Please Love Me

Please Love Me
Bab 277


__ADS_3

Al yang awalnya akan langsung menghampiri Lily ke kamarnya, nyatanya pria itu, kini justru masuk ke kamar pria itu sendiri.


Al melihat kamarnya sudah tampak rapi, dan baju-baju yang tadi dikeluarkannya, Al buru-buru berjalan ke arah dimana dia tadi meletakkan koper. Kopernya kini sudah dalam keadaan tertutup dan berdiri. Al kemudian segera menuju ke lemari, baju-bajunya tersusun rapi di sana.


"Apa Ale tadi…" Al langsung buru-buru berjalan keluar  masuk ke dalam kamar Lily begitu melihat pintu itu terbuka lebar. Al melihat Lily yang rebahan di atas ranjang sambil menepuk-nepuk Cinta, terlihat jika adiknya itu sedang menidurkan Cinta.


Al kemudian memilih duduk di sofa, membiarkan keponakannya tidur lebih dulu, baru setelah itu, Al akan berbicara dengan Lily, Al juga akan mengatakan tentang rencana kepergiannya lusa. Walaupun Lily mungkin sedih, tapi Al harus memberitahunya.


Lily bangun, dia begitu terkejut saat melihat Al disana. Tampaknya dari gelagat Lily, wanita itu sama sekali tidak tahu kedatangan Al ke kamarnya.


"Ale ada yang ingin kakak katakan!" 


Lily duduk diam, lalu gadis itu melangkah keluar, Al menyusul dan menahan tangannya.


"Ale!"


Lily menghela nafas dan menatap Al.


"Kita bicara, tapi tidak disini, aku tidak mau Cinta bangun dari tidur siangnya."


Setelah Lily mengatakan itu, wanita itu pun melangkah keluar, mencari tempat yang sekiranya enak buat berbincang.


Lily membuka pintu balkon keluar dan melipat kedua tangan di depan dada menghadap pembatas melihat pemandangan siang itu dari atas.


"Katakan, apa yang ingin kakak katakan!"


Al menarik tangan Lily dan meminta adiknya itu untuk duduk di kursi yang memang ada di sana.


"Kita duduk dulu!"


Lily hanya bisa pasrah dan duduk di samping kakaknya.


"Maafkan Kakak," ucap Al memulai pembicaraan.


"Maaf untuk apa?" Lily berpura-pura tidak mengerti maksud perminta maafan kakaknya.


"Kakak tahu, kamu pasti mengerti apa yang kakak maksud, maaf, bukan maksud kakak untuk tidak jujur padamu, hanya saja kakak tidak ingin membuatmu sedih. Kakak mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Ale, kakak harus kembali, kakak tidak bisa pergi terlalu lama. Ada banyak sesuatu yang harus kakak kerjakan disana."


Al meraih tangan Lily dan menggenggamnya, "Kakak berharap kamu mengerti, kakak janji setelah semua selesai, kakak akan kembali dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Al buru-buru menghapus air mata yang tiba-tiba menetes di wajah cantik adiknya.


"Jangan menangis, kakak mohon!"


Lily langsung berhambur ke pelukan Al.

__ADS_1


"Tapi aku baru aja sama Kak Al sebentar, apa tidak bisa diundur?"


Al membelai lembut rambut Lily dan berkata.


"Kakak berangkat lusa, kita masih bisa bersama satu hari lagi. Kamu mau besok kita jalan-jalan?"


"Baiklah, tapi kita harus jalan-jalan seharian penuh," Lily melepas pelukan dan menatap kakaknya.


"Memangnya kamu tidak lelah? Dan lagi, kakak takut terjadi sesuatu sama keponakan kakak jika sampai kamu kelelahan. Tapi jika itu memang mau kamu, baiklah, kakak akan turuti apapun yang kamu mau.


"Sungguh?"


"Hmm. Bagaimana sudah tidak sedih lagi kan?"


Lily mengangguk kemudian kembali memeluk Al.


"Boleh kakak mengelus perut kamu, kakak ingin menyapa keponakan kakak yang satu ini," ucap Al penuh harap melepaskan Lily dari pelukannya.


"Tentu saja," Lily kini menyentuh perutnya.


"Sayang, ini paman Al, paman katanya ingin menyapa kamu," ucapnya lalu membiarkan Al menyentuh dan mengelus lembut perutnya sambil pria itu berbicara dengan janin yang ada di perut Lily.


"Rupanya kalian ada disini," suara Alan mengejutkan kakak beradik itu yang langsung menoleh ke sumber suara.


Alan pun menurut dan duduk di antara putra dan putrinya merangkul keduanya dan menatapnya bergantian dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya.


"Ingin rasanya ayah selalu seperti ini," Alan mencium kening Al dan Lily bergantian.


"Anak-anak ayah sekarang sudah besar, rasanya baru kemarin Ayah mengajari Al bermain sepeda, dan mengganti popok putri ayah yang sewaktu bayi."


Alan tersenyum mengingat-ingat masa itu, sungguh itulah yang paling dirindukan Alan. 


"Ayah," Ucap Lily dan Al bersamaan kemudian memeluk pria paruh baya itu.


"Oh ya kalian sedang bicara apa tadi? sepertinya serius sekali," Alan melepas pelukan dan menatap putra dan putrinya bergantian.


Al dan Lily saling tatap kemudian menggeleng bersama, dan keduanya justru kembali memeluk Alan.


"Ternyata kamu disini sayang?" Jason berjalan dan duduk di samping istrinya.


"Kamu sudah pulang?" Lily melepas pelukan ayahnya dan menoleh melihat Jason.


"Hmm baru saja, aku tanya ibu katanya kamu ada di atas, aku nyari kamu di kamar tapi tidak ada, di kamar Cinta juga tidak ada. Dan tadi aku dengar seperti ada yang berbincang ternyata kalian semua berkumpul disini."

__ADS_1


"Hmm iya, kami sedang bernostalgia, oh ya kamu sudah makan belum?"


Jason menggeleng membuat Lily langsung berdiri dan menarik tangan Jason untuk ikut dengannya.


"Ayah, Kak Al, Ale tinggal dulu, Ale mau menemani suami Ale makan," pamit Lily yang langsung mendapatkan anggukan dari Al dan juga Alan, meninggalkan kedua pria itu melanjutkan obrolannya.


"Kenapa belum makan?" Tanya Lily yang kini berjalan saling bertautan tangan dengan suaminya.


"Karena aku ingin makan denganmu."


Lily mengerucutkan bibirnya, "Lalu bagaimana jika ternyata aku sudah makan?" Wanita itu berhenti dan menatap Jason.


"Ya gampang, kamu makan lagi aja."


Plak


Lily menepuk lengan Jason, "Kamu ini, sengaja ingin bikin aku gendut?"


"Yang penting walaupun kamu gendut, aku tetap cinta sama kamu," Jason mengecup bibir Lily sekilas, lalu kembali menautkan tangan dan mengajak istrinya untuk turun.


Tapi sebelum itu, Jason masuk ke dalam kamar putrinya memastikan jika tidur putrinya masih aman dan tentunya nyaman.


"Sudah lama Cinta tidur?"


"Belum lama, sekitar lima belas menitan yang lalu, hampir setengah hari jalan-jalan sama ibu, begitu pulang aku mengajaknya tidur siang dan dia langsung tidur, mungkin kelelahan."


Jason menunduk dan mencium kening Cinta, barulah mereka pergi dari sana menuju dapur.


"Kalian lihat ayah? Tadi ayah bilang nyariin kamu?" Tanya Dea yang juga ternyata ada di dapur.


"Ayah di atas sedang mengobrol bersama  Kak Al," jawab Lily sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Oh ya sudah," Dea kemudian ikut duduk tepat di seberang Lily dan Jason.


"Lily kira ibu mau menyusul ayah."


"Hmm tidak, hanya bertanya saja. Kalian makanlah, abaikan saja Ibu, Ibu hanya ingin duduk saja."


"Ibu juga mau makan?" Tanya Lily menatap sang ibu.


"Tidak, Ibu sudah makan, baru saja tadi," jawab Dea setelah meneguk minumannya.


Lily mengangguk kemudian mulai menyantap makanannya dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2