Please Love Me

Please Love Me
Part 94


__ADS_3

Al terus berlari, pikirannya sekarang tertuju pada nama yang disebut oleh pria tadi. Al bahkan menerobos kerumunan orang, tubuh Al membeku, melihat wajah seorang gadis yang diangkat para warga masuk ke dalam mobil ambulance.


Al tersadar saat ada seseorang yang  menepuk bahunya cukup keras. "Apa Anda mengenal korban?" Tanya seorang Ibu-ibu. 


"Kemana mereka membawanya?" Tanya Al  menunjuk mobil ambulans yang sudah meninggalkan tempat kejadian.


"Ke rumah sakit terdekat Nak," jawab Ibu itu. 


Al segera berlari, menyusul mobil ambulans, kebetulan rumah sakit terdekat adalah rumah sakit tempat Ayahnya bekerja dan itu hanya membutuhkan waktu 10 menit lagi. Al bahkan tidak peduli, jika dia telah meninggalkan mobilnya, yang lebih dia pedulikan adalah bagaimana kondisi Dahlia saat ini. Al berlari secepat mungkin, segera menyusul ambulans.


***


"Kamu kenapa?" Tanya Jason yang melihat istrinya sedari tadi tampak gelisah duduk di sampingnya.


"Entahlah, kenapa perasaanku sedari tidak enak ya," kata Lily mengungkapkan kegelisahannya.


"Kamu berdoa saja ya, semoga itu hanya perasaanmu saja, dan semuanya baik-baik saja.


Lily mengangguk, mengamini dalam hati apa yang tadi suaminya katakan.


Tapi hal itu tidak bisa langsung membuatnya merasa tenang.


Tak lama ponselnya pun berdering, nama Kak Al tertera di layar ponsel Lily.


"Siapa?" Tanya Jason.


"Kak Al, aku  jawab dulu," kata Lily dijawab anggukan dari Jason.


"Apa Kak? Baiklah Aku akan segera kesana Kak, Kakak tolong kabari aku ya perkembangannya,  aku kebetulan sedang di jalan," jawab Lily dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu menangis?" Tanya Jason panik melihat istrinya menangis.


"Kak Lia..kata Kak Al, Kak Lia kecelakaan. Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Kata Lily yang kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Iya kita akan segera kesana, kamu tenang dulu ya," Jason terus mencoba menenangkan Lily.

__ADS_1


Jason langsung memutar balik mobil untuk menuju rumah sakit tempat Dahlia tadi dilarikan.


.


.


"Seorang pria terbangun saat merasakan perutnya lapar, dengan malas pria itu turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, tubuhnya terasa sangat lelah, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.


Setelah bersiap, pria itu pun mengambil ponsel,  kunci mobil serta dompetnya, dia akan mencari makanan untuk mengisi perutnya yang kosong sejak kemarin sore.


Di sebuah taman yang cukup ramai, pria itu tidak menyangka jika bertemu dengan seseorang yang dikenalnya sedang duduk di  sebuah bangku yang ada di pinggiran taman.


Pria itu pun memutuskan untuk mendekati wanita itu.


"Flo!" Panggilnya pada wanita yang kini sedang mengelus perutnya yang buncit.


Dapat pria itu melihat jika sang wanita terkejut, pria itu mendekat dan duduk di samping wanita itu. 


"Ronald," sapa wanita itu melihat pria yang kini duduk di sampingnya.


"Apa kabar? Aku dengar kamu sudah menikah, dan sekarang yang aku lihat sangat mengejutkan, perutmu bahkan sudah sebesar ini" ucap Ronald kepada Flo yang ternyata adalah sepupunya.


"Syukurlah, mmm bolehkah aku menyapa keponakanku?" Tanya Ronald penuh harap.


Bunga tampak berpikir kemudian dia pun mengangguk, mengizinkan sepupunya untuk menyapa anak yang ada di dalam kandungannya.


Hingga tak lama, terjadi sesuatu yang begitu mengejutkan Ronald.


"Siapa kau beraninya menyentuh istriku?" Teriak seorang pria yang mendekat ke arahnya.


Ronald yang masih bingung dengan kejadian yang tiba-tiba itu, hanya diam saja. Kebingungannya bertambah saat dia melihat sepupunya berdiri. "Honey, aku bisa jelaskan!" Katanya kemudian


"Diam kamu!" Terdengar pria itu justru membentak sepupunya.


Melihat mata sepupunya kini berkaca-kaca, karena dibentak pria yang tidak dikenalnya itu, Ronald mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Dan Ronald langsung berdiri dan menghajar pria itu, saat  dirinya melihat Flo sepupunya kini sudah meneteskan air mata.


"Beraninya kau membentak Flo!" Kata Ronald mencengkram kerah baju Max.


"Siapa kau tidak usa ikut campur urusan keluargaku?" Marah pria itu menatap tajam Ronald yang ada di depannya.


Ronald mengernyitkan dahi bingung mendengar perkataan pria itu. Tapi kebingungan itu tidak membuat Ronald menghentikan pukulannya pada pria yang sudah berani membentak sepupunya.


"Honey aku bisa jelaskan," sepupunya kembali mengatakan kalimat itu pada pria yang tadi dia pukuli.


Bugh


Bugh


"Stop!" Teriak Flo hingga semua orang menatap ke arah mereka. 


Dan masih bisa Ronald lihat jika Flo meminta tolong pada petugas untuk menghentikan perkelahian dirinya dengan pria yang tadi dipanggil honey oleh sepupunya.


Hingga dua petugas langsung menghampiri Ronald dan memisahkan Ronald dan pria itu.


"Cukup honey!" Kata Flo untuk kesekian kalinya  dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.


Pria yang tadi dipukul Ronald terdiam saat melihat sepupunya menangis dan bisa Ronald lihat ada rasa bersalah di mata pria itu, hingga kemudian pria itu menghempaskan tangan petugas yang tadi menghentikannya kemudian menghampiri sepupunya.


Pria itu menghapus air mata Flo, kemudian Ronald dengar pria itu mengucapkan maaf pada Flo, "Maaf, maaf kamu harus kembali menangis karenaku," itulah  yang Ronald dengar dari mulut pria itu.


"Ayo kita pulang!" Rengek Flo yang kemudian langsung disetujui oleh pria itu.


Sepupunya terus menoleh ke arahnya dan mengucapkan kata maaf tanpa suara. Ronald tersenyum dan mengangguk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Ronald pun terus memandangi pria dan sepupunya itu, melihat keduanya hingga akhirnya menghilang dari pandangannya dan masuk kedalam mobil, tak lama mobil itu pun melaju meninggalkan area taman.


Ronald yakin jika pria itu pasti akan marah pada sepupunya, "Flo tadi memanggilnya honey? Apa mungkin dia suami Flo? mmm Entahlah aku juga belum pernah melihatnya" Tanya Ronald dalam hati lalu mengedikkan kedua bahunya acuh.


Tidak ingin ambil pusing, Ronald pun juga ikut meninggalkan taman karena dia mendapat pesan jika salah satu kekasihnya sudah berada di depan pintu apartemennya.

__ADS_1


Ronald tersenyum, dan dengan langkah lebarnya dia segera menuju ke mobilnya, dirinya sudah tidak sabar, ingin bersenang-senang dengan wanita yang selalu bisa memenuhi kebutuhannya. Wanita yang dia manfaatkan untuk memuaskan hasratnya karena jujur dirinya sangat membenci wanita yang menurutnya hanya bisa membuatnya terluka, hingga Ronald tidak ingin mengikat dirinya dengan hubungan yang baginya sangat merepotkan. Apalagi pengalaman pahit di masa lalu Ronald membuat dirinya tidak percaya bahwa masih ada wanita yang tulus menyayangi seorang pria tanpa ingin timbal balik.


Karena terbukti dengan segala yang Ronald miliki, para wanita itu hanya menginginkan uang Ronald saja. Dan Ronald tidak akan segampang itu masuk ke dalam perangkap mereka, setelah tahu maksud sebenarnya kenapa para wanita itu mendekatinya.


__ADS_2