Please Love Me

Please Love Me
Bab 160


__ADS_3

"Sayang, kenapa dari tadi cemberut terus sih, Suamimu yang tampan ini mau pergi loh, kasih senyuman gitu, apa pelukan atau ciuman juga boleh, bukan malah manyun seperti itu," Jason kini terlihat sedang membujuk istrinya yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper dengan wajah yang ditekuk.


Lily hanya memalingkan wajahnya, saat Suaminya itu terus menatapnya.


"Sayang, ini mendadak beneran, tadi pagi Tuan Muda Stevano baru memberitahu, please dong jangan ngambek, kamu mau dibeliin apa, nanti aku beliin," sepertinya hanya bersama Lily Jason terdengar cerewet seperti itu.


Lily menghela nafasnya berat, Lily tau Lily tidak boleh egois, tapi entahlah Lily terasa berat mengetahui suaminya pergi. Jason belum lama pergi dan kini Lily akan ditinggalkan lagi karena urusan pekerjaan, hmm Lily rasanya ingin berteriak tidak setuju dan melarang suaminya pergi, Lily rasanya ingin mengurung Jason saja agar suaminya itu tidak bisa kemanapun.


"Kamu marah, karena aku menunda honeymoon kita makanya kamu jadinya pergi sendiri, iya? Waktu Kak Dahlia dirawat kamu juga sudah pergi ke luar kota selama tiga hari, dan belum lama kamu di rumah terus pergi lagi," kalimat pertama yang Lily ucapkan setelah cukup lama tidak mau berbicara.


"Kok kamu ngomongnya seperti itu sih sayang, aku pergi bukan karena itu, ini murni karena pekerjaan sayang, lagian aku di rumah juga cukup lama sekitar dua bulan loh kemarin setelah aku pergi yang tiga hari itu, hmm rasanya ingin sekali aku membawamu, atau kamu mau ikut saja, ayo jika iya," ucap Jason menatap mata istrinya yang sudah berkaca-kaca.


"Kan aku sudah bilang, aku mau menghabiskan waktu sama Ibu, apalagi kita belum lama berbaikan, aku juga ingin terus bersama Kak Lia juga sebelum mereka pergi, kamu waktu itu bilang bisa mengerti, terus kenapa sekarang kamu mau ninggalin aku lagi sendiri, kamu jahat tahu nggak," Lily memukul dada Jason yang berjongkok di depannya hingga Jason terjungkal ke belakang.


Jason menangkap tangan istrinya yang sedari tadi memukulnya. "Sayang aku mengerti, aku sangat mengerti, tapi ini, memang aku yang harus pergi, apa kamu tega sama sahabatmu, di hamil tuanya suaminya justru pergi ke luar negeri? terus kalau tiba-tiba sahabatmu melahirkan bagaimana?" Tanya Jason mencoba berbicara pelan-pelan agar istrinya bisa mengerti.


"Maafkan aku Nyonya Muda, terpaksa aku harus membawa-bawa nama Anda, semoga dengan ini istriku akan mengizinkan aku pergi bekerja," ucap Jason dalam hati.


"Tapi aku gak suka kamu pergi, aku ingin kamu tetap disini" Lily kini malah menangis, membuat Jason kebingungan.

__ADS_1


"Sayang kenapa jadi menangis, aku cuma bentar kok perginya, cuma seminggu, aku akan mempercepat kerjaan di sana biar cepat pulang dan kita bisa berkumpul lagi, kalau perlu aku akan lembur sampai malam, tidak makan asal kerjaan aku cepat selesai ya," bujuk Jason sambil menenangkan istrinya yang kini menangis dalam pelukannya.


"Jangan seperti itu juga, nanti kamu sakit," kata Lily di tengah isakannya.


"Terus aku harus bagaimana?" Ucap Jason mencoba meminta pendapat istrinya agar dirinya benar, karena sedari tadi apa yang diucapkannya selalu salah dimata istrinya.


"Ya kamu disana harus tetap makan, tidak perlu lembur juga, istirahat yang cukup," Lily menarik nafasnya yang sesenggukan karena menangis. 


Jason terkekeh, "Istrinya itu lucu bilang jika dirinya harus cepat pulang, dan saat Jason mengatakan usaha yang bisa dilakukan agar kerjaannya selesai, Lily justru melarangnya.


"Kenapa tertawa tidak ada yang lucu," kesal Lily karena suaminya itu justru tertawa.


"Makanya jangan menertawakanku," ucap Lily galak.


"Jadi bolehkan sayang aku pergi besok?" Tanya Jason pelan-pelan memastikan jika dirinya sudah mendapatkan izin istrinya.


"Apa jika aku bilang tidak boleh, kamu jadi tidak pergi, tidak kan?" Ketus Lily menatap tajam suaminya.


"Ya bukan gitu juga sayang," Jason yang gemas tidak tahan lagi untuk tidak mencubit pipi istrinya yang semakin berisi.

__ADS_1


"Ih jangan cubit-cubit kamu pikir tidak sakit apa," Lily segera menepis tangan Jason.


Bukannya marah, Jason justru tertawa.


"Jadi bagaimana sayang? Tidak apa-apa kan jika aku tinggal, kan ada ayah, ada Kak Al juga."


"Tapi kan Kak Al sudah tidak tinggal di rumah ini," protes Lily.


"Ya sudah nanti aku minta Kak Al untuk tinggal lagi deh disini selama aku pergi, dan  jika kamu nanti kesepian disaat ayah dan Kak Al tidak di rumah, kamu kan bisa ke rumah Ibu dan Kak Lia, kalau tidak biarkan mereka kesini untuk menemanimu, aku yakin pasti ayah juga pasti akan setuju."


"Ya sudah, aku izinin tapi kamu tidak boleh dekat-dekat dengan sekretaris barumu itu, aku tidak suka, dia itu sengaja ingin dekat-dekat kamu, kamu harus tegas usir dia biar tidak gangguin kamu, kalau perlu kenapa kamu tidak pecat dia saja sih, bikin resah saja," ucap Lily memberi wejangan pada suaminya sebelum pergi.


Lily teringat saat datang ke kantor suaminya, dan melihat sekretaris baru suaminya sengaja dekat-dekat dengan Jason hingga membuat Lily marah besar saat itu, bahkan mendiamkan Jason karena menganggap Jason mau-mau saja di dekati wanita itu.


"Iya sayang, kan kamu lihat aku sudah mengusirnya di depanmu saat itu, kamu juga dengar saat aku memberi peringatan  padanya bahwa aku sudah punya kamu, aku yakin dia tidak akan seperti itu, karena aku mengancam dirinya akan dipecat secara tidak hormat jika sampai melakukan itu lagi, jadi kamu jangan khawatir, oke. Aku tidak akan macam-macam diluar sana, kamu percaya kan sama aku, aku sayang dan cinta sama kamu, dan tidak mungkin untuk mencari wanita lain di luar sana, karena yang satu ini sudah cukup untukku," Jason menoel pipi istrinya membuat Lily cemberut.


"Aku percaya sama kamu, tapi aku tidak percaya sama dia," lirih Lily dengan kepala menunduk.


Jason mengangkat kepala istrinya agar menatap ke dalam matanya, "Asal kamu percaya sama aku, aku akan buktikan pada kamu, jika kamu adalah wanita satu-satunya, dihati dan dihidupku saat ini dan nanti, kamu memang bukan yang pertama, tapi kamu akan menjadi yang terakhir," Jason kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Lily.

__ADS_1


Lily memeluk suaminya erat, enggan untuk melepasnya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Suaminya yang bisa menenangkannya, untuk hari ini Lily akan benar-benar menikmatinya, karena besok dirinya akan berjauhan dengan sang suami, dalam waktu yang cukup lama, seminggu, tapi itu bagi Lily rasanya seperti bertahun-tahun.


__ADS_2