Please Love Me

Please Love Me
Part 86


__ADS_3

"Apa ini Kak?" Tanya Lily setelah dia mengambil apa yang tadi Kakaknya berikan.


"Buka saja!" Perintah Al pada adiknya.


Lily pun membukanya, Jason menatap penuh rasa ingin tahu, dirinya juga benar--benar penasaran apa isi di dalamnya.


"Tiket?" Tanya Lily memastikan.


"Kak, It's my dream," kata Lily menatap Kakaknya tak percaya, Kakaknya memberinya tiket ke tempat yang sangat dia  kunjungi, tempat impiannya. Tanpa banyak kata terucap Lily langsung bangun dari duduknya, menghampiri Al dan langsung memeluk pria itu. Bahkan saat ini Lily sudah menangis, dirinya benar-benar bahagia, dirinya tidak menyangka jika akan diberi kesempatan pergi ke tempat yang diinginkannya, mimpinya menjadi kenyataan dan itu semua diberikan oleh Pria yang bau dia tahu Kakak kandungnya.


"Terima kasih Kak," ucap Lily memeluk Kakaknya erat.


"Apa kamu senang?" Tanya Al sedikit menunduk agar  bisa menatap wajah adiknya.


"Hmm sangat senang Kak, terima kasih," Lily tersenyum melepaskan pelukan Kakaknya.


Tapi tiba-tiba wajah Lily berubah, Lily tampak murung.


"Kenapa sepertinya kamu tidak senang? Lihatlah wajahmu ditekuk seperti ini!" Kata Al yang melihat perubahan pada ekspresi wajah adiknya.


"Mmm Kak maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa pergi," ucap Lily menyesal.


Semua orang mengernyitkan dahi, saat Lily mengatakan itu.


"Kenapa kamu tidak bisa pergi?" Tanya Al heran kenapa Lily bilang tidak bisa pergi padahal dia tinggal pergi saja bersama suaminya, karena Al sudah mengurus semuanya.


"Tapi jatah cuti ku tinggal sehari lagi, tidak mungkin jika aku minta libur lagi, apalagi aku belum lama bekerja disana," ucap Lily lirih.


Al menatap Jason, "Ya kau bicara saja sama Suamimu itu, minta libur lagi, lagian kan kalian akan pergi bersama, tidak mungkin Suamimu itu menyia-nyiakan kesempatan emas ini," ucapnya pada sang adik.


"Kak kenapa aku harus bicara sama suamiku, Suamiku juga sudah mendengarnya," kata Lily melepaskan pelukan Al dan menatap Suaminya. Aku tahu kita pergi bersama, tapi jika bosku tidak memberikan izin ya tetap saja tidak bisa pergi," kesal Lily karena Kakaknya itu justru menyuruh Lily membicarakan pada Suaminya padahal suaminya itu pasti sudah mendengar sendiri perkataan Al.


"Ya makanya itu kamu minta libur lagi sama suamimu," ucap Al yang menebak jika adiknya itu tidak tahu maksud perkataannya.


"Kita akan pergi, masalah tentang kamu yang minta izin lagi, aku pastikan kamu akan mendapatkannya," Jason menyela obrolan Kakak beradik itu.

__ADS_1


"Aku tidak mau bolos kerja, bagaimana jika nantinya aku dipecat," kata Lily yang belum paham pembicaraan kedua pria itu.


"Kamu jangan khawatir, kamu tidak akan dipecat, tidak akan ada yang berani memecatmu," jawab Jason pada perkataan istrinya.


"Benarkah? Kenapa bisa?" Tanya Lily penasaran saat suaminya mengatakan tidak ada yang berani memecatnya.


"Jangan bilang kamu belum menceritakan semuanya?" Tanya Al memicingkan matanya.


Mendengar hal itu Alan sekarang sedikit paham tentang apa yang dibicarakan anak sulung dan menantunya itu.


"Apa maksud Kak Al?" Lily menatap Kakaknya itu menangkap maksud pertanyaan Kakaknya tadi.


"Jawab pertanyaan adikku!" Perintah Al yang melempar pertanyaan adiknya ke Jason, membiarkan pria itu agar menjawabnya.


"Nanti aku jelaskan," jawab Jason yang ingin menjelaskan dengan istrinya hanya berdua.


Lily terlihat bingung menatap mereka satu persatu, karena sepertinya hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa.


"Sudah jangan dipikirkan, aku janji akan jelaskan dan ceritakan nanti, bersiap-siaplah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Jason menghampiri Lily.


"Hanya sama Ayah saja kau berpamitan, dasar Adik Ipar tidak tahu diri, ada aku Kakak Iparmu, ulangi pamit yang benar!" Kata Al sengaja ingin mengerjai pria dingin yang berstatus Adik Iparnya.


Jason mendengus sebal mendengar perkataan pria yang jauh lebih muda darinya itu.


"Alvaro aku dan istriku permisi dulu," kata Jason menekankan kalimat istri pada Kakak Iparnya.


"Ulangi lagi!" Perintah Al yang kemudian duduk bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Alan lama-lama malas juga melihat dan mendengar dua pria muda yang sekarang sudah mirip tokoh kartun kucing dan tikus yang jarang sekali bisa akur.


"Ayah ke kamar dulu," Sela Alan pada Anak-anak dan menantunya, kepalanya berdenyut mendengar keributan yang dibuat mereka. Dan Alan kesal saat ucapannya tidak ditanggapi oleh salah satu dari mereka dan justru mereka kembali berdebat seperti tadi.


Alan pun dengan perasaan dongkol langsung saja melesat dan hilang di balik pintu dekat ruang tamu.


"Cepat ulangi! Mau tunggu apalagi," perintah Al lagi dengan senyum menyeringai saat menurutnya Jason belum benar dalam berpamitan padanya.

__ADS_1


Jason menghela nafas kasar, "Kak Al, saya sama Lily pamit ke kamar dulu," kata Jason dibuat dengan suara selembut mungkin, entah dibuat-buat atau dirinya memang sudah lelah menghadapi Al.


"Nah itu baru benar, kenapa tidak sedari tadi sih, tidak tahu apa jika aku lelah" gerutu Al kemudian meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya berniat ingin membersihkan diri.


"Bukan urusanku kau lelah atau tidak, kau pikir aku tidak lelah apa, kau sengaja bukan ingin mengerjaiku," ucap Jason dingin.


"Kau pikir aku tidak tahu, jika kau sebenarnya juga berniat mengerjaiku," kata Al dengan tatapan tajamnya.


"Si*al kenapa dia bisa tahu," gumam Jason dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Kau berpikir kenapa aku bisa tahu kan?" Tebak Al yang ternyata benar.


"Ayo sayang, biarkan Kakakmu itu menjawab sendiri, pertanyaan yang sedari tadi  terus dirinya lontarkan," Jason menggenggam tangan istrinya mengajaknya pergi dari sana.


"Hai mau kemana kau?" Teriak Al yang melihat Jason membawa adiknya pergi begitu saja.


Jason hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh ke arah belakang.


"Dasar Adik Ipar kurang ajar," gerutu Al melihat kepergian Jason dan Adiknya.


"Tuhkan sayang Kak Al jadi marah, kamu sih.." Lily segera melepaskan tangannya yang digenggam Jason kemudian berjalan lebih dulu masuk ke kamarnya meninggalkan Suaminya.


"Sayang tunggu!" Jason memanggil-manggil istrinya tapi tidak dihiraukannya, justru istrinya berjalan semakin cepat.


Lily kemudian langsung masuk ke kamarnya, dan duduk di atas ranjang mengambil ponsel dan memainkannya.


"Sayang, ayo bersiaplah! Kenapa kamu malah duduk disitu?" Ucap Jason saat masuk ke dalam kamar  dan justru menemui istrinya yang duduk dengan santainya.


"Sayang kenapa jadi kamu yang marah?" Tanya Jason yang  melihat istrinya diam saja dan malah makin asyik dengan kegiatannya sekarang, yang Jason tidak tahu apa yang dilakukan istrinya itu.


"Sayang!" Rengek Jason agar istrinya berhenti mengabaikannya.


Lily yang  baru mendengar rengekan dari pria yang minim senyum itu berusaha untuk tidak tertawa.


"Baiklah jika itu yang kamu mau!" Putus Jason dengan wajah datarnya mendekat kearah Lily untuk memberikan hukuman pada istrinya yang tidak menurut.

__ADS_1


 


__ADS_2