
Dahlia melangkah masuk, meskipun Lily belum mempersilahkannya, apalagi saat Lily kini hanya menatapnya saja.
"Maaf," ucap Dahlia ketika dia sudah berdiri di hadapan adiknya.
Lily masih diam, tidak berkata-kata.
"Maafkan kakak, kakak…" Dahlia menghentikan ucapannya menatap Lily melihat bagaimana ekspresi adiknya itu.
"Sudahlah kak, aku sudah memaafkan kakak, lagian sepenuhnya bukan salah kakak, maafkan aku juga karena ikut campur masalah kakak."
"Lily bukan seperti itu maksud kakak, kakak hanya…"
"Tidak perlu dibahas lagi, kakak juga menginginkan seperti itu kan?" Lily mengambil ponsel lalu menghubungi suaminya, meminta untuk membawa makanan mereka sekarang juga.
"Lily…"
"Duduklah, kita makan siang bersama disini atau kakak bisa ke ruang makan, makan dengan yang lain."
Dahlia terus menatap adiknya, tidak ada ekspresi apapun di wajah adiknya, hanya datar, dan itu bukan seperti Lily yang Dahlia kenal, Dahlia yakin jika Lily masih marah padanya.
Lily kemudian berjalan ke arah box bayi untuk melihat anaknya, dielus lembut pipi dan anaknya itu hanya menggeliat pelan, tidak terusik sama sekali.
"Kenapa masih berdiri?" Tanya Lily pada Dahlia karena saat dirinya menoleh, kakaknya masih berdiri tidak jauh dari pintu.
Dahlia akhirnya melangkah pelan menuju sofa, duduk di sana.
"Kak Lia kesini sendiri?" Lily berjalan menghampiri kakaknya.
"Iya."
"Ya sudah, nanti kalau pulang Kak Lia biar diantar sopir saja."
"Oh itu, tidak usa, kakak bisa naik taxi kok."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Kak Al yang mengantar."
Dahlia menatap Lily yang kini duduk di sampingnya.
"Pilih yang mana?" Tatapan mata mereka bertemu.
"Kakak diantar sopir saja."
Lily mengangguk, pandangan keduanya kemudian tertuju pada pintu yang diketuk.
"Masuk saja Bi!" Lily mempersilahkan bibi yang membawa nampan di tangannya. Tadi Lily mengirim pesan pada Jason dan mengatakan biar bibi saja yang mengantarkan makanan untuknya, dan Jason tentu saja setuju apalagi kakak beradik itu memang butuh waktu berdua untuk mengobrol.
"Terima kasih Bi," ucap Lily diikuti oleh Dahlia.
Lily mengambil makanannya lalu menyuapkan ke dalam mulut, tapi gerakannya terhenti saat mendengar Dahlia berbicara.
"Devan berasal dari keluarga kaya, kakak sudah pernah bertemu dengan ibunya, lebih tepatnya tidak sengaja bertemu saat kami keluar bersama. Tapi…" Dahlia menjeda ucapannya, menunduk sambil meremas jari-jarinya.
"Ibunya terlihat tidak setuju dengan hubungan kami, ya kakak juga tahu, kami belum lama bersama, dan kakak juga belum memikirkan bahwa hubungan kami bisa sejauh itu, makanya kakak tidak ambil pusing. Berulang kali ibu Devan meminta kami putus, tapi Devan tidak pernah setuju."
"Maaf kak, aku tidak tahu…"
"Kamu tidak salah Ly, hanya saja kakak yang sebenarnya memang tidak ingin membahas hal ini. Bagi kakak yang terpenting adalah Devan yang menyayangi kakak apa adanya, tidak pernah berpikir dua kali mempertimbangkan kakak sebagai kekasihnya walau ibunya tidak merestui kami."
"Apa kakak mencintai kak Devan?"
"Kakak tidak mencintainya, tapi itu di awal, karena kamu tahu bukan, sangat sulit melupakan orang yang pernah singgah bahkan menempati tempat istimewa di hati kita. Tapi dengan sikap Devan yang baik juga perhatian serta selalu ada untuk kakak, membuat kakak lama-lama terbiasa dengannya, dan seiring berjalannya waktu kakak bisa sedikit-sedikit menempatkannya di hati kakak, perlahan menggeser nama seseorang yang pernah bertahta sebelumnya."
Lily menggeser tubuhnya, menarik Dahlia ke dalam pelukan untuk sekedar menguatkannya.
"Kakak harus berusaha yang terbaik, mungkin saja suatu saat nanti, ibu kak Devan bisa menerima kakak."
Dahlia tak kalah erat memeluk Lily, dia merasa setelah bercerita tentang hal itu pada adiknya itu, membuatnya begitu lega. Sangat berbeda dengan seorang pria yang kini berdiri di depan pintu, mendengar percakapan keduanya yang membuat hatinya begitu sakit, dalam hati bertanya-tanya, apakah itu berarti dia tidak perlu berusaha lagi demi untuk mendapatkan Dahlia, karena rasanya percuma, jika dia akan mencoba berjuang, tapi orang yang kita perjuangkan justru lebih memilih yang lain. Al tahu dirinya yang salah sejak awal, disaat dia menyadari perasaannya pada Dahlia mulai berubah, harusnya Al memulai perjuangannya dari sana, tapi Al terlalu lama memastikan perasaannya hingga Dahlia lelah menunggu dan akhirnya memilih untuk pergi, dan sekarang gadis itu sudah menemukan cintanya, bukankah Al harus menerimanya? Kecuali jika memang mereka ditakdirkan bersama, seberapa jauh jarak yang memisahkan mereka, pada akhirnya mereka akan kembali dipertemukan. Dan bolehkah Al berharap akan itu?
__ADS_1
"Al!"
Tepukan di bahu mengejutkan Al yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ah iya kenapa?"
"Kamu belum masuk?" Tanya Jason yang masih melihat Al di depan pintu dengan membawa dua gelas di tangannya.
Tadi saat akan makan, Al mendengar jika bibi lupa membawakan minuman untuk Lily, Al pun menawarkan diri untuk mengantarkannya, apalagi saat mendengar jika ada Dahlia disana. Tapi, niatnya yang ingin melihat Dahlia, justru membuat pria itu mendengar jika gadis yang dicintainya itu, sudah mencintai orang lain.
"Hmm ini kamu saja," Al memberikan dua gelas itu pada Jason, setelah itu pria itu pun bergegas pergi dari sana, meninggalkan adik iparnya.
"Aneh," gumam Jason melihat Al yang berjalan terburu-buru meninggalkannya.
Setelah itu, Jason pun masuk, membuat Lily dan Dahlia yang sedang berpelukan, segera melepaskan pelukan mereka. Dahlia tersenyum canggung, dan menundukkan kepalanya, menyapa Jason. Sementara Jason hanya mengangguk membalasnya.
"Ini minuman kalian," kata Jason meletakkan gelas di atas meja, di depan Lily dan Dahlia. Lalu pria itu mendekat ke box bayi, mengangkat putrinya yang kini sudah membuka mata dan menggeliat.
Jason tersenyum, saat tangan mungil itu menggenggam erat jarinya.
"Sudah bangun?" Tanya Lily yang akan bangun namun segera dihentikan oleh suaminya.
"Putri ayah pipis," beritahu Jason pada Lily apa yang membuat putrinya terbangun.
"Kamu lanjutkan saja makannya, biar aku saja yang mengganti popok," tambahnya lalu dengan gesit mengambil popok baru dan segera menggantinya.
"Kamu beruntung," ucap Dahlia tiba-tiba dengan pandangan tak lepas dari Jason yang sudah begitu ahli mengurus putri kecilnya.
Lily menoleh, menatap Dahlia yang kini tersenyum dengan pandangan yang masih sama.
"Cinta kamu terbalas dan kamu memiliki suami yang menyayangimu dan anak-anak kalian, bahkan bisa menggantikanmu mengurus anak-anak kalian."
Dahlia melihat ke arah Lily yang ikut tersenyum memperhatikan suaminya.
__ADS_1
"Ya, aku memang beruntung bisa memilikinya. Tapi kak, untuk mendapatkan itu tidaklah mudah seperti yang orang lain kira. Karena aku harus melewati rasa sakit yang cukup panjang lebih dulu, hingga aku akhirnya bisa mendapatkan ini semua.
"Dan bisakah aku mendapatkannya?"