Please Love Me

Please Love Me
Bab 209


__ADS_3

"Tidak Liora, aku tidak akan menuruti apa yang kau perintahkan, aku akan menunggumu, sampai kapanpun."


Liora menoleh dan menatap Jack, "Jack!"


"Kamu tidak berhak melarangku Liora, karena perasaanku adalah milikku," Jack bangun dari duduknya dan menghampiri Liora.


"Tidak Jack!"


"Sstt!" Jack menaruh jari telunjuk di bibir Liora, kemudian pria itu meraih tangan Liora dan menggenggamnya, "Ayo pulang!"


Jack pun menggandeng tangan Liora keluar menuju mobilnya.


"Jack!"


"Jangan bahas hal itu lagi Liora, aku sudah memutuskan dan aku tidak akan merubah keputusanku," kata Jack tidak bisa diganggu gugat.


"Jack!"


"Kita mau kemana?" Tanya Jack mengalihkan pembicaraan.


Liora menghela nafasnya menghadapi sifat keras kepala Jack, hingga dirinya pun mengalah dan tidak membahas hal itu lagi.


"Ke rumah ibu," jawab Liora dan Jack pun mengangguk.


"Baiklah, oh ya aku dengar Nyonya Dea akan menikah dengan dokter Alan apa itu benar?" Tanya Jack yang merasa canggung dengan suasana mereka tadi.


"Kau dengar darimana? Tidak mungkin jika Kak Jason yang mengatakannya, ayo cepat katakan siapa yang memberitahumu?" Liora menatap Jack dengan tatapan menyelidik.


"Hmm itu…"


Liora menatap Jack masih menunggu jawaban pria itu.


Jack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Cepat Jack katakan!" Ucap Liora lagi yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Jack.


"Hmm itu aku tahu dari Nyonya Dea, iya benar Nyonya Dea yang memberitahuku," jawab Jack beralasan agar Liora percaya, karena tidak mungkin Jack mengatakan pada Liora bahwa belakangan ini Jack selalu memantau Liora dan Jack bahkan meminta tolong kepada Jason untuk melaporkan apa yang dilakukan Liora ketika di rumahnya. Awalnya Jason menolak, tapi akhirnya Jack pun berhasil membujuk Jason, bukan membujuk lagi, tapi tepatnya mengancam Jason, hingga pria itu akhirnya menyetujuinya.

__ADS_1


"Benarkah? Tapi kenapa ibu mengatakan padamu tapi tidak padaku?" Tanya Liora heran.


"Entahlah," ucap Jack mengedikan bahunya acuh.


"Ya sudah tidak usah dibahas lagi," kata Liora kemudian.


"Aku juga tidak meminta membahasnya," gumam Jack.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak, kamu salah dengar mungkin," jawab Jack tidak mau mengaku.


Liora manggut-manggut, "Mungkin," katanya kemudian mengambil ponselnya, mengecek apa ada pesan dari Ronald, dan Liora kecewa karena tidak ada satupun pesan yang masuk.


"Kenapa?" Tanya Jack yang menoleh dan melihat perubahan pada wajah Liora.


"Hah, oh tidak apa-apa, oh ya Jack aku mau tidur ya, nanti kalau sudah sampai bangunkan aku, soalnya aku ngantuk sekali," jawab Liora dan untungnya Jack langsung percaya.


"Ya tidurlah nanti aku bangunkan," ucap Jack tersenyum.


Jack menggeleng dan tersenyum, mempercepat lajunya agar segera sampai.


*


*


"Kenapa melamun?" Jason melingkarkan kedua tangannya di perut Lily yang kini tengah berdiri di dekat jendela kamarnya.


"Aku sudah mencoba menghubungi Kak Al, tapi nomor Kak Al sudah tidak bisa dihubungi," jawab Lily tanpa menoleh.


"Apa Kak Al tidak bisa meluangkan waktunya sebentar untuk hadir di pernikahan Ayah, sayang aku tahu Ayah bilang tidak apa-apa tanpa kehadiran Kak Al, tapi aku tahu dalam hati ayah dia ingin anak-anaknya ada di sampingnya di hari bahagianya."


"Kamu tenang saja, aku akan berusaha mencari tahu tentang Kak Al sebisa mungkin.


Lily mengangguk, "Tapi tidak perlu terlalu memaksa, jika tidak bisa ya sudah, oh ya kamu tidak berangkat ke kantor?"  Ucapnya melihat suaminya yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.


"Tidak, aku ingin menemanimu seharian," jawab Jason semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku setuju, aku juga ingin sama-sama kamu hari ini, dan awas saja jika siang nanti kamu dihubungi untuk ke kantor, aku tidak akan membiarkan kamu pergi," Lily berbalik dan memeluk suaminya.


"Iya, iya walaupun nanti Tuan Muda sendiri yang menghubungiku, aku tidak akan mau berangkat," jawab Jason membalas pelukan istrinya, dan keduanya pun tersenyum.


***


Beberapa hari berlalu, dan kini sudah tibalah di hari pernikahan Alan dan Dea. Keduanya sudah melakukan ijab dan kini telah sah menjadi suami istri.


Alan dan Dea kini tengah menyambut beberapa tamu yang hadir untuk memberikan selamat serta doa pada pernikahan mereka, senyuman tidak luntur di sudut bibir Dea dan Alan.


"Kenapa?" Tanya Dea melihat pria yang sekarang menjadi suaminya, tampak murung begitu para tamu sudah berlalu dan kini hanya tinggal mereka berdua.


Alan menatap Dea dan menggeleng, "Tidak apa-apa," jawabnya tersenyum.


"Alan apa kamu tidak mau jujur denganku? Apa ada sesuatu yang membuatmu murung seperti itu? Kita sudah menjadi pasangan, dan aku mau kita saling terbuka dan tidak menutupi apapun,"  kata Dea menatap intens pria yang berdiri di sampingnya.


"Maafkan aku Dee, seharusnya aku berpikiran seperti apa yang kamu pikirkan, seharusnya aku menjadikan pernikahanku dulu sebagai pelajaran, dulu aku kehilangannya karena kita tidak saling jujur, aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji mulai saat ini aku akan selalu mengatakan apa yang aku rasakan padamu," kata Alan menggenggam tangan Dea dan mengecupnya.


"Ya aku percaya kamu akan menepati janjimu, sekarang katakan apa yang membuatmu jadi murung seperti itu?" Tanya Dea lagi, walaupun sebenarnya Dea sudah bisa menebak apa yang suaminya pikirkan, tapi Dea ingin mendengarnya sendiri dari suaminya, Dea ingin Alan sadar bahwa hanya diam dan memendamnya sendiri, itu tidak akan membuat suasana hatinya berubah, itu tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.


"Aku hanya sedih karena Al tidak bisa hadir di hari bahagia ini, padahal aku sangat ingin kedua anakku hadir disini menemaniku," jawab Alan akhirnya.


"Bukannya kamu bilang Al sedang memperjuangkan cintanya sambil belajar, jadi biarkan dia, aku yakin Al juga dari sana mendoakan kita," kata Dea menepuk-nepuk pelan punggung tangan Alan.


"Iya kau benar, seharusnya aku mendukung putraku."


"Kau sudah mendukung putra kita, dengan mengijinkannya pergi artinya kau mendukungnya penuh."


Alan menatap Dea dengan senyuman lebar.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Dea yang merasa terintimidasi dengan tatapan Alan saat ini.


"Aku senang saat kamu mengatakan bahwa putraku adalah putra kita," jawab Alan yang tidak menutupi bahwa dia merasa senang saat ini.


"Kan memang benar, kita sudah menikah jadi anak-anakmu adalah anak-anakku, apa salah jika aku menyebut Al adalah putra kita?"


"Tentu saja tidak salah, aku justru sangat senang," ucap Alan menarik pinggang Dea. Alan mendekatkan wajahnya ke wajah Dea, tapi Alan harus gagal saat dia mendengar suara deheman seseorang yang kini tengah berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2