
Lily duduk dengan melipat kedua tangan di atas meja, bersiap untuk mendengar penjelasan ayahnya.
"Pertama ayah tidak pernah bilang akan menjodohkan kakakmu."
Lily mengernyit dahi bingung.
"Ayah dan teman ayah hanya berusaha mendekatkan mereka bukan menjodohkan, syukur kalau cocok, kalau tidak cocok kami tidak akan memaksa. Kedua, dia dulu teman masa kecil kakakmu, dan Al bilang jika tidak cocok tidak ada salahnya jika mereka berteman. Ketiga, ayah tidak mau Al terus tersiksa dengan perasaannya, Lia bahkan sudah dilamar kekasihnya bukan, tinggal menunggu lamaran resmi saja dari keluarga Devan. Ayah hanya ingin Al mencoba membuka hatinya saja untuk orang lain."
"Lalu kapan mereka akan bertemu, bukannya Kak Al…"
"Mereka sudah bertemu, Kania tidak sengaja bertemu Kak Al disana."
"Jika itu memang sudah menjadi keputusan Kak Al, Ale akan mendukungnya."
Alan tersenyum, meraih dan menggenggam tangan Lily.
"Dan yang akan ayah sampaikan kali ini pasti akan membuatmu senang, kakakmu akan kembali dan melanjutkan studi spesialis disini."
"Benar yah?"
Alan mengangguk, membuat putrinya tidak berhenti tersenyum.
"Berarti kita akan berkumpul lagi?"
"Iya sayang."
"Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu."
*
*
"Senang banget sepertinya?" Dahlia menatap adiknya yang sedari tadi terus saja tersenyum.
Kini Dahlia datang lagi ke rumah adiknya, untuk memberikan kado ulang tahun untuk Aulia yang kemarin belum sempat diberikan karena kesibukannya yang akhirnya bisa datang hari ini. Dan sekarang keduanya sedang mengobrol di taman. Jason ada di ruang kerjanya, sepulangnya dari kantor, suami Lily itu kembali berkutat pada pekerjaannya yang belum selesai dan sengaja dia bawa ke rumah, berpikir jika di rumah bisa ditemani sang istri, sedangkan Cinta dan Aulia sudah satu jam pergi diajak kakek neneknya.
"Sepertinya benar ada yang membuat adikku ini begitu senang."
Lily mengangguk dengan antusias.
"Ada apa?" Dahlia kemudian mendekat dan berbisik.
__ADS_1
"Apa kakak akan mempunyai keponakan lagi?"
"Bukan karena itu, kalau itu belum, dan semoga saja segera."
Dahlia mengangguk, "Lalu kenapa?"
"Kak Al akan kembali dan kita semua akan berkumpul lagi."
"Wah benarkah? Pantas saja dari tadi kamu senyum-senyum terus."
"Hehehe iya, habisnya sudah lama sekali kan kita berpisah, hmm sudah 7 atau 8 tahun, aku kan kangen juga, apalagi Kak Al pulang hanya berapa kali saja. Selama Kak Al menjalani koas dia kan tidak pernah pulang lagi."
"Oh ya, kakak bagaimana? Akan bertunangan dulu atau langsung menikah?"
"Hmm kakak belum tahu, orang tua Devan juga belum datang melamar kakak," ucap Dahlia lirih.
"Tapi mereka tahu, jika Kak Devan sudah melamar kakak?"
Dahlia mengangguk lesu. Dan Lily memperhatikan gelagat kakaknya itu, tapi tidak enak untuk bertanya.
"Mungkin orang tua Kak Devan sedang sibuk."
"Iya kau benar, orang kaya biasanya banyak hal yang harus dikerjakan bukan?" Dahlia kini tersenyum pada adiknya.
Dahlia kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu ia pun berpamitan.
"Sudah sore, kakak mau pulang."
"Tidak nunggu Uli dulu, bentar lagi mungkin akan kembali."
"Hmm nanti kapan-kapan kakak kesini lagi. Oh ya, Ini buat ponakan kakak," Dahlia mengambil sesuatu dalam tas nya memberikan pada Lily.
"Makasih ya kak," ucap Lily tulus.
"Sama-sama, dan sampaikan salam dariku untuk paman dan bibi, juga anak-anak.
"Baiklah, nanti pasti akan aku sampaikan."
Lily ikut bangkit dan mengantarkan Dahlia sampai ke depan. Dahlia masuk ke mobilnya menurunkan kaca dan melambaikan tangan yang tentunya dibalas oleh Lily.
Begitu melihat mobil kakaknya berlalu pergi, Lily kembali masuk. Bukan menuju ke kamarnya tapi ruang kerja suaminya.
__ADS_1
"Belum selesai?" Lily mendekat dan berdiri di belakang Jason.
"Hmm bentar lagi sayang," jawab Jason tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Cinta sama Aulia belum pulang loh." Kata Lily yang kini sudah melingkarkan kedua tangan di leher suaminya.
"Hmm mungkin bentar lagi."
"Masih lama, tadi ayah mengirim pesan, katanya pulangnya agak malaman, Cinta dan Aulia sangat senang dan belum mau pulang."
"Ya sudah tungguin aja."
Lily yang kesal menggigit bahu suaminya.
"Akh sakit sayang! Kamu kayak vampire aja main gigit-gigit."
"Dasar tidak peka, kalau tidak mau ya sudah, aku mau tidur." Lily menghentak-hentakkan kakinya lalu berlalu pergi dari sana menuju kamarnya.
"Kok malah dia yang marah," Jason mengernyitkan dahi bingung menatap pintu yang tertutup cukup keras hingga mengejutkannya, setelah itu, dirinya kembali fokus pada pekerjaannya yang sebentar lagi akan selesai. Jason memang harus menyelesaikannya malam ini juga karena besok pagi akan dia serahkan pada Stevano.
Jason meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sambil menatap jam yang tertempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11. Dia kemudian menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya yang sudah berjam-jam. Dirinya melangkah keluar dan melihat ayah dan ibu mertuanya yang baru sampai di lantai atas dengan masing-masing menggendong anak-anaknya.
Jason dengan segera menghampiri, lalu mengambil alih Aulia dulu yang tertidur pulas dalam gendongan Dea. Dea kemudian membuka pintu, agar kedua pria itu bisa masuk dan membaringkan kedua cucunya di atas ranjang.
"Ale sudah tidur?" Tanya Alan begitu kini keduanya melangkah keluar.
"Sepertinya sudah yah."
"Gagal lagi dong," kata Alan yang seakan meledek menantunya itu.
"Hah?" Jason tampaknya masih merespon ucapan ayah mertuanya itu.
"Belum dapat jatah tuh Dee, makanya lola," Alan berucap pada Dea, melingkarkan tangannya pada wanita yang dicintainya itu lalu melangkah pergi meninggalkan Jason yang kini berbalik dan buru-buru menuju kamarnya.
Alan dan Dea tertawa begitu menoleh melihat Jason yang hampir saja terpeleset.
Jason masuk dan menghela nafas berat saat kini pandangannya tertuju pada Lily yang tertidur pulas.
"Telat deh," gumam Jason yang kemudian berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai, kemarin malam gagal, karena anaknya yang belum mau tidur, dan sekarang pun juga sama, dan yang lebih parahnya itu karena dirinya sendiri yang tidak peka padahal dari tadi istrinya terus memberi dirinya kode.
"Jason...Jason….kau sih tidak peka, padahal istrimu sudah ngode sedari tadi," monolog Jason sebelum akhirnya pria itu memasuki kamar mandi dan menutup pintu.
__ADS_1
Sedangkan Lily membuka matanya begitu mendengar bunyi debuman, rupanya dari tadi dia hanya berpura-pura tidur saja, sedikit memberi pelajaran pada Jason.
"Rasain tuh balasannya!" Gumam Lily yang akhirnya kembali memejamkan matanya saat merasa jika saat ini, dia yakin suaminya sudah selesai dengan urusannya dan bahkan kini sedang melangkah dekat ke arahnya.