
"Sayang kenapa?" Jason langsung kembali membuka pintu dengan panik saat mendengar teriakan istrinya.
Begitu membuka pintu, Jason kesal saat melihat istrinya yang justru tersenyum ke arahnya. Wajahnya yang tadi panik, kini berubah menjadi datar, saat tahu bahwa istrinya hanya mengerjainya saja.
Berhasil, Lily berhasil membuat Suaminya terkejut, dan berpikir sesuatu terjadi pada istrinya.
"Kamu tahu aku tadi panik setengah mati, saat mendengarmu berteriak, tapi ternyata kamu hanya mengerjaiku saja," ketus Jason.
"Aku tidak mengerjaimu, aku hanya bercanda tadi," jawab Lily menyangkal.
"Sama saja," ucap Jason singkat dan terus memandangi istrinya.
"Tidak sayang, keduanya berbeda," jawab Lily.
Jason langsung masuk kembali ke kamar mandi, setidaknya dirinya lega karena istrinya baik-baik saja dan Jason senang karena akhirnya Istrinya kembali tersenyum, melupakan sejenak masalah yang terjadi kemarin. Istrinya sudah kembali ke sikapnya yang jahil.
Lily mengikuti Suaminya, bukan tidak tahu, Lily jelas sangat tahu jika saat ini pasti suaminya kesal padanya, tapi Lily memang sengaja melakukannya. Ia ingin menjahili suaminya yang berani tidak menuruti keinginannya.
Begitu Lily masuk, Lily langsung memekik kencang saat tiba-tiba tubuhnya melayang, Jason menggendongnya dan membawa Lily ke dalam bathup.
"Sayang turunin aku!" Teriak Lily memberontak dalam gendongan Jason.
"Tidak, kamu yang memaksaku untuk melakukan ini, jadi sebaiknya kamu diam dan nikmati, aku akan menyenangkanmu sayang," ucap Jason yang lupa jika saat ini mereka harus buru-buru ke rumah sakit selagi Vega tidak ada, dan Ayah mertuanya akan masuk ruang operasi, hingga bisa dipastikan mereka berdua tidak tahu jika Lily dan Jason akan menjenguk Dahlia.
***
"Kamu mau ngapain?" Tanya Al yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Dahlia dengan menenteng paper bag yang bisa dipastikan jika isinya makanan dilihat dari tulisan yang ada.
Al meletakkan paper bag itu di atas meja, kemudian segera menghampiri Dahlia yang kesusahan untuk mengambil air minum.
"Aku mau minum," jawab Dahlia dengan suara lemah.
__ADS_1
Al dengan sigap mengambilkan gelas berisi air putih dan memberikannya pada gadis yang sedang dalam masa perawatan.
"Ibu kamu mana?" Tanya Al saat tidak mendapati Vega di ruang rawat itu, padahal biasanya Vega tidak pernah meninggalkan Putrinya sendiri walau hanya sekejap, jika dia pergi, dia akan menitipkan Dahlia pada perawat.
"Aku menyuruhnya pulang, kasihan Ibu sudah menungguku dari kemarin dan belum istirahat sama sekali, dan sebaiknya kamu juga pulang, kamu juga belum istirahat kan?" Tanya Dahlia yang kini menatap Al, dan sangat jelas kelihatan jika Al kurang istirahat, dilihat dari matanya.
"Hmm, nanti aku juga akan pulang, kau tidak perlu mengusirku seperti itu," jawab Al datar, tidak suka saat mendengar secara tidak langsung Dahlia mengusirnya.
"Oh bagaimana pertemuannya? Kamu dan Ayah kamu jadi bertemu dan berbincang dengan Ibu?" Dahlia bertanya karena memang dirinya penasaran bagaimana pertemuannya kemarin.
Al tampak berfikir mencari alasan yang bagus agar Dahlia tidak tahu jika kemarin ada masalah yang membuat pertemuan itu dibatalkan, "Tidak, Ayah sibuk, jadi ya harus diundur lagi," Al sengaja menutupi hal itu, bahkan tidak tanggung-tanggung Al memohon pada mereka yang tahu, untuk tidak menceritakan hal ini dulu pada Dahlia, karena Al tidak ingin membuat Dahlia banyak pikiran.
"Hmm apa Lily tahu jika aku dirawat?" Tanya Dahlia ragu.
"Iya dia kemarin kemari, tapi kamu tidak bangun-bangun, akhirnya aku menyuruhnya pulang untuk istirahat, dan tadi aku sudah mengabari kalau kamu sudah sadarkan diri, dan dia bilang akan kemari bersama Suaminya, mungkin sebentar lagi mereka sampai," jawab Al sedikit berbohong, karena tidak mungkin Al mengatakan pada Dahlia, bahwa adiknya telah diusir oleh Ibu gadis itu.
Dahlia mengangguk mengerti, "Terima kasih Kak," ucap Dahlia.
"Untuk semuanya, aku dengar dari Ibu, Kak Al yang membawaku ke rumah sakit, dan menungguiku dari kemarin saat aku tiba disini, hingga saat ini, terima kasih karena menyuruh Lily untuk pulang dan istirahat, karena aku tahu, Lily tidak akan mudah untuk mau pulang begitu saja, dia pasti akan memilih untuk menjagaku, jika tidak ada alasan dirinya untuk pulang, dan aku tahu alasannya pasti karena Kak Al dan Tuan Jason sudah membujuknya dengan susah payah," kata Dahlia tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, karena hal itu memang yang harus aku lakukan," jawab Al mengalihkan pandangannya, mencoba menghindar kontak mata dengan Dahlia.
Tak lama seorang dokter datang denganĀ beberapa perawat, Al menyingkir membiarkan dokter memeriksa kondisi Dahlia.
"Kondisinya cukup baik, besok sore pasien sudah bisa pulang," kata dokter entah pada siapa.
Mendengar perkataan dokter Dahlia dan Al pun mengangguk.
"Baiklah, Tuan, Nyonya, kami permisi dulu," pamit Dokter itu kemudian meninggalkan Dahlia dan Al.
"Terima kasih Dok," ucap Al dan Dahlia bersamaan.
__ADS_1
.
.
"Tuhkan, ini sudah satu jam lebih, ini sudah terlambat, bagaimana kalau Ibu sudah datang, kamu sih," Lily menyalahkan suaminya, wajahnya sudah cemberut dari tadi, karena setelah satu kali melakukan, Jason justru memintanya lagi," hingga membuat Lily sedikit kesal, bukan kesal karena permintaan Suaminya, tapi kesal karena dirinya pasti akan terlambat menjenguk Kakaknya, karena takut Ibunya yang tadi pergi sudah kembali lagi ke rumah sakit.
"Kamu tenang saja, aku tadi sudah menghubungi Al dan dia bilang jika, Ibumu belum kembali, jadi jangan cemberut lagi sayang, kamu harus bergegas agar bisa secepatnya kesana, jika kamu terlalu lama, aku khawatir aku tidak bisa untuk menahannya lagi," kata Jason dengan senyum yang mematikan membuat Lily cepat-cepat memakai pakaiannya.
Jason yang melihat istrinya begitu buru-buru, sontak saja tertawa, istrinya benar-benar lucu.
"Jangan tertawa!" Ketus Lily yang mendengar tawa menggelegar dari pria yang kini sedang mengancingkan kemeja yang tadi di pakainya.
"Kamu lucu sayang jika seperti ini," jawab Jason tanpa merasa bersalah.
"Memangnya aku badut, kamu bilang lucu," Lily kini berjalan keluar dari walk in closet dan duduk di depan meja rias.
"Kok aku ditinggalin sih," protes Jason saat melihat istrinya sudah meninggalkannya.
"Kamu lama," jawab Lily sambil mempoles wajahnya dengan make up yang dibelinya sebelum menikah.
"Yakin aku yang lama? Bukannya kamu? Lihatlah, bahkan aku sekarang sudah siap, tapi kamu malah masih sibuk berdandan," jawab Jason.
Lily diam dan berfikir, "Benar juga ya," ucapnya dalam hati.
"Benarkan apa yang aku katakan," kata Jason yang seakan mengerti apa yang istrinya katakan dalam hati.
Lily memicingkan matanya curiga, menatap suaminya.
"Aku beritahukan satu rahasia, aku bisa membaca pikiranmu" bisik Jason di telinga Lily, disertai senyum smirknya.
Lily menatap Jason lama, dirinya tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Suaminya tadi.
__ADS_1