaja agar Liora semakin penasaran.


Liora terus menatap wanita itu, menunggu kelanjutan jawaban darinya.


"Penuh cinta," bisik wanita itu yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Liora yang kini merasa dilema.


Liora menggeleng kemudian masuk ke ruangannya dan mempersiapkan apa yang perlu disiapkan untuk pertemuannya dengan klien yang lima menit lagi akan datang. Gadis itu mencoba untuk fokus walaupun bayang-bayang Ronald tadi terus berlarian di kepalanya.


"Stop!" Teriaknya kesal karena sedari tadi terus kepikiran pria itu.


Hingga seseorang yang akan masuk langsung berhenti, dia mengira Liora berbicara dengannya.


"Maaf Kak," ucap seorang gadis yang bisa diperkirakan usianya lebih muda dari Liora.


"Maaf? Kenapa?" Tanya Liora bingung karena gadis itu tiba-tiba minta maaf.


Gadis itu pun menjelaskan hal tadi dan Liora kini yang gantian meminta maaf padanya.


"Jadi klien kita sudah datang?" Tanya Liora setelah kesalahpahaman mereka teratasi.


"Sudah Kak, saya sudah meminta mereka untuk menunggu," jawab gadis itu.


"Baiklah, ayo kita temui mereka," kata Liora membawa beberapa contoh desain yang dibuatnya, diikuti oleh gadis tadi. Keduanya kemudian berjalan menemui klien mereka.


Seharian berkutat dengan pekerjaannya kini Liora meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Senior Liora yang tadi pagi menghampiri Liora menanyakan kenapa Liora belum pulang, dan setelah mendapat jawaban Liora, wanita itu berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


Liora kemudian mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari maminya yang bilang jika mami dan papinya sudah sampai dengan selamat, dan Liora lega mendengar itu.


Tak lama, pesan masuk dari papinya, menyuruh Liora lusa untuk bersiap, karena pria yang akan menjadikan Liora akan datang ke rumah nanti. Dan Liora tidak bisa menolak itu, karena kesempatan yang papinya berikan Liora sudah habis. Liora hanya menghela nafasnya, tanpa membalas pesan papinya, Liora memasukkan ponsel ke dalam tas. Setelah itu, Liora pun membereskan meja nya yang berserakan, baru setelah itu dirinya pulang. Tapi saat Liora keluar dari arena butik, tiba-tiba Liora menghentikan mobilnya saat melihat seseorang yang sepertinya dia kenal sedang dalam masalah. Liora buru-buru turun dari mobil dan berjalan menghampirinya.


__ADS_2